Punggung Naga Gunung Piramid Kembali Menelan Korban
Hari Susmayanti August 05, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BONDOWOSO – Gunung Piramid di Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur kembali memakan korban jiwa.

Seorang pendaki perempuan bernama Maliya Finda (51) bersama seorang guide lokal bernama Erfan (35) meninggal dunia terjatuh di jurang kawasan Punggung Naga.

Jenazah kedua korban ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Selasa (4/8/2026) siang sekitar pukul 13.00 WIB.

Tubuh perempuan yang baru dikarunai cucu tersebut ditemukan di dalam jurang dengan kedalaman 60 meter di  bawah jalur ekstrem Punggung Naga Gunung Piramid.

Sementara tubuh Erfan ditemukan tak jauh dari lokasi jenazah Maliya.

Saat pertama kali ditemukan, kedua jenazah dalam kondisi tertelungkup dan tersangkut di ranting pohon dengan jarak antar jenazah sekitar 5 meter.

Tim SAR gabungan sudah memasukan jenazah ke dalam kantong untuk proses evakuasi.

Namun proses evakuasi kedua jenazah baru akan dilaksanakan hari ini.

Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo mengungkapkan, tim SAR sudah turun ke lokasi jenazah kedua korban ditemukan.

"Kemudian kita lakukan pembungkusan korban," ujarnya dikutip dari Surya.co.id.

Menurut Aryo, proses evakuasi jenazah kedua korban tidak bisa langsung dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Tim SAR bermalam di sekitar lokasi untuk memudahkan proses evakuasi yang akan dilakukan pada hari ini.

Adapun di sekitar lokasi kejadian Tim SAR gabungan menemukan sejumlah barang milik korban. Seperti di antaranya yakni tas, sepatu dan lainnya.

"Sudah kita amankan," ujarya.

Proses Evakuasi

Sementara itu OSC Basarnas Jember, Jefriyansah, menerangkan proses evakuasinya kedua jenazah akan dilakukan dengan mengangkatnya ke Punggung Naga.

Setelah berhasil diangkat, baru akan dibawa secara estafet ke Pos 2, dan Pos 1.

Besok rencananya akan dibagi ke dalam 3 tim, dengan dua tim di antaranya akan fokus evakuasi korban di Punggung Naga.

"Selanjutnya akan dievakuasi di RS Bhayangkara," ujarnya.

Disinggung perihal dugaan penyebab kematian, kata Jefri diperkirakan korban terjatuh ke dalam jurang saat turun Gunung. Namun, penyebab pastinya masih perlu menunggu hasil otopsi.

Baca juga: Dampak Kekeringan, Pemkab Gunungkidul Sudah Salurkan Hampir 3,5 Juta Liter Air Bersih ke Masyarakat

Kronologi 

Sebelumnya, dua pendaki dilaporkan hilang kontak (lost contact) saat melakukan pendakian di Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Berdasarkan data di posko Kantor Kecamatan Curahdami, sebelum mendaki, kedua korban sempat menitipkan satu unit sepeda motor Yamaha NMAX warna merah bernomor polisi P 2938 ES di rumah seorang warga setempat.

Kecurigaan warga mulai muncul lantaran hingga Senin (3/8/2026) sore pukul 17.30 WIB, sepeda motor tersebut tak kunjung diambil oleh pemiliknya.

Padahal, secara estimasi waktu, pendakian di Gunung Piramid umumnya dilakukan dengan sistem tektok (langsung turun tanpa menginap) dengan durasi sekitar 8 jam.

Maliya Finda diketahui tinggal di kawasan Jalan Cipunegara, RT 14, RW 06, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya. 

Sekira dua minggu lalu, Maliya baru memiliki cucu dari anak perempuannya. 

Menurut kerabatanya, Wawan, pihak keluarga besar sejak awal mengetahui rencana pendakian yang dilakukan Finda secara privat bersama seorang guide.

Wawan menerangkan, Finda itu berangkat dari rumah Surabaya menuju ke Bondowoso pada Sabtu (1/8/2026) pagi. 

Kemudian, memulai pendakian pada Minggu (2/8/2026) pagi. Sepanjang waktu itu, Finda masih terus berkomunikasi dengan anaknya yang tinggal di Bali. 

Seharusnya, pendakian tersebut cuma berlangsung satu hari; pagi berangkat, sore hari, pulang. Namun, hingga Minggu sore, Finda tak lagi merespon pesan masuk atau sambungan telepon dari anak atau kerabatnya. 

"Sabtu perjalanan ke Bondowoso, minggu Pagi naik, masin kontak-kontakan. Tapi senin sudah enggak ada kabar. Seharusnya tektok, berangkat pagi naik, sore pulang, ternyata belum ada info kembali," ungkapnya. 

Wawan belum dapat memperkirakan kapan jenazah bakal dibawa ke rumah duka. 

"Kami menunggu proses evakuasi, kedalamannya itu sekitar 470 meter. Jurang dalam. Jadi ada tali 300 meter kurang panjang, kabar kerabat kami di sana, katanya lagi kesulitan dengan alat. Masih proses, semoga bisa dievakuasi secepatnya," ujarnya saat ditemui di teras rumah duka, pada Selasa (4/8/2026) sore. 

Rencananya, jenazah Finda akan disemayamkan di rumah duka Surabaya sebelum dimakamkan di komplek makam umum Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jatim, keesokan hari. 

"Jenazah dibawa ke sini untuk disucikan dimandikan disalatkan, tapi rencana dimakamkan di Babat Lamongan. Beliau putrinya 1 orang. Iya sudah punya cucu 2 minggu lalu baru lahiran anaknya," kata Riris, keponakan korban. 

Pernah Mendaki Rinjani dan Lawu

Di usia paruh baya, Finda masih terbilang konsisten menekuni hobinya mendaki gunung. 

Wawan tak menampik, hobi mendaki yang ditekuni tantenya itu, baru berjalan kurun waktu 2-3 tahun belakangan. Bahkan, hampir satu bulan sekali selalu ada agenda pendakian yang dilakoni. 

Namun, hobi yang lebih lama ditekuni oleh Finda adalah bersepeda atau gowes.

Nah, kalau jenis kegiatan ini, biasa dilakukan hampir setiap hari. Terutama saat weekend, Wawan pun terkadang turut terlibat dalam satu komunitas gowes bersama sang tante. 

"Beliau hobi mendaki. Dan suka gowes sepeda ontel, kebetulan ngontel juga sama saya. Hobi mendaki itu barusan. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung populer," terangnya. 

Mengenai firasat akan adanya insiden tersebut, Wawan mengaku tidak memperoleh petanda apa pun. Pihak terakhir yang berkomunikasi dengan tantenya itu adalah sang istri; Ririn. 

Istrinya memang sempat berkunjung ke rumah sang tantenya di Kota Surabaya, beberapa hari sebelum pendakian, antara hari rabu atau kamis, pekan lalu. 

"Istri sedang berkunjung, beliau ngomong mau mendaki, guide private. Tapi kami gak tahu kalau Gunung Piramid, dilarang," katanya. 

Disinggung mengenai sosok pribadi Finda semasa hidup. Wawan tak menampik, tantenya itu merupakan pribadi yang baik, ramah dan periang. 

Memang, untuk urusan pendakian gunung, tantenya itu, masih sangat bersemangat meskipun diusia yang tak bisa dikatakan muda lagi. 

Wawan menduga keberhasilan mendaki beberapa gunung lain sebelumnya, barangkali memicu sang tante senantiasa bersemangat menaklukkan pendakian gunung-gunung lainnya. 

"Sosok beliau, baik, beliau menyelesaikan ambisi mungkin, karena sudah pernah menaiki gunung mana mana, akhirnya penasaran lalu dicoba, melawan rasa penasaran. Usianya itu seharusnya usia istirahat, tapi beliau masih aktif. Usia 51," pungkasnya. 

Sementara itu, keponakan korban atau istri Wawan, Riris mengaku tak memiliki firasat apa pun yang menandai kepergian sang tante. Kepergian sang tante meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar.

Ia menduga, tantenya itu mengalami insiden kecelakaan terpeleset hingga terjatuh ke jurang saat sedang menempuh pendakian di Gunung Piramid. Namun, pihak keluarga tetap akan menunggu hasil visum yang dilakukan Kepolisian nantinya. 

"Baru ditemukan tadi siang (selasa siang). Dugaannya, jatuh katanya, betul (indikasi kecelakaan) kepeleset," ujar Riris saat ditemui di teras rumah duka.

Di lain sisi, para tetangga menyebutkan sosok Finda sebagai salah satu warga yang baik, ramah dan gemar menyapa. 

"Kaget semua orang-orang mas, beliau baik, sama kita yang di jalan kalau ketemu ya menyapa, grapyak pokoknya," kata para tetangga yang nongkrong di warung kopi samping rumah korban. 

Mengenal Gunung Pyramid

Gunung Piramid adalah salah satu puncak unik di kawasan Pegunungan Hyang-Argopuro yang terletak di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Dinamakan Piramid karena bentuk puncaknya yang lancip dan simetris menyerupai piramida jika dilihat dari kejauhan.

Keunikan lanskap alam serta keindahan pemandangan dari puncaknya menjadikan gunung ini salah satu destinasi yang paling memikat perhatian bagi para pecinta alam.

Meskipun menawarkan pemandangan yang indah, Gunung Piramid dikenal memiliki tingkat kesulitan dan risiko yang sangat tinggi.

Jalur pendakian yang paling terkenal adalah area "Punggung Naga", yaitu trek setapak yang sangat sempit dengan lebar hanya sekitar satu meter.

Jalur ekstrem ini diapit langsung oleh jurang yang sangat curam di sisi kiri dan kanannya tanpa ada pembatas keamanan yang memadai.

Oleh karena itu, Gunung Piramid bukan merupakan medan pendakian yang diperuntukkan bagi pendaki pemula.

Medan yang terjal dan berbahaya ini membutuhkan stamina fisik yang prima, konsentrasi ekstra, peralatan yang memadai, serta kehati-hatian tingkat tinggi.

Kelalaian kecil di jalur ini dapat berakibat fatal, sebagaimana beberapa peristiwa kecelakaan pendakian yang pernah terjadi di lokasi tersebut. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.