KKT Bencoolen Jelaskan Asal-usul Penja Tabut Imam Senggolo di Bengkulu
Hendrik Budiman August 04, 2026 10:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Ketua Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen Bengkulu, Achmad Syiafril, mengungkap sejarah panjang Penja Tabut Imam Senggolo yang telah diwariskan lintas generasi sejak abad ke-18.

Menurut Achmad, pemahaman mengenai Tabut selama ini perlu diluruskan. Tabut bukan peti atau wadah untuk mengangkut dan menyimpan jenazah. 

Dalam sejarah dan tradisi Tabut, benda tersebut memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perjuangan melawan kezaliman.

Istilah tabut memiliki sejarah panjang. Dalam kisah Nabi Musa AS, tabut dikaitkan dengan wadah yang digunakan untuk menyelamatkan Nabi Musa ketika masih bayi dari ancaman Fir’aun.

Dalam perkembangannya, konsep tabut juga dikaitkan dengan berbagai peristiwa dalam sejarah Islam.

Karena itu, menurut Achmad, Tabut Bengkulu lebih tepat dipahami sebagai simbol perjuangan dan perlawanan terhadap kekejaman.

“Tabut itu bukan untuk mengangkut orang mati, bukan untuk menyimpan orang mati. Tabut itu simbol, simbol melawan kekejaman,” ujar Achmad saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (4/8/2026).

Ia kemudian menjelaskan mengenai asal-usul Penja Tabut Imam Senggolo yang memiliki garis pewarisan panjang.

Penja pertama kali dipegang oleh Syekh Burhanuddin Imam Senggolo generasi ke-12 yang hidup pada 1756–1849. 

Baca juga: Lomba Kebudayaan Antar Sekolah Jadi Agenda Semarak HUT Ke-81 RI di Bengkulu Selatan

Ia tercatat sebagai pemegang Penja pada 1781 hingga 1808. Pada 1809, Penja kemudian diserahkan kepada Gholam Achmad bin Imam Senggolo.

Gholam Achmad yang hidup pada 1791–1870 memegang Penja hingga 1838.

Setahun kemudian, pada 1839, Penja diserahkan kepada Nurlela binti Imam Senggolo yang menjadi pemegang hingga 1869.

Pada 1870, Penja kemudian berpindah kepada Haji Muhammad Thaher yang lahir pada 1843 dan wafat pada 1929.

Haji Muhammad Thaher memegang Penja hingga 1900. Pada masa kepemimpinannya, tradisi Tabut Bengkulu juga mulai mendapat perhatian luas. 

Salah satunya tercatat dalam buku berjudul Het Hasan-Hosein of Taboet-Feest te Benkoelen yang diterbitkan pada 1888 dan tersimpan di perpustakaan Asia-Pacific Leiden, Belanda.

Setelah Haji Muhammad Thaher, Penja diserahkan kepada Djakfar pada 1901. Djakfar yang lahir pada 1875 dan wafat pada 1937 merupakan anak tertua Haji Muhammad Thaher.

Selanjutnya, Penja diwariskan kepada Abdul Kader pada 1931. Abdul Kader merupakan anak keempat Haji Muhammad Thaher dan memegang Penja hingga 1950.

Pada 1950, Penja kemudian diserahkan kepada Abdulrahman yang merupakan anak tertua Djakfar. Abdulrahman menjadi pemegang Penja hingga 1964.

Tahun 1965, Penja berpindah kepada Said Zakaria. Ia memegang Penja hingga 1981 sebelum kemudian diserahkan kepada Abdul Rani Kader.

Abdul Rani Kader merupakan anak Abdul Kader bin Haji Muhammad Thaher. Ia lahir pada 1935 dan wafat pada 2010. Abdul Rani menjadi pemegang Penja sejak 1981.

Namun, ketika Abdul Rani Kader ditugaskan di Kejaksaan Agung di Jakarta, pengelolaan Penja untuk pelaksanaan Tabut dipercayakan kepada Muhammad Idris, seorang pembuat bangunan Tabut yang sebelumnya juga sering membantu Said Zakaria.

Muhammad Idris kemudian wafat pada 22 April 1991.

Menurut Achmad, setelah wafatnya Muhammad Idris terjadi persoalan dalam pelaksanaan Tabut pada 1991. Penja yang biasa digunakan dalam pembuatan Tabut Imam dan Tabut Kampung Batu sempat hendak dibuang oleh Syaiful Idris.

Namun, setelah mendapatkan nasihat dari Abdul Hadi bin Zakaria bin Haji Muhammad Thaher, Penja tersebut akhirnya dikembalikan.

Penja kemudian berada di tangan Abdul Latif bin Abdul Kader yang menjadi pemegang Penja pada 1991 hingga 1994.

Selanjutnya, pada 11 Juni 1994, Penja Tabut Imam Senggolo diserahkan kepada Achmad Syiafril oleh Abdul Rani Kader dan Abdul Latif Kader.

Sejak saat itu, Achmad Syiafril menjadi pemegang Penja Imam Senggolo hingga sekarang.

Garis pewarisan tersebut menunjukkan bahwa Penja Tabut Imam Senggolo bukan sekadar benda tradisi, tetapi memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan keluarga, ulama, serta keberlangsungan tradisi Tabut di Bengkulu.

“Ini bukan sekadar benda. Ada sejarah dan ada amanah yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Ia berharap sejarah tersebut dapat terus didokumentasikan agar masyarakat, khususnya generasi muda Bengkulu, memahami bahwa Tabut memiliki nilai sejarah dan budaya yang panjang.

Bagi masyarakat Bengkulu, Tabut bukan hanya rangkaian kegiatan budaya tahunan, melainkan bagian dari identitas sejarah yang telah berkembang dan diwariskan selama ratusan tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.