Sumur Bor Satu-satunya Mati, Warga Clapar Kini Hanya Bergantung Dropping Air dari Pemerintah
Hari Susmayanti August 05, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Warga di Padukuhan Clapar I, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap saat ini harus bergantung pada program distribusi (dropping) air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebab sudah hampir 2 bulan ini wilayah itu mengalami kesulitan air bersih karena hujan sudah tidak turun lagi.

Kondisi itu diperparah dengan Pamsimas yang sudah tidak berfungsi lagi.

Suradi, warga Clapar I menyampaikan krisis air bersih sudah mulai dirasakan begitu memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni.

Padahal sudah ada Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) di sana, namun saat ini tidak berfungsi.

"Pamsimasnya sekarang mati karena tidak kuat menyedot air, kemarin sempat rusak, tapi sudah diperbaiki," ujarnya ditemui pada Rabu (05/08/2026).

Meski sudah diperbaiki, pompa Pamsimas di Clapar I tetap tidak bisa menyedot air dari tanah.

Sebab, debit air di dalam sumber berkurang sehingga sudah tidak bisa disedot lagi.

Alhasil, warga kini bergantung pada bantuan dropping air bersih dari BPBD Kulon Progo yang bekerjasama dengan berbagai pihak.

Baca juga: Punggung Naga Gunung Piramid Kembali Menelan Korban

Truk tangki berisi 5 ribu liter air itu datang setidaknya 2 kali dalam seminggu.

"Itu masih dibagi-bagi lagi airnya dari 1 tangki yang datang, kadang ada yang tidak kebagian," ungkap Suradi.

Ia mengungkapkan bahwa warga sempat menampung air hujan sebelum musim kemarau tiba, namun air yang ditampung hanya cukup untuk beberapa Minggu.

Penampung itu kini digunakan untuk mengisi air bersih yang dikirimkan oleh BPBD.

SD Negeri Jeruk di Clapar I juga ikut terdampak dari matinya Pamsimas.

Kepala SDN Jeruk, Magi mengatakan pihaknya kini bergantung pada air di masjid sebelah sekolah, yang airnya berasal dari sumber bawah tanah.

"Itu juga alirannya kecil sekali, airnya kadang mengalir, kadang tidak," katanya.

Kebutuhan air bersih untuk toilet dan wudhu pun menjadi sangat terbatas. Magi mengatakan pihaknya harus benar-benar berhemat dalam menggunakan air di musim kemarau ini.

Penyaluran air bersih oleh BPBD saat ini bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kulon Progo.

Wakil Ketua Baznas Kulon Progo, Sugiyanto mengatakan pihaknya tahun ini mengalokasikan Rp 200 juta untuk pengadaan 220 tangki air bersih.

"Sejauh ini sudah tersalurkan sebanyak 16 tangki air bersih, paling banyak ke Clapar I sebanyak 8 tangki," ujarnya.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kulon Progo, Budi Prastawa menjelaskan kekeringan di Clapar I terjadi setiap tahunnya.

Wilayahnya yang berupa perbukitan membuat air tanah cepat mengering saat musim kemarau tiba.(alx)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.