Unggahan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap menjadi sorotan publik setelah dikabarkan meninggal dunia.
"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs," tulis Yurizal, pasien tersebut, dalam unggahannya di media sosial.
Perbincangan semakin meluas setelah beredar tangkapan layar sejumlah komentar yang diduga ditulis oleh tenaga kesehatan dan dokter, yang dinilai tidak menunjukkan empati kepada pasien. Belakangan, seseorang yang mengaku kerabat pasien menyebut pasien telah meninggal dunia. Tak pelak, komentar-komentar 'nirempati' kembali diungkit, bahkan identitas pemilik akun dibongkar habis oleh netizen hingga tempat kerjanya terbawa-bawa.
Menyoroti hal tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pasien tersebut. Ia sekaligus menyoroti pentingnya empati dokter dalam menghadapi pasien.
"Informasi komentar terhadap pasien yang tidak dapat ruang rawat jadi viral. Sambil menunggu konfirmasi bagaimana kejadian sebenarnya maka disampaikan empat hal yang bersifat umum. Pertama dan utama, turut berduka cita mendalam pada pasien yang meninggal, semoga mendapat tempat mulia disisi Tuhan YME," demikian keterangan yang diterima detikcom, Rabu (5/8/2026).
Menurut Prof Tjandra, dokter tidak hanya perlu memiliki empati, tetapi juga kemampuan untuk memahami dan merasakan kondisi pasien secara lebih mendalam. Ia mengaitkannya dengan istilah bahasa Jerman einfühlung, yang dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk "merasakan ke dalam".
Dalam konteks pelayanan kesehatan, Prof Tjandra mengatakan dokter tidak hanya bertugas memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga perlu memahami apa yang dirasakan dan dikeluhkan pasien.
""Einfuhlung" menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyelami, meresapi, atau ikut merasakan isi jiwa dan sudut pandang orang lain, dalam hal ini dokter perlu dan harus punya "einfuhlung" pada pasien," lanjutnya lagi.
Ia menilai kondisi tersebut memprihatinkan apabila ada dokter yang tidak berempati terhadap pasien. Sebab, pasien tidak hanya menghadapi keluhan terkait kondisi fisiknya, tetapi juga berbagai persoalan lain yang dapat muncul akibat penyakit yang dialaminya.
"Harus diingat bahwa pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tetapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami dan diberi empati memadai," katanya.
Di sisi lain, Prof Tjandra mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, viralnya kasus tersebut menjadi pengingat bahwa informasi mengenai kondisi kesehatan seseorang perlu disikapi secara hati-hati.
"Viralnya berita ini kembali menunjukkan bahwa seseorang -dan kita semua- harus amat bijak dalam bermedia sosial," ujarnya.
Prof Tjandra juga menyoroti informasi mengenai pasien yang disebut menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat. Menurutnya, informasi tersebut masih perlu dilihat secara utuh karena terdapat dua kemungkinan kondisi.
"Kesatu sudah mendapat penanganan kesehatan tapi belum mendapat ruang rawat dan kedua barangkali belum mendapat penanganan memadai dan belum juga dapat ruang rawat," ucapnya.
"Hal ini tentu juga memprihatinkan dan menunjukkan tantangan pelayanan kesehatan yang masih dihadapi di lapangan. Perlu ada manajemen pelayanan kesehatan yang baik di negara kita agar jangan sampai ada pasien yang terlantar dalam pelayanan di Rumah Sakit," lanjutnya lagi.





