Sulit Move On karena Dighosting? Coba Lakukan 4 Hal Ini
Kanaya Nanda Putri August 04, 2026 06:00 PM

Liputan6.com, Jakarta - Ghosting berasal dari kata “ghost” dalam bahasa Inggris, dan dimaknai sebagai bentuk penolakan sosial ketika seseorang terdekat menghilang begitu saja. Umumnya, situasi ini dialami oleh orang-orang yang berada dalam hubungan asmara. 

Pada situasi ini, polanya bisa dikenali lewat pesan dan panggilan telepon yang tidak terbalas, atau bahkan sosoknya menghilang tanpa jejak, melansir laman Verywell Mind, Selasa (4/8/2026). 

Tidak ada yang benar-benar penyebab seseorang melakukan ghosting. Menurut para ahli hubungan dan psikolog, pelaku ghosting sering menghindari situasi yang tidak nyaman. Tindakan tersebut adalah cara pasif untuk menarik diri dari hubungan. 

Bagaimana Menghadapi Situasi Tersebut? 

Ketika seseorang menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba memang menjadi tantangan. Selain butuh waktu, beberapa cara ini untuk membantu merasa lebih baik: 

1. Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Wajar jika merasa malu, menyesal, atau merasa diri tidak berharga. Namun, dighosting tidak selalu menjadi kesalahan Anda, melainkan mencerminkan perilaku orang yang melakukannya karena tidak mampu berkomunikasi secara dewasa.

2. Lepaskan Masa Lalu

Menurut Licensed Clinical Social Worker, Meredith Gordon Resnic, pengalaman dighosting sering kali membangunkan luka penolakan di masa lalu. 

“Ghosting membawa suara penolakan dari masa lalu. Hal ini menyakitkan karena memicu rasa sakit terdahulu,” katanya. 

Namun, itu adalah perasaan yang wajar. Resnick bilang, tidak perlu malu saat merasakan dan mengekspresikan emosi yang nyata.

 

Selanjutnya

3. Fokus Perawatan Diri

Setelah mengalami situasi tidak nyaman tersebut, cobalah lebih fokus pada diri sendiri. Anda bisa luangkan waktu bersama keluarga atau teman yang mampu mendukung, menekuni hobi, atau mencoba aktivitas yang membuat Anda merasa lebih tenang.

4. Ciptakan Ketangguhan Diri

Direktur Medis Jaringan untuk Kesehatan dan Kedokteran Integratif di Hackensack Meridian Health, David C. Leopold, mengatakan bahwa saat pasien menghadapi tekanan emosional, dia berfokus membantunya membangun ketangguhan serta meningkatkan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Pendekatan tersebut meliputi aktivitas fisik, tidur yang cukup, pola makan sehat, mengurangi stres melalui meditasi untuk menemukan makna dan tujuan hidup.

"Penelitian menunjukkan bahwa berfokus pada makna dan tujuan hidup dapat meningkatkan kadar oksitosin sehingga memperkuat rasa keterhubungan dan memperbaiki suasana hati."

Leopold pun menyarankan agar pengalaman tersebut dijadikan kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri dan membangun ketangguhan menghadapi hubungan selanjutnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.