TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bondowoso telah melakukan pengukuran arah kiblat di sekitar 1.000 titik sepanjang 2026 menggunakan metode Rashdul Kiblat. Pengukuran tidak hanya dilakukan di masjid dan musala, tetapi juga di makam hingga rumah warga yang ingin memastikan bangunannya menghadap ke arah kiblat secara tepat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam dua periode, yakni pada 27-28 Mei dan 15-16 Juli 2026. Pelaksanaannya melibatkan penghulu dan penyuluh agama dari seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Bondowoso.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Bondowoso, Suharyono, menjelaskan bahwa metode Rashdul Kiblat memanfaatkan fenomena saat matahari berada tepat di atas Ka'bah. Peristiwa astronomi ini hanya terjadi dua kali dalam setahun sehingga menjadi waktu paling akurat untuk mengecek maupun meluruskan arah kiblat.
"Pada Mei waktunya pukul 16.27 WIB, sedangkan Juli pukul 16.17 WIB," ujar Suharyono saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).
Baca juga: Ditunda karena Cuaca, Evakuasi Dua Pendaki Tewas di Gunung Piramid Bondowoso Dilanjutkan Hari Ini
Menurut Suharyono, tahun ini Kemenag membagi tugas kepada penghulu dan penyuluh agama di seluruh KUA. Hari pertama dimanfaatkan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat, sedangkan hari kedua digunakan untuk praktik pengukuran langsung di lapangan.
"Kami juga melakukan pengukuran pembangunan musala di kawasan Perumahan Pesona Ijen. Para penghulu dan penyuluh kami sebar ke berbagai wilayah agar masyarakat bisa mempraktikkan langsung," katanya.
Selain melakukan pendampingan, Kemenag juga mendorong masyarakat agar mampu melakukan pengecekan arah kiblat secara mandiri setelah memperoleh pembekalan.
Baca juga: Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso yang Hilang, Ditemukan Meninggal di Kedalaman 60 Meter
Suharyono menjelaskan, metode Rashdul Kiblat dapat dilakukan dengan peralatan sederhana berupa benang dan bandul yang terbuat dari batu atau kayu. Yang terpenting, bandul tergantung tegak dan tidak bergerak.
Apabila pengukuran dilakukan tepat pada waktu Rashdul Kiblat, bayangan benang akan menunjukkan arah Ka'bah sehingga dapat dijadikan acuan menentukan arah kiblat bangunan.
Edukasi mengenai metode tersebut juga telah diperluas kepada pelajar Madrasah Aliyah. Hingga kini sekitar 3.000 akun tercatat mengikuti pembelajaran dan praktik pengukuran arah kiblat secara mandiri.
"Anak-anak Madrasah Aliyah sudah kami bekali cara mengukur arah kiblat, dengan metode yang sederhana agar mereka bisa mempraktikkannya sendiri," ujarnya.
Baca juga: Dua Orang Hilang di Gunung Piramid Bondowoso, Jalur Terlarang yang Memikat Pendaki
Suharyono menegaskan, meski fenomena matahari tepat di atas Ka'bah hanya terjadi dua kali setahun, metode Rashdul Kiblat sebenarnya tetap dapat diterapkan setiap hari.
Jadwalnya telah dicantumkan dalam jadwal salat yang diterbitkan Bimas Islam Kemenag Bondowoso.
"Misalnya hari ini, 4 Agustus 2026, waktu Rashdul Kiblat di Bondowoso pukul 15.25 WIB. Yang penting jamnya sesuai, sehingga bayangan benda tegak akan mengarah ke Ka'bah," katanya.
Ia menambahkan, sinkronisasi waktu sebaiknya mengacu pada waktu resmi agar hasil pengukuran lebih akurat.
Baca juga: Tim SAR Gabungan Dikerahkan Mencari Dua Pendaki yang Hilang Kontak di Gunung Piramid Bondowoso
Berdasarkan pendampingan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, Kemenag Bondowoso masih menemukan sejumlah masjid yang arah kiblatnya belum sepenuhnya tepat.
Namun, menurut Suharyono, perbaikannya umumnya tidak memerlukan pembongkaran bangunan. Penyesuaian cukup dilakukan dengan menggeser arah saf salat.
"Bangunannya tidak perlu dibongkar. Yang diperbaiki hanya arah saf sehingga salat tetap menghadap kiblat secara benar," ujarnya.
Kesalahan yang paling sering ditemukan terjadi pada masjid-masjid lama yang dibangun dengan orientasi lurus ke arah barat atau sekitar 270 derajat.
Padahal, arah kiblat dari wilayah Bondowoso berada pada azimut sekitar 293 derajat 55 menit atau dibulatkan menjadi 294 derajat. Artinya, arah salat perlu bergeser sekitar 23 derajat ke utara dari arah barat.
"Kalau lurus ke barat justru arahnya menuju Afrika, bukan ke Ka'bah. Untuk Bondowoso arah kiblat sekitar 294 derajat. Jadi tidak cukup hanya menghadap barat," tegasnya.
Salah satu contoh penyesuaian arah kiblat dilakukan di Masjid Agung Bondowoso. Hasil pengukuran ulang menunjukkan adanya selisih sekitar 1-2 derajat pada lantai lama. Saat pembangunan lantai dua, arah saf dan pemasangan keramik kemudian disesuaikan agar lebih presisi menghadap Ka'bah.
Suharyono menilai anggapan bahwa kiblat cukup menghadap ke arah barat masih berkembang di sebagian masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai penentuan arah kiblat terus dilakukan kepada masyarakat umum, madrasah, hingga pondok pesantren.
"Ini menjadi tugas bersama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa arah kiblat bukan sekadar ke barat, tetapi harus benar-benar mengarah ke Ka'bah. Karena itu sosialisasi terus kami lakukan, mulai dari masyarakat umum, madrasah hingga pondok pesantren," pungkasnya.