Iran Klaim Tembak Jatuh Drone MQ-9 Reaper AS di Selat Hormuz, Trump Beri Peringatan Terakhir
Faisal Zamzami August 04, 2026 08:22 PM

 

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran setelah rangkaian aksi militer yang berlangsung pada 8–24 Juli. Dalam periode tersebut, Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.

Sebagai respons, Iran mengklaim melakukan serangan balasan terhadap fasilitas dan aset militer Amerika Serikat di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Baca juga: Iran Klaim Tembak Jatuh Drone Reaper AS di Selat Hormuz saat Trump Beri Peringatan Terakhir

Trump Dorong Perundingan, Sebut Iran Menghadapi Kesempatan Terakhir

Di tengah munculnya klaim penembakan drone tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran kembali melakukan pembicaraan untuk mencari jalan keluar dari konflik yang berlangsung.

Trump mengatakan perundingan itu berlangsung atas permintaan Iran dengan dukungan sejumlah negara kawasan, terutama Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.

“Kami sedang berbicara. Dan kami berbicara atas permintaan Iran, didukung Arab Saudi, UEA, dan khususnya Qatar,” ujar Trump saat berbicara di Gedung Putih, seperti dikutip Euronews.

Trump juga menyampaikan peringatan keras bahwa Iran memiliki kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan damai sebelum menghadapi kemungkinan tindakan militer besar dari Amerika Serikat.

Menurut Trump, pembicaraan tahap awal akan berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Setelah itu, pembahasan akan diarahkan pada isu program nuklir Iran.

“Kami berbicara mengenai Selat Hormuz, membukanya kembali, benar-benar terbuka secepatnya. Itu fase pertama. Fase kedua adalah membahas kapasitas nuklir. Denuklirisasi Iran harus terjadi,” katanya.

Baca juga: Iran dan AS di Ujung Tensi Baru, Klaim Negosiasi Trump Dibantah Teheran: Selat Hormuz Tetap Ditutup

Iran Bantah Ada Negosiasi Langsung dengan AS

Meski Trump menyebut adanya pembicaraan antara kedua negara, Iran membantah bahwa telah terjadi negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan komunikasi yang berlangsung saat ini hanya melibatkan pihak Oman dan berfokus pada upaya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak sedang melakukan perundingan langsung dengan Washington dan menilai pernyataan mengenai negosiasi tersebut sebagai bagian dari tekanan politik terhadap Teheran.

Sebelumnya, Trump juga mengklaim telah membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran pada Sabtu (1/8/2026) setelah disebut telah tercapai kerangka awal kesepakatan. Namun, pihak militer Iran membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai pernyataan yang bertujuan memengaruhi negara-negara di kawasan Teluk Persia.

Baca juga: VIDEO - Iran Batal Serang Ukraina setelah Kyiv Minta Maaf, Tiga Target Sudah Disiapkan

Selat Hormuz Kembali Menjadi Pusat Ketegangan

Selat Hormuz kembali menjadi titik utama dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui jalur laut dilaporkan melewati kawasan ini, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat berdampak besar terhadap pasar energi global.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran menutup akses Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Washington dan Teheran sempat mencapai nota kesepahaman pada Juni sebagai langkah awal menuju kesepakatan yang bertujuan mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Namun, proses tersebut tidak berkembang setelah kedua pihak kembali terlibat dalam aksi saling serang.

Dengan meningkatnya ketegangan militer dan munculnya klaim terbaru terkait jatuhnya drone MQ-9 Reaper, situasi di kawasan Teluk Persia kembali menjadi sorotan internasional. Banyak pihak kini menunggu respons resmi Amerika Serikat serta perkembangan diplomasi antara kedua negara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.