John Gustaff
Gryfid Talumedun August 04, 2026 07:22 PM

 

BULAN Agustus tiba, bulan kemerdekaan. 

Saya baru sadar ini sudah Agustus saat Kepala Lingkungan (Pala) meminta warga memasang bendera merah putih. 

Saya pun segera mencari bendera di rumah.

Sialnya, yang ketemu malah bendera Inggris - sisa-sisa euforia Piala Dunia 2026 yang lalu. 

Baca juga: 3 Fakta Penangkapan Pria Terlibat Penganiayaan di Bahu Manado: Berawal dari Cekcok Tempat Usaha

Terpaksa, saya pergi mencari bendera merah putih di Pasar 45.Sembari membeli bendera seharga Rp 25 ribu, saya menyempatkan diri mewawancarai sang penjual. 

Pengakuannya sungguh bikin miris. Ternyata, warga belakangan ini jauh lebih antusias membeli bendera Piala Dunia ketimbang bendera kebangsaan sendiri. Wah, wah.

Saya pernah membaca buku War and Peace karya Leo Tolstoy.

Satu hal yang mempesona saya dari buku itu adalah teori Tolstoy yang menentang "teori orang hebat".

Teori yang cenderung mengagungkan tokoh besar seperti Napoleon sebagai penggerak tunggal sejarah. 

Bagi Tolstoy, sejarah bukanlah hasil dari perintah satu orang penguasa. 

Sejarah adalah akumulasi dari jutaan keputusan dan tindakan acak orang-orang kecil yakni prajurit, petani, dan rakyat biasa yang sering kali tidak tercatat oleh sejarawan.

Merenungkan Tolstoy di bulan kemerdekaan ini membuat saya sadar. 

Ada banyak pejuang besar dalam narasi sejarah Indonesia. 

Namun, jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tercatat dalam buku sejarah, padahal sesungguhnya mereka sangat berjasa. 

Perjuangan mereka turut menentukan arah sejarah bangsa. 

Mereka adalah pahlawan tak dikenal, yang darahnya turut menebus bangsa ini dari penjajahan.

Salah satunya mungkin adalah John Gustaff. 

John terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di berbagai palagan. 

Salah satunya adalah palagan di Sulawesi Selatan saat gerombolan pemberontak bergolak.

Leo, putra dari John Gustaff, menceritakan bahwa ayahnya awalnya bergabung di divisi intelijen TNI. 

John menyamar sebagai pedagang Tionghoa di salah satu wilayah di Sulawesi Selatan. 

Penyamaran ini berhasil, mungkin karena rupa orang Minahasa yang mirip dengan kulit putih dan mata agak sipit. 

Salah satu tugas John adalah memata-matai aktivitas musuh sembari memberikan analisis situasi kewilayahan, mirip dengan teori SWOT modern.

Kata Leo, sering kali ada orang yang berpura-pura bertamu untuk menerima informasi rahasia dari John. 

Kadang, tamu tengah malam datang dan dijamu John dengan informasi intelijen yang krusial.

Namun, bagian paling menyedihkan adalah saat jenazah anggota TNI yang merupakan teman dekat John digotong di depan rumahnya. 

Demi menjaga penyamaran, John harus berpura-pura cuek dan bersikap tidak kenal.

Bahkan, ia mungkin harus tertawa untuk meyakinkan orang-orang di sekitar bahwa ia hanyalah seorang pedagang Tionghoa biasa.

"Setelah itu ayah masuk kamar dan menangis sejadi-jadinya. Saya bisa mengerti bagaimana perasaannya melihat jenazah teman baik dan harus pura-pura tidak mengenalnya. Itu sesuatu yang sangat menyakitkan hati, tapi harus dijalani demi republik," kenang Leo.

John lantas pindah palagan dan menjadi kombatan. Leo ingat betul ayahnya memiliki senjata Sten dan sejak itu menjadi jarang di rumah. 

Kedatangan sang ayah tidak pernah tentu; bisa beberapa hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sekali. 

John selalu datang pada malam hari secara sembunyi-sembunyi, memeluk dan mencium ibu serta anak-anaknya, lalu pergi lagi.

Leo mengingat, begitu ayahnya pergi, suara tembak-menembak langsung pecah di luar rumah. 

Dalam ketakutan, mereka hanya bisa berdoa agar sang ayah tidak tertembak.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, John membekali mereka sebuah pistol beserta lima butir peluru.

Peluru itu disediakan untuk ibunya, Leo, serta tiga saudaranya. 

"Jika musuh tahu penyamaran kami dan kehormatan kami mau diambil, Kehormatan dan harga diri lebih penting. Kami semua siap mati untuk bangsa ini," kata Leo menirukan prinsip waktu itu.

Dalam keadaan ditinggal sang ayah, Leo yang menderita asma akut kerap mengalami anfal.

Beberapa kali ia nyaris menjemput ajal, bahkan pernah sampai pada tahap doa penyerahan. 

Di saat-saat kritis itulah sang ibu tampil menjadi pahlawan.

Ibunya menggendong Leo berjalan kaki menuju rumah sakit melewati jalanan yang dijaga ketat oleh gerombolan pemberontak. 

Dengan keberanian luar biasa, sang ibu menerobos barisan penjagaan demi menyelamatkan anaknya. 

Puji Tuhan Yesus, meski sering dihadang, mereka selalu lolos karena gerombolan itu merasa kasihan melihat kondisi Leo yang sudah sekarat.

Berdasarkan cerita John kepada anaknya, suasana kejuangan pada masa itu terasa sangat kental.

Semua orang dari suku dan agama apa pun memiliki satu tujuan yang sama: mempertahankan NKRI.

"Saat itu kami bahkan tidak tahu agama masing-masing. Kami baru tahu setelah ada yang gugur, karena di makamnya dipasang salib atau replika masjid. Kita semua Indonesia, tidak ada yang mempersoalkan asal-usul dan agama kita. Itu cerita ayah saya," tutur Leo.

John adalah Opa saya, dan Leo adalah ayah saya. Saya ingat betul bagaimana Opa mendidik kami untuk menjadi manusia yang "Merah Putih". 

Kami semua wajib berdiri tegak setiap kali lagu Indonesia Raya berkumandang di radio atau televisi.

Opa juga merupakan seorang Penatua, Sekretaris jemaat, sekaligus pendiri salah satu gereja besar di Manado. 

Saat berkhotbah di mimbar, Opa kerap menggelorakan semangat kebangsaan: 100 persen Merah Putih, 100 persen Calvinisme. 

Khotbahnya disampaikan dengan bahasa Indonesia yang fasih, diselingi sedikit istilah bahasa Belanda. 

Didikan itulah yang membentuk cara pandang saya hingga hari ini.

Di bulan Agustus ini, sebenarnya ada banyak alasan untuk merasa kecewa pada bangsa ini. 

Ada banyak alasan untuk memilih pindah ke Belanda saja, kebetulan ada banyak keluarga di sana dan kehidupan tampak jauh lebih cerah.

Namun, mengingat kembali perjuangan Opa, saya merasa harus tetap berdiri tegak di bawah bendera Merah Putih, meski kadang dada ini terasa sesak. (Arthur Rompis)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.