SURYA.CO.ID, SURABAYA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, PhD, memberikan pesan penting bagi mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Stellaa menekankan pentingnya membangun kemampuan berpikir kritis sebagai fondasi utama menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pesan tersebut disampaikan Stella saat memberikan materi dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS 2026 di GOR Pertamina ITS, Surabaya, Rabu (5/8/2026).
Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Stella mengingatkan agar kemajuan AI tidak disikapi dengan euforia berlebihan.
Menurutnya, perkembangan teknologi selalu memiliki siklus, termasuk potensi munculnya gelembung teknologi (technology bubble).
Ia mengibaratkan fenomena AI dengan gelembung ekonomi (economic bubble), seperti perdagangan tulip di Belanda maupun gelembung dot-com yang pernah terjadi pada masa lalu.
"Kini hampir semua persoalan dijawab AI dan dapat menjadi indikasi yang layak dikaji sebagai wujud gelembung teknologi yang dapat pecah sewaktu-waktu," ujarnya.
Baca juga: Perubahan APBD Jatim 2026 Naik Rp 2,6 Triliun, Infrastruktur Jalan dan Jembatan Jadi Prioritas
Guru Besar bidang Kecerdasan Kognitif tersebut menegaskan bahwa pandangannya bukan untuk meremehkan AI.
Sebaliknya, ia ingin mahasiswa mampu melihat perkembangan teknologi itu secara lebih kritis, termasuk dampaknya terhadap lingkungan.
Menurut Stella, pusat data AI membutuhkan pasokan listrik dan air dalam jumlah besar untuk menjalankan proses komputasi.
Kebutuhan tersebut diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi AI.
"Kita harus mempertimbangkan apakah manfaat AI sepadan dengan sumber daya yang dikorbankan," katanya.
Selain isu keberlanjutan, Stella juga menyoroti dampak AI terhadap dunia kerja.
Stella menilai profesi yang sebelumnya dianggap memiliki prospek cerah, termasuk lulusan ilmu komputer, kini mulai menghadapi tantangan baru karena AI mampu menghasilkan kode program dengan lebih cepat dan biaya lebih rendah.
Karena itu, menurutnya, kesuksesan lulusan perguruan tinggi ke depan tidak hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi juga kemampuan yang sulit digantikan oleh teknologi.
Stella menjelaskan, perguruan tinggi perlu memperkuat tiga pilar utama agar tetap relevan di era AI, yakni penciptaan pengetahuan (creation of knowledge), transmisi pengetahuan (transmission of knowledge), dan kurasi pengetahuan (curation of knowledge).
Ia menegaskan kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis, menganalisis persoalan, dan melahirkan inovasi.
Menurut Stella, meskipun AI mampu mengakses informasi secara cepat, teknologi tersebut belum dapat menentukan informasi yang paling bermakna dan bernilai bagi kehidupan manusia.
"Kurasi pengetahuan inilah yang membedakan antara manusia dengan AI," tegasnya.
Karena itu, Stella mendorong mahasiswa ITS memanfaatkan masa perkuliahan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, memperluas jejaring, serta membangun kapasitas diri melalui pengalaman belajar dan kolaborasi.
Ia berharap lulusan ITS memiliki daya saing yang kuat dan tetap relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
"Mahasiswa ITS diharapkan mampu menjadi insan yang tangguh, inovatif, dan tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi," pungkasnya.