Liputan6.com, Jakarta - "In this economy" menjadi kalimat yang sering terdengar belakangan ini. Melemahnya daya beli akibat ketidakpastian ekonomi membuat kebanyakan orang berpikir dua kali sebelum mengeluarkan uang.
Di sisi lain, pemasukan ekstra menjadi lebih dihargai. Apalagi jika jumlahnya besar seperti Piala Presiden.
Menjanjikan hadiah berlimpah dengan 'hanya' melakoni kurang dari 10 pertandingan, tergantung jumlah peserta yang dilibatkan, Piala Presiden sudah menjadi sumber pendapatan alternatif bagi klub sepak bola untuk menyambung nyawa.
Sebagai perbandingan, pemenang BRI Super League 2025/2026 mendapat Rp 10,5 miliar dengan jumlah pertandingan mencapai 34 kali.
Untuk edisi 2026, panitia turnamen pramusim ini semula menyediakan Rp 6 miliar bagi juara. Namun, nominal bertambah menjadi Rp 8 miliar seiring bertambah dan meningkatnya kepercayaan sponsor.
Pada jumpa pers jelang semifinal di Surabaya, Minggu (2/8/2026), Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026 Maruarar Sirait menyatakan pendapatan dari sponsor sudah mencapai Rp 70 miliar.
"Juara pertama, hadiahnya tadinya Rp 6 miliar. Hari ini di Kota Pahlawan yang luar biasa, dibawah pimpinan adik saya Pak Eri Cahyadi, kita naikkan juara Piala Presiden tahun 2026 dari Rp 6 miliar menjadi Rp 8 miliar," kata Maruarar Sirait, yang juga menjabat Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tersebut.

Bukan cuma klub sepak bola, Piala Presiden turut memberi kesempatan bagi pelaku untuk mendapat pemasukan ekstra. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bisa meraup keuntungan dengan memasarkan produk masing-masing di lokasi pertandingan.
Panitia mencatat nilai transaksi UMKM mencapai Rp 1,3 miliar hingga berakhirnya putaran grup. Angka tersebut muncul dengan antusiasme penonton yang datang langsung ke stadion.
Rata-rata jumlah penonton yang hadir di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, tempat berlangsungnya persaingan Grup A mencapai 23 ribu orang per pertandingan. Sementara di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, lokasi Grup B, rata-rata suporter menyentuh 30 ribu orang.
"Alhamdulillah Piala Presiden tahun ini, selain rating yang tinggi, penonton di stadion juga luar biasa antusias. Hal itu berdampak secara ekonomi kepada UMKM, baik di Bandung maupun Surabaya. Total transaksi sejak kick-off pada 25 Juli, sudah mencapai Rp 1,3 miliar," ujar anggota Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026 Tsamara Amany.
"Kami berharap Piala Presiden bukan hanya menghadirkan hiburan bagi rakyat, tetapi juga membawa dampak ekonomi yang jelas bagi masyarakat di kota-kota tempat turnamen berlangsung."
"Harapannya, UMKM yang sudah berkembang maupun yang baru merintis bisa sama-sama mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan Piala Presiden," tutur Tsamara.
Jumlah tersebut sebenarnya bisa bertambah menyusul terciptanya dua partai klasik di semifinal: Persib Bandung vs Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya vs Arema FC.
Sayang, sisi lain dari rivalitas suporter memaksa panitia menutup pintu Stadion Kapten I Wayan Dipta, venue semifinal dan final Piala Presiden 2026. “Keamanan adalah pertimbangan nomor satu karena keselamatan dan keamanan itu penting sekali,” kata Maruarar Sirait.
Dua pertandingan tersebut pun berjalan lancar. Persib Bandung meredam kebangkitan Persija Jakarta lewat kemenangan 2-1. Sedangkan Persebaya Surabaya membekuk Arema FC 1-0.
Persib dan Persebaya selanjutnya bersua pada perebutan gelar juara di I Wayan Dipta pada Kamis (6/8/2026). Meski laga ini juga masuk kategori rawan, panitia berharap suporter bisa hadir langsung ke stadion untuk mendukung tim masing-masing.

Tidak banyak klub yang mau terbuka membicarakan biaya operasional dalam satu musim kompetisi. Owen Rahadian, Presiden Direktur PT Nusantara Cenderawasih Karsa (NCK) selaku operator Persipura Jayapura, sedikit memberi gambaran pada wawancara dengan salah satu media swasta nasional. Dia menyebut anggaran bisa mencapai Rp 8-20 miliar, tergantung ambisi klub tersebut.
Mereka yang mendapat kehormatan ambil bagian di Piala Presiden bisa menutup sebagian pengeluaran tersebut jika meraih prestasi pada ajang pramusim tersebut. Mereka bahkan dapat mengubah target menjadi lebih tinggi di musim reguler karena adanya tambahan pendapatan. Jika tidak, klub setidaknya bisa makin fleksibel dalam beroperasi karena kondisi finansial terjamin.
Arema FC sudah menjuarai empat edisi Piala Presiden. Mereka kemudian menggunakan hadiah yang diterima untuk mengarungi kompetisi reguler.
Persija Jakarta melakukan langkah spektakuler. Hadiah yang dikantongi usai menjuarai Piala Presiden 2018 digunakan sebagai bekal menuju takhta Indonesia tahun yang sama.
Begitu pula Port FC, klub tetangga yang diundang dan kemudian menguasai turnamen edisi 2025. Mereka kemudian memakai hadiah Piala Presiden demi memperbaiki kondisi skuad sehingga bisa menjadi runner-up Thailand 2025/2026, naik dari peringkat lima musim sebelumnya.
Potensi pemasukan besar inilah yang mendorong peserta Piala Presiden agar serius dalam melakoni pertandingan. “Tidak ada pertandingan persahabatan ketika Anda bermain demi gengsi dan ketika Anda bermain demi uang,” tandas pelatih Persib Bandung Igor Tolic.