TRIBUNTRENDS.COM - Kematian dokter muda Alex Cristo Loris (30), peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi di RSUD Tengku Rafian Siak, akhirnya menemukan titik terang setelah penyelidikan yang dilakukan Polres Siak, Riau.
Hasil penyelidikan menyimpulkan bahwa dokter Alex meninggal dunia akibat tindakan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.
Korban diketahui mengakhiri hidup dengan menggunakan suntik mati, memanfaatkan pengetahuan medis yang dimilikinya sebagai residen anestesi.
Polisi menyebut tidak ditemukan indikasi keterlibatan pihak lain dalam peristiwa tersebut.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Siak, AKP Raja Kosmos Parmulais, menjelaskan bahwa penyidik telah melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengungkap penyebab kematian korban.
Selain olah tempat kejadian perkara, penyidik juga melibatkan pemeriksaan psikologi forensik guna mendalami kondisi kejiwaan korban sebelum meninggal.
"Hasil pemeriksaan psikologi forensik, menunjukkan bahwa korban diduga mengalami tekanan psikologis yang dipicu oleh akumulasi berbagai persoalan," kata Kosmos kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Selasa (4/8/2026) malam.
Baca juga: Pilu Nasib Istri Dokter Alex Christo, Postingan Foto di IG Jadi Kenangan, Dibanjiri Ucapan Duka
Menurut hasil pemeriksaan tersebut, tekanan yang dialami korban diduga berasal dari berbagai aspek kehidupan yang saling bertumpuk.
Korban disebut menghadapi persoalan finansial yang cukup berat di tengah perjalanan pendidikan spesialis yang dijalaninya.
Di saat yang sama, tuntutan akademik selama menjalani program PPDS juga menjadi beban tersendiri.
Tanggung jawab terhadap keluarga turut memperbesar tekanan psikologis yang dirasakan korban.
Sebagai dokter yang menempuh pendidikan spesialis anestesi, korban memiliki akses terhadap berbagai obat anestesi yang digunakan dalam praktik medis.
Pengetahuan dan akses tersebut dinilai menjadi faktor yang memudahkan korban menjalankan aksinya.
Untuk melengkapi proses penyelidikan, polisi turut memeriksa perangkat komunikasi milik korban.
Pemeriksaan terhadap telepon seluler dilakukan guna memastikan seluruh rangkaian peristiwa dan memperkuat kesimpulan penyidik terkait kasus tersebut.
Dalam handphone korban ditemukan pesan yang belum sempat terkirim kepada istrinya, YM (31).
"Maaf sayang, aku udah enggak tertolong lagi" tulis pesan korban.
"Selain itu, ditemukan riwayat keluhan mengenai utang pinjaman online, indikasi aktivitas penggunaan uang yang berlebihan untuk suatu kegiatan, serta catatan pribadi yang masih terkunci menggunakan sistem keamanan perangkat," sebut Kosmos.
Alex seorang dokter yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Residen Anestesi di RSUD Tengku Rafian Siak.
Korban merupakan warga asal Jalan Air Kabur Atas, Kelurahan Wailola, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Siak, AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan, mayat korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 11.30 WIB.
Saat itu, dua petugas keamanan rumah sakit bersama seorang sopir ambulans, melakukan penyisiran di area semak belukar, yang sebelumnya menjadi titik terakhir keberadaan korban berdasarkan rekaman kamera CCTV.
Baca juga: Alex Cristo, Jenazah Dokter PPDS Ditemukan di Semak-semak RSUD Tengku Rafian, Baru Seminggu Kerja
"Korban sebelumnya dilaporkan tidak dapat dihubungi sejak, Senin (13/7/2026) sekitar pukul 17.30 WIB," ujar Kosmos kepada wartawan melalui pesan WhatsApp, Selasa.
Istri korban, dr YM (31), yang juga bertugas dan tinggal di asrama RSUD Tengku Rafian, sempat berusaha menghubungi telepon genggam suaminya, namun tidak aktif.
Merasa khawatir, ia kemudian mencari korban di lingkungan rumah sakit dan menanyakan keberadaannya kepada rekan-rekan sejawat. Namun, tidak seorang pun yang mengetahui keberadaan dokter tersebut.
Pencarian dilakukan dengan memeriksa rekaman CCTV rumah sakit.
Dari hasil pemeriksaan, korban terakhir kali terlihat berjalan seorang diri keluar dari area RSUD melalui pintu depan Pos Security II menuju arah luar rumah sakit.
Hingga Selasa pagi korban belum juga ditemukan. Tiga orang saksi kemudian berinisiatif menyisir area semak di luar pagar rumah sakit.
Seorang petugas keamanan memanjat pagar pembatas untuk melihat ke arah luar, korban ditemukan dalam posisi terlentang dan sudah tidak bernyawa di tengah semak belukar.
Mayat korban ditemukan sekitar 5 meter dari pagar pembatas rumah sakit atau sekitar 30 meter dari tepi Jalan Raja Kecik.
Di lokasi juga ditemukan sebuah tas sandang berwarna hitam yang diduga milik korban.
"Setelah mendapat laporan, petugas langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memasang garis polisi, serta mengamankan sejumlah barang bukti," kata Kosmos.
Adapun, barang bukti yang diamankan di antaranya tas sandang berisi sejumlah alat medis, dompet, telepon genggam, serta kartu identitas (ID Card) RSUD Tengku Rafian Siak milik korban.
Kosmos menyebut, pihaknya masih melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kematian dokter residen tersebut.
Kontak bantuan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.
Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini: https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Catatan redaksi:
Depresi hingga keinginan bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja. Segera konsultasi dengan profesional jika Anda mengalami masalah kesehatan mental.
Kontak bantuan:
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
(TribunTrends/Kompas)