BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Memasuki musim kemarau, Kota Banjarbaru mengajdapi masalah cukup serius dalam bidang lingkungan. Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan sejak pertengahan Juli 2026.
Dalam beberapa waktu terakhir, karhutla terjadi hampir setiap hari di kawasan Kota Banjarbaru. Tidak hanya malam, karhutla juga beberapa kali terjadi pada malam hari.
Seperti pada Selasa (4/7/2026) malam, karhutla dilaporkan terjadi di kawasan Guntungmanggis, Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Sementara pada siang harinya, api juga sempat berkobar di lahan kawasan Guntungmanggis lainnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru, Zaini, mengatakan akibat dari karhutla, lahan yang terbakar sudah mencapai 600 hektare lebih.
Baca juga: Jaringan Narkoba Fredy Pratama Masih Mengakar, Polda Kalsel Gagalkan Peredaran 172, 4 Kg Sabu
“Dari data Posdalops kami, kurang lebih 627 hektare yang terbakar,” katanya, Selasa (4/8/2026).
Zaini mengungkapan, kecamatan Landasan Ulin menjadi wilayah yang paling terdampak karhutla di Banjarbaru pada awal musim kemarau ini.
Ia menyebut kendala pemadaman karhutla diantaranya angin yang bertiup kencang membuat api cepat melebar sehingga membuat petugas cukup kewalahan.
Selain itu, beberapa titik lahan yang terbakar kawasan yang jarang terjamah sehingga susah diakses oleh petugas.
“Kendala berikutnya air, di titik-titik air rata-rata sudah kering. Jadi kita mengandalkan tangki, kita mengutamakan kawan-kawan yang punya tangki,” ujarnya.
Dalam pencegahan dan penanganan karhutla di Banjarbaru, BPBD Banjarbaru bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. (Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)