TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Puluhan perupa dari berbagai daerah, komunitas, dan lintas genre terlibat melukis bersama on the spot di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Bangli, pada Senin (3/8).
Kegiatan ini dalam rangka memperingati 100 Tahun Rarud Batur yang digelar serangkaian Batur Village Festival.
Para perupa merespons berbagai sudut Pura Ulun Danu Batur dan Desa Adat Batur.
Baca juga: Kondisi Air Danau Batur BALI Berangsur Pulih, Kematian Ikan Tembus 37,1 Ton dan Kerugian Rp1 Miliar
Kegiatan dibuka di Madya Mandala Pura Ulun Danu Batur oleh Jero Penyarikan Duuran Batur dan Jero Penyarikan Alitan Batur dengan simbolis melukis di atas kanvas.
Dane Jero Penyarikan Duuran Batur, mewakili Palinggih Dane Jero Gedep Duhuran Batur mengatakan, peristiwa Rarud Batur yang terjadi pada 100 tahun lalu sebagai peristiwa historis yang kaya akan nilai. Salah satunya adalah nilai-nilai kolaborasi.
“Oleh karena itulah kami turut mengajak para perupa untuk berkolaborasi bersama pada kegiatan 100 Tahun Rarud Batur. Melalui bidang-bidang kanvas dan keterampilan perupa, citra Batur akan didokumentasikan semakin baik dan lintas media. Bukan hanya dalam pergelaran, buku, atau citra visual kontemporer,” katanya, Selasa (4/8).
Ia menjelaskan, seni rupa sebagai satu kesenian yang sangat lekat dengan nilai-nilai ngayah.
Baca juga: BUPATI Karangasem Gus Par Dorong Pemanfaatan Air Danau Batur untuk Hidupkan Pertanian Bawang di Kubu
“Dahulu pura adalah media para seniman berekspresi, misalnya dalam hal bangunan, kober, dan sebagainya. Kami berupaya mengarah ke sana, salah satunya melalui melukis bersama on the spot ini,” katanya.
Salah satu peserta, Made Kenak Dwi Adnyana mengaku sangat senang dilibatkan dalam kegiatan ini.
Melalui kegiatan ini para seniman dapat merespons situs Pura Ulun Danu Batur yang adalah situs warisan dunia UNESCO dalam beragam media dan perspektif.
Ia juga berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus diadakan dan ditingkatkan sebagai ruang ekspresi perupa.
“Kami berharap kegiatan-kegiatan seperti ini tetap selalu ada, kita melakukan kolaborasi untuk mengenang maupun mengekspresikan dari sisi sejarah atau historisnya. Kita sebagai perupa memvisualisasikan dan menginterpretasikan apa yang ada di sini. Dengan demikian, kami perupa bisa menjadi bagian menjaga situs ini sebagai warisan budaya kita,” katanya.
Sementara itu peserta lainnya, Putu Julia Amanda dan Ni Kadek Desi Natalia, merasa sangat senang terlibat dalam kegiatan melukis bersama tersebut.
Melalui kegiatan ini, sebagai seniman mereka bisa berekspresi merespons Pura Ulun Danu Batur.
“Kami sangat senang bisa terlibat dalam kegiatan ini dengan merespons objek-objek di Pura Ulun Danu Batur sebagai bagian dari kegiatan 100 Tahun Rarud Batur,” kata dia.
“Selain itu kami bisa menambah relasi dan pengalaman baru, karena baru pertana melukis di sini. Terima kasih atas kesempatannya,” ujarnya. (*)