TRIBUN-SULBAR.COM- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Kementerian Kesehatan menemukan jutaan masyarakat Indonesia hidup dengan faktor risiko penyakit tidak menular tanpa menyadarinya.
Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 73 juta orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui program tersebut.
Hasilnya menunjukkan banyak peserta yang sebelumnya merasa sehat ternyata mengalami tekanan darah tinggi, kadar gula darah meningkat, hingga obesitas.
Baca juga: Pemprov Sulbar Pusatkan Upacara HUT ke-81 RI di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju
Baca juga: Lowongan Kerja Petugas IT Penempatan Mamuju Dibuka, Simak Kualifikasi, Berkas dan Cara Daftarnya
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan temuan tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, bahkan bagi orang yang tidak memiliki keluhan.
"Sebagian besar penyakit tidak menular berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting agar pengobatan dan perubahan gaya hidup bisa dilakukan lebih cepat," ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8/2026).
Dari seluruh peserta yang telah menjalani pemeriksaan, sekitar 4,9 juta orang diketahui mengalami hipertensi.
Selain itu, sekitar 5,5 juta peserta lainnya berada pada kondisi prehipertensi atau tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal, meski belum memenuhi kriteria hipertensi.
Kelompok ini dinilai memiliki risiko tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal apabila tekanan darah tidak segera dikendalikan melalui perubahan pola hidup maupun penanganan medis.
Selain tekanan darah tinggi, pemeriksaan juga menemukan tingginya jumlah masyarakat dengan gangguan gula darah.
Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 992 ribu peserta telah terdiagnosis diabetes. Sementara itu, sekitar 1,9 juta orang berada dalam kondisi prediabetes yang berpotensi berkembang menjadi diabetes jika tidak segera ditangani.
Temuan lainnya adalah obesitas. Dari hasil pemeriksaan, sekitar 11 juta peserta diketahui mengalami kelebihan berat badan yang masuk kategori obesitas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga gangguan metabolik lainnya.
Pemerintah juga menemukan cukup banyak peserta dengan gangguan lemak darah atau dislipidemia. Namun, cakupan pemeriksaan kolesterol masih perlu diperluas agar jumlah kasus yang sebenarnya dapat diketahui lebih akurat.
Menurut dr. Maria, pola penyakit di Indonesia kini telah bergeser. Jika sebelumnya kematian lebih banyak disebabkan penyakit infeksi dan masalah kesehatan pada anak, kini penyakit tidak menular menjadi penyebab utama kematian.
Penyakit seperti jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker kini banyak menyerang kelompok usia produktif.
Meski angka harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat, pemerintah menilai kualitas kesehatan masyarakat masih perlu diperbaiki agar masyarakat tidak hanya berumur panjang, tetapi juga tetap sehat dan produktif.
Karena itu, deteksi dini melalui Cek Kesehatan Gratis menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kronis.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat tidak menunggu munculnya gejala sebelum memeriksakan kondisi kesehatannya.
Hipertensi, diabetes, maupun gangguan metabolik lainnya sering berkembang secara perlahan tanpa keluhan yang jelas.
Banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah muncul komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal.
Melalui pemeriksaan rutin setiap tahun, masyarakat diharapkan dapat mengetahui perubahan kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih jauh.
Pemerintah berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sebagai upaya menjaga kesehatan sekaligus mencegah munculnya penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.(*)