Debit Mata Air Kali Krasak Menyusut,  Ratusan Keluarga di Kemirikebo Turi Sleman Krisis Air Bersih
Muhammad Fatoni August 04, 2026 06:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Debit Mata Air Kali Krasak di wilayah Kemirikebo, Kalurahan Girikerto, Turi, Kabupaten Sleman menyusut drastis sejak akhir Juli lalu akibat kemarau panjang.

Hal ini memicu krisis air bersih bagi ratusan di wilayah setempat.

Warga memberlakukan sistem giliran aliran air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mengandalkan droping air bersih. 

"Debit air menyusut sejak 23 Juli 2026 karena kemarau panjang. Warga yang terdampak 175 KK (kepala keluarga), 600 jiwa, sudah droping air melalui Kalurahan Girikerto," kata Carik Kalurahan Girikerto, Krisna Cahyana, Selasa (4/8/2026). 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman juga telah berencana mendistribusikan droping air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan berdasarkan data asesmen darurat,peristiwa kekurangan air bersih di Kemirikebo ini resmi dilaporkan pada Selasa (4/8/2026). 

Menurutnya, sejak tanggal 23 Juli 2026 debit dari mata air Kali Krasak mengalami penyusutan signifikan. 

Akibatnya, pasokan air untuk keperluan sehari-hari warga berkurang drastis.

Sistem Giliran

Untuk menyiasati kondisi tersebut, pengelola Pamsimas setempat menerapkan sistem giliran aliran air.

Pada pagi hari air dialirkan untuk RT 2 dan RT 4. Sementara sore hari dialirkan untuk RT 1 dan RT 3.

​Berdasarkan asesmen BPBD Sleman, krisis air bersih ini berdampak pada 175 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar ratusan jiwa di wilayah tersebut.

Baca juga: Kreatif, Warga Ledoksari Sleman Gotong Royong Sulap Limbah Plastik Jadi Dekorasi 17-an Menarik

Hari ini sebenarnya sempat ada bantuan droping air bersih, akan tetapi karena armada tangki sudah lama tidak digunakan, kondisi air yang disalurkan menjadi keruh dan akhirnya ditempatkan di kelompok ternak warga. 

"Kebutuhan air bersih harian warga diperkirakan mencapai 15.000 liter per hari," terang Bambang.

Pihak BPBD bersama masyarakat juga telah membangun bronjong atau tanggul untuk menahan tebing di sekitar lokasi air mengalir. 

Distribusi Air Bersih dari BPBD Sleman

Sebelum kejadian di Kemirikebo ini, BPBD Sleman juga telah memproses sejumlah pendistribusian air bersih akibat berbagai kendala infrastruktur dan cuaca di beberapa wilayah.

Antara lain, pada bulan April distribusi air bersih disalurkan ke Girikerto akibat dampak tebing longsor. Jumlah air yang disalurkan 4 rit dengan volume mencapai 20.000 liter. 

Selanjutnya pada bulan Juli 2026, droping air bersih didistribusikan ke Kalurahan Sumbersari, Moyudan karena pompa dan pipa Pamsimas tersumbat lumpur.

Jumlah yang disalurkan 5 rit dengan volume air 25.000 liter.

Bambang mengungkapkan, di musim kemarau panjang ini, pihaknya telah melakukan pemetaan dan ada disebut beberapa wilayah di Kabupaten Sleman yang rawan mengalami bencana kekeringan. 

"Lokasi- lokasi yang dalam pantauan kami yang rawan kekeringan adalah kecamatan Turi, Tempel dan Minggir. Ini yang paling rawan," ujar Bambang.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.