Laporan Luluul Isnainiyah dan Dya Ayu
SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Setahun setelah renovasi selesai, ditemukan kerusakan di sejumlah fasilitas Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.
Pemkab Malang belum bisa melakukan pemeliharaan Stadion Kanjuruhan karena masih menjadi wewenang Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Selepas Tragedi Kanjuruhan, Pemerintah Pusat melalui Kementerian PU merenovasi total stadion kebanggaan warga Malang pada 4 September 2023.
Sementara itu, di Kota Batu, Perumdam Among Tirto mengebut pengerjaan penyambungan jaringan pipa dari pemanfaatan sumber air di kawasan Sumber Bendo Dusun Glonggong, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.
PT Waskita Karya dipercaya sebagai kontraktor yang mengerjakan renovasi Stadion Kanjuruhan dengan anggaran sebesar Rp 357 miliar dari APBN.
Setelah dilakukan pengerjaan secara menyeluruh, renovasi rampung pada 31 Desember 2024.
Maka, perawatan atau pemeliharaan stadion masih menjadi tanggung jawab Kementerian PU. Pemkab Malang hanya sebatas penggunaan stadionnya saja.
Termasuk dengan temuan kerusakan yang dilakukan oleh anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarrok minggu lalu, pemerintah tidak bisa melakukan perbaikan.
"Stadion Kanjuruhan saat ini masih BASTO, jadi secara operasional memang sudah diserahkan ke Pemkab Malang dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora)."
"Karena belum BAST, maka secara tanggung jawab masih di Kementerian PU atau mungkin pihak ketiga yaitu PT Waskita," kata Plt Kepala Dispora Kabupaten Malang, Eko Margianto, Selasa (4/8/2026).
Eko mengatakan, kerusakan di bagian tribun ekonomi, hingga plafon yang bocor itu sudah terjadi sejak tahun kemarin.
Tak tinggal diam, pada Mei 2025 Dispora sudah bersurat ke Kementerian PU. Bahkan, pihaknya sudah bersurat sebanyak empat kali.
"Terakhir kemarin Mei 2026 itu kami bersurat ke Kementerian PU dan kemarin viral (setelah ada sidak dari DPRD)."
"Selanjutnya, PT Waskita sudah ke stadion untuk dilakukan perbaikan," jelasnya.
Dijelaskannya, karena secara aset belum diserahterimakan ke Pemkab Malang, maka pengelolaan anggaran untuk perbaikan tidak bisa dilakukan.
Dalam klausul BASTO, apabila terjadi kerusakan akibat kelalaian pihak kesatu maka pihak kedua melaporkan.
"Kami hanya mengoperasionalkan saja, misal kayak listrik, air, itu menjadi tanggung jawab kami. Tapi kalau ada kerusakan kembali ke vendor maupun ke Kementerian PU," tuturnya.
Terpisah, Project Manager PT Waskita Karya Renovasi Stadion Kanjuruhan, Vino Pramudaya mengatakan pihaknya sudah menerjunkan tim untuk melakukan perbaikan di titik yang mengalami kerusakan. Perbaikan ini merupakan loyalitasnya untuk masyarakat Malang.
"Ini goodwill dari saya pribadi untuk masyarakat Malang karena sebetulnya kontrak kerja kami sudah berakhir Final Hand Over (FHO) di 26 Desember 2025," imbuh Vino ketika dikonfirmasi SURYAMALANG.COM.
Ia menyebutkan dalam BASTO terdapat poin yang memuat ketentuan setelah serah terima operasional Stadion Kanjuruhan pada poin 4 dan 8.
Poin 4 berisi, pihak kedua melaksanakan pengelolaan dan pemeliharaan Renovasi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang sesuai dengan fungsinya dan pihak kedua akan bertanggung jawab atas semua biaya operasional pengelolaan, perawatan dan pemeliharaan.
"Sebetulnya sesuai pasal di BASTO poin 4 dan 8 sudah beralih ke Pemkab untuk perawatan. Surat dari bupati ke PU tanggal 26 Mei 2026 itu sudah jauh lewat dari FHO," pungkasnya.
Perumdam Among Tirto mengebut pengerjaan penyambungan jaringan pipa dari pemanfaatan sumber air di kawasan Sumber Bendo Dusun Glonggong, Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
Proses penyambungan jaringan pipa dilakukan mulai Selasa (4/8/2026) malam.
Ini dilakukan sebagai langkah percepatan peningkatan pasokan air bersih untuk wilayah Kota Batu selatan yang selama ini masih mengalami kekurangan pasokan air bersih.
Direktur Perumdam Among Tirto Kota Batu, Achmad Yusuf, mengatakan pekerjaan yang berlangsung di Jalan Patimura merupakan kelanjutan dari rangkaian panjang pengembangan jaringan setelah sebelumnya dilakukan penandatanganan kerja sama dengan warga RW 7 Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu.
“Saat ini pembangunan jaringan memasuki tahap paling krusial, yakni menghubungkan pipa utama menuju sistem distribusi."
"Pekerjaan jaringan sudah kami kebut dan malam ini masuk proses koneksi pipa,” kata Achmad Yusuf kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (4/8/2026).
Yusuf menjelaskan, nantinya setelah seluruh jaringan tersambung, selama satu hingga dua hari ke depan, petugas akan melakukan uji coba untuk mendapatkan pengaturan debit dan tekanan air yang paling ideal agar distribusi berjalan maksimal.
Sehingga tahapannya tidak akan langsung mengoperasikan aliran secara penuh selama proses itu.
“Nantinya setelah pipa terkoneksi kami akan melakukan trial sekitar satu sampai dua hari terlebih dahulu."
"Proses ini kami tidak mencari debitnya, tapi setting tekanan dan aliran yang paling pas agar sumber ini bisa dimanfaatkan secara maksimal tanpa mengganggu jaringan yang sudah ada,” ujarnya.
Sementara itu terkait proses penyambungan, telah dilakukan pada hari ini dimulai sejak pukul 13.00 WIB dengan tahapan uji tekanan sebagai syarat teknis sebelum pipa benar-benar dihubungkan ke jaringan distribusi utama.
“Kami sudah memasang rambu-rambu, lampu peringatan, dan seluruh perizinan juga sudah lengkap."
"Kami juga dibantu Dishub dan kepolisian untuk pengamanan karena ada pekerjaan di badan jalan,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Gendon itu menuturkan, pemanfaatan sumber air itu menjadi solusi untuk mengatasi dua persoalan sekaligus, yakni menambah pasokan air baku sekaligus menghapus sistem distribusi bergilir yang selama ini diterapkan di sejumlah wilayah Kecamatan Batu, khususnya Kelurahan Temas.
"Dengan pemanfaatan sumber ini kami berharap layanan bergilir di wilayah selatan bisa kami hentikan secara bertahap."
"Awalnya kami buka sekitar lima liter per detik, kemudian akan kami tambah secara berkala sampai akhirnya tidak ada lagi layanan bergilir,” jelasnya.
Pihaknya juga memastikan pelanggan di Kelurahan Temas dan kawasan sekitarnya akan menjadi wilayah yang paling merasakan manfaat setelah pasokan tambahan mulai stabil.
Selain itu juga akan mendapatkan layanan penuh karena kebutuhan debitnya sudah mulai tertutupi dari pemanfaatan sumber ini.
Sedangkan terkait aliran dari Sumber Genengan akan lebih dulu masuk ke Tandon Beji sebelum didistribusikan ke sejumlah kawasan seperti Desa Beji, Desa Mojorejo, hingga Desa Pendem.
Meski kapasitas Genengan sekarang belum dimanfaatkan sepenuhnya, pihaknya optimistis tambahan debit tersebut mampu memperbaiki kualitas layanan air bersih di wilayah Selatan Kota Batu.
“Kapasitasnya memang belum seratus persen, tetapi ini sudah menjadi langkah besar untuk mengatasi persoalan layanan di wilayah Selatan."
"Setelah proses selesai, kami akan melanjutkan tahapan pengembangan berikutnya agar suplai air terus bertambah,” pungkasnya.