Gelombang Panas 40 Derajat Terjang Kumamoto, Korban Gempa Kini Terancam Heatstroke
Tiara Shelavie August 05, 2026 08:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Belum sempat pulih dari gempa magnitudo 7,1 yang menewaskan sedikitnya 38 orang, warga Prefektur Kumamoto, Jepang, kini harus menghadapi ancaman baru.

Gelombang panas ekstrem dengan suhu menembus 40 derajat Celsius melanda wilayah tersebut ketika lebih dari 8.500 orang masih bertahan di pengungsian dan sekitar 46.700 rumah tangga belum kembali memperoleh pasokan air bersih.

Ancaman yang kini dihadapi para penyintas bukan lagi hanya reruntuhan bangunan akibat gempa, tetapi juga risiko heatstroke yang mengintai mereka yang tinggal di pusat evakuasi maupun di dalam mobil karena kehilangan tempat tinggal.

The Guardian melaporkan, cuaca panas ekstrem memperumit proses pemulihan pascagempa karena ribuan warga masih kesulitan mengakses kebutuhan dasar di tengah kerusakan infrastruktur yang luas.

Sementara itu, NHK World melaporkan suhu di Kota Kumamoto mencapai 40,3 derajat Celsius pada Senin (3/8/2026), menjadi suhu tertinggi yang pernah tercatat di prefektur tersebut.

Badan Meteorologi Jepang pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan panas.

lihat foto
GEMPA JEPANG - Tangkap layar YouTube Global News 29 Juli 2026 memperlihatkan mall Aeon yang runtuh akibat gempa M 7,1 yang mengguncang Kumamoto pada 28 Juli 2026. Setidaknya 30 orang tewas.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas luar ruangan pada siang hari serta tetap berada di tempat yang sejuk untuk mengurangi risiko heatstroke.

Ribuan Penyintas Masih Bertahan di Pengungsian

Lebih dari 8.500 warga hingga kini masih tinggal di pusat-pusat evakuasi darurat seperti gedung komunitas, gimnasium sekolah, hingga ruang kelas yang dialihfungsikan menjadi tempat pengungsian.

Baca juga: Akibat Gempa Kumamoto Jepang,  200.000 Ikan Salmon Budidaya Mati, Kerugian Rp13,2 miliar

Sebagian lokasi tersebut masih memiliki keterbatasan fasilitas, termasuk pendingin udara.

Banyak warga juga memilih bermalam di dalam mobil yang diparkir di sekitar balai kota maupun dekat rumah mereka yang rusak.

Kondisi itulah yang memicu kekhawatiran pemerintah.

Seorang perempuan berusia 70-an sebelumnya ditemukan meninggal dunia di dalam mobil yang digunakan sebagai tempat berlindung setelah diduga mengalami serangan panas.

Gubernur Kumamoto Takashi Kimura menyebut insiden itu sebagai tragedi yang menyedihkan.

"Ini sangat memilukan," kata Kimura, dikutip Associated Press (AP).

Ia kemudian mengimbau para penyintas yang masih tinggal di dalam kendaraan agar tetap mengisi bahan bakar sehingga pendingin udara dapat digunakan, atau berpindah ke tempat pengungsian ber-AC untuk mengurangi risiko heatstroke.

Krisis Air Bersih Hambat Pemulihan

Selain cuaca ekstrem, ribuan keluarga juga masih kesulitan memperoleh air bersih.

Hingga awal pekan ini, sekitar 46.700 rumah tangga masih mengalami gangguan pasokan air.

Kondisi tersebut membuat aktivitas memasak, mandi, hingga menjaga kebersihan di pengungsian menjadi semakin sulit.

Pemerintah daerah mulai membangun hunian sementara di sejumlah wilayah seperti Uki dan Hikawa untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal.

PM Sanae Takaichi Tinjau Lokasi Gempa

Baca juga: Pemerintah Imbau Korban Gempa Kumamoto Dokumentasikan Kerusakan Rumah untuk Klaim Bantuan

Di tengah proses pemulihan, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengunjungi Prefektur Kumamoto untuk melihat langsung kondisi wilayah terdampak.

Ia meninjau kawasan bencana menggunakan helikopter Pasukan Bela Diri Jepang sebelum mengunjungi pusat pengungsian di Kota Hikawa.

Dalam kunjungannya, Takaichi mendengarkan langsung keluhan warga yang kehilangan rumah akibat gempa.

Beberapa penyintas mengaku kembali kehilangan tempat tinggal setelah sebelumnya juga terdampak Gempa Kumamoto pada 2016.

Menanggapi kondisi tersebut, Takaichi mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan penyediaan hotel dan penginapan sebagai tempat tinggal sementara bagi korban.

Ia juga memastikan kapal besar yang dilengkapi fasilitas medis dan ruang tinggal akan dikirim ke Kumamoto untuk membantu para penyintas.

"Pemerintah bertekad melakukan segala yang kami bisa," kata Takaichi saat rapat gugus tugas penanganan bencana, dikutip dari Associated Press.

Menurutnya, pemerintah memprioritaskan distribusi air bersih, pendingin ruangan, toilet portabel, layanan kesehatan, serta pembangunan hunian sementara agar para penyintas tidak terus terpapar cuaca ekstrem.

Kerusakan Meluas, Ratusan Rumah Hancur

Data pemerintah daerah menunjukkan sekitar 700 rumah hancur dan lebih dari 11.300 bangunan mengalami kerusakan akibat gempa.

Ribuan warga masih membersihkan puing-puing bangunan, perabotan yang rusak, dan material sisa reruntuhan.

Channel NewsAsia melaporkan proses pemulihan berjalan lebih lambat karena cuaca panas ekstrem dan terbatasnya kebutuhan dasar di sejumlah wilayah terdampak.

Ledakan Aeon Mall Perparah Tragedi

Bencana juga memicu tragedi lain di Aeon Mall Kumamoto di Kota Kashima.

Operator mal menyatakan ledakan diduga dipicu kebocoran gas setelah sekitar 3.000 pengunjung berhasil dievakuasi menyusul gempa.

Baca juga: Sanae Takaichi akan Kunjungi Korban Gempa Kumamoto, Cek Kerusakan dan Pengungsian

Namun, sejumlah karyawan masih berada di dalam gedung ketika ledakan terjadi.

Tim penyelamat kemudian menemukan sejumlah korban meninggal dunia di lokasi.

Perusahaan pengelola salah satu toko di dalam mal, Habita, mengakui dua pegawainya diminta kembali ke dalam gedung untuk menyimpan hasil penjualan ke brankas setelah gempa.

Keduanya tewas dalam insiden tersebut.

Perusahaan kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga salah satu korban, Kurumi Otake (22).

Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang masih memperingatkan potensi gempa susulan dengan intensitas hingga skala seismik 7.

Otoritas juga mengingatkan suhu ekstrem diperkirakan masih bertahan dalam beberapa hari ke depan sehingga risiko heatstroke bagi ribuan penyintas di pengungsian tetap menjadi ancaman serius selama proses pemulihan berlangsung.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.