TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dinamika geopolitik di Timur Tengah masih memberikan tekanan industri farmasi nasional, terutama melalui kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas yang sebagian masih bersumber dari impor.
Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF), Djagad Prakasa Dwialam menyampaikan, untuk mengantisipasi tekanan tersebut, perseroan menjalankan program efisiensi lanjutan, memperkuat pengendalian biaya, serta melakukan penyesuaian harga secara terukur pada beberapa produk.
Ia menyebut, langkah ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan, kualitas produk, dan kesehatan margin perseroan di tengah kenaikan harga bahan baku maupun bahan kemas.
Baca juga: Potensi Harga Obat Naik Saat Rupiah Melemah, Ini Hitungan Dampaknya ke Masyarakat
"Untuk memperkuat kemandirian bahan baku obat (BBO) nasional, KAEF terus mengoptimalkan fasilitas produksi obat," ujar Drajad dikutip Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, perseroan mengoptimalkan fasilitas produksi di Jakarta dan Banjaran sebagai backbone produksi untuk 50 produk utama, termasuk obat esensial seperti Amlodipine, Codeine, Morfina, dan Abacavir.
Di sisi hulu, KAEF memperkuat peran Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Sinkona Indonesia Lestari (SIL) dalam pengembangan BBO lokal.
Saat ini, KFSP telah memiliki 19 BBO bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM, dengan 18 BBO di antaranya telah bersertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
KAEF juga terus mendorong lokalisasi beberapa produk prioritas yang mendukung program pemerintah dan selama ini masih bersumber dari impor.
Drajad menyebut, program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan rantai pasok, mengurangi ketergantungan pada sumber eksternal, dan menjaga ketersediaan produk prioritas di dalam negeri.
“Ke depan, kami optimistis dengan dukungan Danantara Asset Management serta penguatan sinergi Holding BUMN Farmasi, transformasi KAEF dapat berjalan lebih terarah," ujarnya.
Baca juga: Rupiah Melemah, Pakar Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Obat, Pasien Penyakit Kronis Paling Rentan
Pada semester I 2026, KAEF membukukan laba bersih unaudited sebesar Rp54,07 miliar.
Capaian ini berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan mengalami rugi bersih Rp135,61 miliar.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan penjualan neto mencapai Rp4,70 triliun, naik 7,6 persen dibandingkan semester I-2025 senilai Rp4,36 triliun.
Dari sisi operasional, laba usaha meningkat 111,3% menjadi Rp152,21 miliar, dibandingkan Rp72,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Drajad menyampaikan, KAEF dengan dukungan dan arahan Danantara terus memperkuat fondasi bisnis melalui pengelolaan portofolio, efisiensi operasional, penguatan produksi, dan perbaikan tata kelola.
"Kinerja positif pada Semester I-2026 menunjukkan bahwa proses transformasi berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur. Dengan bisnis yang semakin sehat, KAEF memiliki ruang yang lebih kuat untuk mendukung ketersediaan obat, layanan kesehatan, dan program prioritas nasional,” ujar Djagad.