TRIBUN-SULBAR.COM - Pulau Sulawesi kembali diguncang gempa bumi.
Rabu 5 Agustus 2026, pukul 12.14 WITA, wilayah Sulawesi Utara diguncang gempa bumi magnitudo 6.4 SR.
Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyebutkan gempa bumi berada di kedalaman 10 km.
Baca juga: Harga Emas Antam Makin Merosot, Rabu 5 Agustus 2026 Turun ke Level Rp 2,5 Juta Per Gram
Baca juga: BMKG Catat 13 Gempa Guncang Sulsel, Sulteng, dan Sultra Hari Ini
Sementara pusat gempa berada di Pulau Karatung, Sulut, atau 221 kilometer barat laut.
Koordinat titik gempa berada di 5.60 lintang utara (LU) dan 125.27 Bujur Timur (BT).
Gempa tersebut tergolong gempa besar, gempa yang cukup besar dan kuat.
Hal itu berdasarkan standar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dimana dalam skala seismologi, gempa pada rentang magnitudo 6,1 hingga 6,9, mampu menyebabkan kerusakan pada bangunan di area dekat pusat gempa dan dirasakan sangat luas.
Pusat gempa yang berada sekitar 221 kilometer barat laut Pulau Karatung, Kabupaten Kepulauan Talaud, berjarak cukup jauh dari Kota Manado, Ibu Kota Sulawesi Utara.
Persisnya lokasi gempa tersebut berada di wilayah perairan utara Sulawesi Utara.
Jarak dari pusat gempa menuju Kota Manado diperkirakan sekitar 300 kilometer lebih melalui jalur laut dan posisi geografis.
Pulau Karatung masuk dalam gugusan pulau terluar atau kepulauan kecil di Kecamatan Nanusa.
Pulau ini berbatasan langsung dengan wilayah perairan laut dekat perbatasan Filipina.
Provinsi Sulawesi Utara memiliki tingkat kegempaan yang sangat tinggi karena dikelilingi oleh zona subduksi aktif, penunjaman lempeng, dan sesar lokal.
Sejarah mencatat daerah ini sering diguncang gempa kuat seperti gempa dahsyat Sangihe M 7,7 pada 1936.
Catatan Sejarah Gempa Besar di Sulawesi Utara
Gempa Minahasa 1845 (Magnitudo ~7,0): Merobohkan sejumlah bangunan dan menelan korban jiwa hingga 118 orang.
Gempa Kepulauan Sangihe 1936 (Magnitudo 7,7): Salah satu gempa paling dahsyat yang merusak ratusan rumah dan memicu tsunami setinggi sekitar 3 meter di Sangihe.
Gempa Siau 1974: Memicu longsor serta kerusakan parah pada bangunan rumah warga.
Gempa Sangihe-Talaud 1983: Menyebabkan kerusakan material di sejumlah kawasan kepulauan.
Gempa Melonguane Talaud 2023 (Magnitudo 7,1): Gempa signifikan di era modern yang berdampak kerusakan ringan hingga sedang tanpa korban jiwa. (*)