SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Setelah sempat menembus harga Rp 48 ribu per kilogram, harga ayam potong di Kota Palembang kini mengalami penurunan drastis menjadi Rp 38 ribu per kilogram.
Pantauan Sripoku.com di Pasar Simpang Sungki, Jalan Ki Marogan, Kecamatan Kertapati, Kota Palembang, Rabu (5/8/2026), menunjukkan harga ayam potong turun hingga Rp 10 ribu per kilogram dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Meski demikian, penurunan harga tersebut belum mampu mendongkrak daya beli masyarakat. Sejumlah pedagang mengaku penjualan justru masih lesu karena banyak konsumen beralih membeli ikan maupun daging sapi.
Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Simpang Sungki, Danang, mengatakan penurunan harga dipengaruhi melemahnya daya beli masyarakat.
"Biasanya siang seperti ini sudah habis sekitar 30 ekor ayam. Sekarang baru sekitar 10 ekor yang terjual. Pembeli banyak beralih ke daging sapi dan ikan," kata Danang saat ditemui Sripoku.com.
Menurutnya, saat harga ayam sempat mencapai Rp 48 ribu per kilogram, permintaan dari masyarakat menurun drastis. Kini meski harga turun, kondisi penjualan belum kembali normal.
Danang mengungkapkan pendapatannya juga ikut menurun dibandingkan hari-hari biasa.
"Kalau biasanya satu hari bisa dapat keuntungan sekitar Rp 500 ribu setelah dipotong modal. Sekarang tidak menentu, kadang hanya sekitar Rp 100 ribu, yang penting modal kembali," ujarnya.
Ia menilai tingginya harga ayam sebelumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta naiknya harga pakan di tingkat peternak.
Sementara itu, pedagang ayam lainnya, Mayuti, mengatakan fluktuasi harga ayam membuat sebagian masyarakat memilih beralih ke lauk lain.
"Kalau dibandingkan, harga ayam Rp 48 ribu per kilogram tinggal tambah sekitar Rp 2 ribu sudah bisa beli daging sapi. Akhirnya banyak masyarakat memilih beli daging sapi atau ikan," katanya.
Mayuti berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga ayam agar konsumsi masyarakat kembali meningkat.
"Semoga harga ayam tetap stabil. Kalau bisa turun seperti saat program MBG libur, sekitar Rp 25 ribu per kilogram, penjualan kami juga lebih bagus," ujarnya.
Penurunan harga ayam turut disambut positif oleh pelaku usaha kuliner. Pemilik usaha ayam geprek, Cih Nining, mengaku harga bahan baku yang lebih murah membuat keuntungan usahanya kembali meningkat.
"Saat harga ayam Rp 48 ribu saya tetap mempertahankan harga jual karena tidak mungkin terus menaikkan harga kepada pelanggan. Alhamdulillah sekarang turun, jadi keuntungan lebih besar dibanding sebelumnya," katanya.
Meski demikian, ia menilai kondisi pasar belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat masih belum kembali seperti sebelumnya.
"Belum terlalu ramai, tetapi alhamdulillah pelanggan tetap ada. Banyak juga yang memilih membeli makanan siap saji dibanding harus membeli ayam mentah yang membutuhkan modal lebih besar," tutupnya.