Kebiasaan Membakar Sampah di Pemukiman Bisa Picu Iritasi dan Risiko Kanker
Choirul Arifin August 04, 2026 09:36 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebiasaan membakar sampah di halaman rumah atau lahan kebun masih banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia. 

Padahal, asap hasil pembakaran tersebut bukan sekadar mengganggu tetangga, tetapi juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan saluran pernapasan.

Dokter spesialis paru sekaligus pakar infeksi pernapasan, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), mengingatkan paparan asap pembakaran sampah secara terus-menerus dapat memicu iritasi saluran napas.

Selain itu, juga bisa memperberat penyakit paru yang sudah ada, hingga meningkatkan risiko kanker. Menurutnya, masyarakat sering menganggap asap pembakaran sampah sebagai hal yang biasa karena dilakukan di lingkungan rumah sendiri. 

Padahal, paparan asap tersebut tetap mengandung berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh.

Asap Pembakaran Sampah Bisa Picu Iritasi Saluran Napas

Prof Erlina menjelaskan, asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah maupun pembakaran di lahan dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan.

Iritasi tersebut dapat berkembang menjadi peradangan sehingga menimbulkan keluhan seperti batuk yang berkepanjangan.

Hal ini diungkapkan usai diskusi Pengembangan AI untuk Deteksi Dini Tuberkulosis Melalui Pembacaan Hasil Rontgen Dada untuk Daerah Terpencil di Indonesia yang diselenggarakan KONEKSI.

Baca juga: 6 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memakai Retinol, Biar Kulit Tak Iritasi

"Kalau orang bakar-bakar asap, sampah segala macam itu lebih ke arah mudah terjadi iritasi di seluruh nafas. Jadi gak bahaya untuk orang tua karena akan jadi iritasi. Dan iritasi itu kemudian jadi inflamasi, radang. Kalau ada radang di seluruh nafas kan batuk-batuk," ujarnya di Jakarta, Selasa (4/8/2026). 

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan kebiasaan membakar sampah, terutama jika dilakukan hampir setiap hari di sekitar lingkungan tempat tinggal.


Bisa Memperburuk Asma dan PPOK

Dampak asap pembakaran tidak hanya dirasakan oleh orang yang sehat. Bagi penderita penyakit paru kronis, kondisinya justru bisa menjadi lebih berat.

Prof Erlina mengatakan asap dapat memicu kekambuhan pada penderita asma serta memperparah keluhan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Baca juga: Mata Anak Mudah Iritasi? Kenali Epiblepharon, Kelainan Mata yang Intai Anak Obesitas

Menurutnya, saluran napas yang sudah sensitif akan lebih mudah bereaksi ketika terpapar asap dalam jumlah besar maupun berulang.

Kondisi ini membuat penderita lebih sering mengalami sesak napas, batuk, hingga membutuhkan pengobatan.

Paparan Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Kanker

Selain mengganggu saluran napas, Prof Erlina mengingatkan bahwa zat hasil pembakaran juga memiliki sifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker apabila terpapar dalam waktu lama.

"Dan zat hasil pembakaran kalau terus-menerus itu juga karsinogen. Bisa ke kanker, keganasan gitu ya? Bisa, tapi memang saya ingin kasih tau juga bahwa kanker itu tidak satu faktornya. Banyak," katanya.

Ia menjelaskan, kanker tidak muncul hanya karena satu penyebab. Ada banyak faktor yang saling memengaruhi, mulai dari faktor genetik, paparan zat kimia, hingga kebiasaan merokok.

Meski demikian, paparan asap pembakaran tetap menjadi salah satu faktor yang sebaiknya dihindari untuk menjaga kesehatan paru.

Vape Juga Bukan Pilihan yang Aman

Dalam kesempatan yang sama, Prof Erlina juga meluruskan anggapan bahwa rokok elektronik atau vape sepenuhnya aman bagi kesehatan paru.

Menurutnya, meski sebagian orang menganggap vape lebih ringan dibanding rokok konvensional, bukan berarti penggunaannya bebas risiko.

"Tadi, nge-vape itu sebetulnya tetap berbahaya, jangan sampai mengatakan bahwa vape itu aman. Tidak betul, tapi mungkin tidak seberbahaya rokok konvensional, ya, tapi bukan berarti tidak bahaya,"tegasnya. 

Lebih lanjut prof Burhan menjelaskan jika Vape tetap berbahaya karena banyaknya kandungan zat kimia. 

"Zat-zat kimia ini juga mempengaruhi saluran nafas. Dan bisa juga merusak sistem pertahanan dalam hidup, sistem respirasi," jelasnya.

Karena itu, Prof Erlina mengimbau masyarakat untuk mengurangi berbagai paparan yang dapat merusak paru, baik dari asap rokok, vape, maupun asap pembakaran sampah dan lahan.

Menurutnya, menjaga kualitas udara yang dihirup setiap hari merupakan salah satu langkah sederhana tetapi penting untuk melindungi kesehatan saluran pernapasan dalam jangka panjang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.