Perjalanan Mantan Tentara Jepang yang Membelot dan Masuk TNI
Moh. Habib Asyhad August 05, 2026 06:34 PM

Ternyata tak sedikit tentara Jepang yang membelot ke Indonesia dan bergabung dengan TNI. Majalah Intisari berhasil mewawancarai beberapa di antara mereka.

Penulis: L.R. Supriyapto Yahya dan B. Soelist | Tayang di Majalah Intisari edisi Agustus 1992 dengan judul "Perjalanan 'Pembelot' Mencari Tanah Air Kedua"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Wartawan Intisari L.R. Supriyapto Yahya dibantu koresponden B. Soelist pernah melacak kehidupan mantan tentara Jepang yang membelot ke TNI dan keturunannya di Pulau Jawa.

Lalu bagaimana nasib mereka? Kenapa akhirnya memutuskan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan bahkan ogah kembali ke negara asalnya?

Kiyoshi Fujita alias Saman

Tokyo, 12 Desember 1941, musim salju. Siang hari itu saya baru saja pulang kerja. Sesampainya di rumah sepucuk surat sudah menunggu saya.

“Surat panggilan dari kotapraja,” kata ibu saya pendek. Menurut isi surat itu, saya diminta datang ke kantor kotapraja, tanpa perlu membawa apa-apa, kecuali tiga helai celana dalam. Hal itu membuat saya bertanya-tanya, ada apa?

Keesokan harinya saya tiba di kantor kotapraja pukul 09.00. Di situ sudah banyak pemuda lain yang memperoleh panggilan serupa.

Usia kami hampir sama. Waktu itu saya berusia 19 tahun.

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, menimbang berat, dan mengukur tinggi badan, kami diminta untuk beristirahat di dalam. Selesai makan siang, kami disuruh naik ke truk yang segera membawa kami ke Pelabuhan Yokosuka.

Sesudah masuk kampung sedikit barulah saya tahu ke mana kami akan dibawa, ke asrama tentara! Di situ kami diberi selimut dan 3 buah mangkuk untuk makan.

Setiap hari kami harus berlatih seperti tentara pada umumnya. Hal itu berlangsung sampai tanggal 31 Desember 1941.

Demikianlah Kiyoshi Fujita, yang ketika masuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi Saman Fujita, mengawali sejarah hidupnya sekitar setengah abad lalu, sampai dia terdampar di Indonesia.

“Hari ini kalian semua boleh pulang selama tiga hari. Tapi bagaimana keadaan di sini, kalian sama sekali tidak boleh bercerita kepada siapa pun, termasuk orangtua dan saudara,” kata Saman menirukan seorang tentara yang memberikan perintah. “Tapi tanggal 3 Januari 1942 kalian sudah harus berkumpul kembali, tidak boleh lewat pukul 18.00.”

Pada tanggal dan waktu yang sudah disepakati, semua pemuda itu berkumpul. Pakaian dan ransel mereka diringkas.

Sebegitu jauh mereka masih belum tahu apa yang harus dilakukan dan mereka akan dibawa ke mana. Semuanya serba misterius.

Tepat pukul 24.00, di tengah gigitan dinginnya musim salju dan pekatnya malam, semuanya diperintahkan naik ke truk yang membawa mereka ke Pelabuhan Shibaura. Di sana sudah menunggu dua buah kapal besar: Naniwa Maru dan Tenyu Maru, yang berlabuh agak di tengah.

Untuk bisa mencapai kedua kapal itu, para pemuda tersebut dinaikkan ke atas tongkang yang ditarik menghampiri kapal. Kiyoshi naik ke Tenyu Maru bersama sekitar 200 orang lainnya.

Di atas kapal itu di mana-mana yang kelihatan truk. Sedangkan bagian dalamnya memuat bahan bangunan.

Sialnya, setelah masuk ke kamar para pemuda itu tidak diizinkan keluar lagi. Pukul 01.00 Tenyu Maru dan Naniwa Maru mulai berangkat ke tempat yang belum jelas tujuannya.

Karena keadaan yang gelap baru beberapa saat kemudian-lah Kiyoshi tahu bahwa selain Tenyu Maru dan Naniwa Maru, masih ada beberapa kapal lain, sehingga jumlahnya mencapai tiga puluh buah, termasuk kapal selam dan kapal perang.

Sesudah berlayar sekian lama ternyata Tenyu Maru mendarat di Malaysia.

Di sana-sini bom mulai berjatuhan. Setelah berada di Malaysia setengah hari barulah seorang perwira Jepang memberitahu mereka: bahwa tanggal 8 Desember 1942 itu Jepang menyatakan perang terhadap AS, Inggris, Belanda, dll.

Baru sesudahnya para remaja yang semula "dikurung" di dalam kamar itu diizinkan keluar dan naik ke atas.

Kini Kiyoshi baru sadar apa yang akan terjadi dan terjawablah sudah teka-teki tentang nasib mereka selama ini. Dia dan teman-temannya akan dijadikan tentara dan diterjunkan ke medan pertempuran. Namun, untuk mundur pun tak mungkin.

Perjalanan kemudian dilanjutkan. Iring-iringan kapal yang ketika berangkat dari Jepang berjumlah 30 itu sepuluh hari kemudian jumlahnya semakin berkurang.

Ternyata jumlah itu dipecah-pecah karena harus bertugas di berbagai tempat yang dinilai strategis oleh Dai Nippon. Kapal ini terus berlayar sampai di timur Kupang.

Di sinilah baru Kiyoshi benar-benar mendarat. Mereka sampai di dekat lapangan terbang dan diminta untuk mendirikan tenda.

Selama seminggu tidak terjadi apa-apa. Pada hari kesepuluh baru ada kegiatan.

Kapal Tenyu Maru melakukan bongkar muatan. Isinya, selain beras, gula, dan bahan keperluan sehari-hari, ternyata ada ... bom! Masing-masing bom beratnya 60 kg. Keadaan pun masih tenang-tenang saja.

Setelah hari ke-15, "acara" baru dimulai. Lawan Jepang mulai beraksi. Pesawat B-29 mulai menghujani daerah timur Kupang pagi-sore dengan bom seberat 200 - 250 kg.

“Ketika itulah saya baru sadar dan kagum bahwa Amerika itu benar-benar jago, karena mereka punya bom sampai 250 kg,” kata Kiyoshi terus terang. “Jika sebuah bom jatuh di suatu tempat dan meledak, akibatnya terciptalah lubang yang sangat besar, yang tidak mungkin tertutup dengan 100 buah truk.”

Di malam harinya, tugas tentara Jepang-lah untuk menutup kembali lubang besar yang menganga itu. “Setengah mati rasanya, meskipun semua tenaga dikerahkan,” kenangnya.

Mereka tinggal di situ sampai bulan Agustus 1942. Setelah itu mereka berlayar ke Makassar.

Mereka hanya singgah di sini selama setengah hari, lalu melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, yang ketika itu masih bernama Betawi. Setelah kapal merapat di Tanjung Priok, Kiyoshi dan rekan-rekannya melanjutkan dengan truk menuju ke Cililitan, yang waktu itu merupakan daerah asrama tentara.

Di sini pun mereka hanya bertahan setengah bulan, karena ada perintah mereka harus pindah.

Dengan berkereta api sehari semalam mereka menuju ke Surabaya. Di Kota Buaya ini mereka disuruh membuat kaca dan membangun rumah-rumah, yang kemudian digunakan sebagai asrama, dari Tanjung Perak sampai Wonokromo. Lagi-lagi di sini pun mereka tidak lama menetap.

Tujuan berikutnya adalah Anyer Lor (daerah Serang, Banten). Mereka diminta untuk ke P. Sangiang. Di sini pun pekerjaan yang ditangani masih tetap untuk keperluan militer: memasang kanon 15 cm.

Untuk keperluan ini tidak hanya tenaga mereka yang dibutuhkan, para napi dari seluruh Indonesia juga dikerahkan untuk membantu.

Ketika hampir selesai, Kiyoshi dan yang lain dipindahkan lagi ke Cilacap, Nusakambangan.

Rupanya bukan cuma di zaman modern ini Nusakambangan dijadikan tempat penampungan para penjahat kelas kakap. “Waktu itu pun napi di sana tidak ada yang dihukum kurang dari 20 tahun,” komentar Kiyoshi.

Sama seperti di P. Sangiang, di sini juga mereka diminta memasang kanon 15 cm, dengan lokasi sampai di gunung-gunung. Di sini mereka bertahan sampai tahun 1944. Namun, ketika itu keadaan tentara Jepang sudah kocar-kacir.

Tiba-tiba datang perintah dari Jenderal Imamura agar Kiyoshi dan yang lainnya berangkat ke Banyumas.

“Di sinilah saya kenal dengan Pak Gatot Subroto,” kata Kiyoshi dengan bangga. Waktu itu yang menjadi daidancho PETA adalah Jenderal Soedirman, sedangkan Gatot Subroto menjadi shodancho-nya. Selain berlatih kemiliteran, setiap hari Kiyoshi berlatih samurai.

Setelah itu Kiyoshi dipindahkan lagi ke asrama di Ciumbuleuit, Bandung. Tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Karena sudah menyerah, maka para anggota Heiho dan PETA juga dibubarkan.

Kebetulan Kiyoshi kenal dengan seorang anggota Heiho bernama Wagiman, yang sering datang ke tangsi Kiyoshi. Dia mengajak Kiyoshi untuk masuk menjadi tentara RI. Semula dia ragu-ragu, karena belum yakin bahwa dirinya yang orang Jepang itu akan diterima oleh pihak Indonesia.

Tanggal 31 Desember 1945, bersama seorang temannya, Wagiman datang kembali kepada Kiyoshi dengan ajakan yang sama. Kiyoshi dibawa ke arah Lembang, ke tempat peneropong bintang (Boscha) dan diajak menghadap shodancho, yang waktu itu dijabat oleh Kapten Abdul Hamid yang mengepalai Kompi 3.

Akhirnya, bersama dengan dua orang temannya, Cikazawa dan Ishita, Kiyoshi memutuskan masuk TNI, yang waktu itu masih bernama TKR. Mereka segera memperoleh nama baru.

Cikazawa menjadi Mustari, Ishita menjadi Sanusi, dan Kiyoshi Fujita menjadi Saman. Sejak itu mereka diminta untuk tidak menggunakan kembali nama lamanya. Kemudian Saman bergabung dengan batalyon di Lembang.

Pada waktu itu juga ada yang dinamakan Angkatan Api yang dikepalai oleh Haji Thoyib. Melalui orang yang bernama Ishiburo, H. Thoyib memperoleh informasi ada delapan orang tentara Jepang, 4 dari AL dan 4 dari AD, yang ada di sekitar situ.

Waktu itu sulit diketahui mana orang Jepang yang tentara, mana yang bukan. Ketika itu sudah banyak orang Jepang yang berpihak pada Indonesia, tapi mereka tidak tahu pasti harus masuk ke perkumpulan atau kelompok mana.

Atas usul Mayor Rivai dilakukan penangkapan dan pelucutan senjata terhadap orang Jepang yang ditemui. Pukul 24.00 mereka mulai bergerak. Sesuai dengan rencana, kedelapan orang Jepang yang sudah diincar itu dapat ditangkap.

Waktu itu yang menjadi komandan Divisi I Siliwangi adalah A.H. Nasution (jenderal dengan jabatan terakhir sebagai mantan Menpangab). Sementara PETA berada di bawah komando Panglima Besar Soedirman.

Karena waktu itu keadaan belum benar-benar aman, terpaksa Saman dan rekan-rekannya harus mundur sampai ke Cileunyi/Ujung Berung dengan cara berjalan kaki sejauh 11 km. Mereka sampai di tepi laut, di daerah Cipatuja dekat Pameungpeuk di tepi Laut Selatan yang berombak besar.

Jalan kaki 83 hari

Setelah Perundingan Linggarjati, anggota Siliwangi, termasuk Saman dan yang lainnya, diminta hijrah ke Yogyakarta. Malang, Ishita alias Sanusi tertangkap oleh Belanda dan ditembak mati, sementara Cikazawa alias Mustari juga meninggal di Cipatuja.

Kali ini Saman ikut merasakan capek yang bukan main, karena sebagai orang Jepang mereka tidak boleh berkendaraan ke Yogyakarta, tetapi jalan kaki! Mereka juga dibekali sejumlah uang Belanda yang di daerah Sunda pada waktu itu sudah tidak laku.

Tetapi di Yogyakarta uang itu masih laku. Setiap hari mereka berjalan sejauh 4 km. Di tiap desa mereka berhenti untuk beristirahat.

Di Desa Pakuncen mereka sempat bertemu dengan patroli Belanda yang melakukan penyelidikan karena mereka sudah menerima kabar bahwa ada tentara Jepang yang akan menuju ke Yogyakarta. Karena takut kena tangkap, mereka mesti menunggu sampai malam tiba, baru bisa melanjutkan perjalanan.

Perjalanan ternyata masih panjang. Mereka harus melewati Sungai Serayu dan Gombong. Untung, memasuki Gombong berarti mereka sudah memasuki daerah republik.

Walaupun demikian daerah itu belum aman, tetapi tentara RI sudah banyak. Setelah "puas" berjalan kaki sekian lama, baru dari sinilah mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta api.

Setelah 41 hari perjalanan sampailah mereka di Yogyakarta. Di sini mereka diminta untuk memperbaiki senjata oleh seorang kapten dari bagian persenjataan.

Tahun 1948 Belanda masuk ke Yogyakarta. Saman kembali lagi ke Jawa Barat. Sama seperti ketika berangkat, perjalanan kembali ini juga ditempuh dengan berjalan kaki selama 42 hari.

“Saya pikir, waktu itu tentara Jepang sudah kalah dan kami juga belum tentu bisa kembali ke Jepang. Kalau tidak bisa kembali, ya lebih baik tinggal dan masuk menjadi WNI saja,” jawabnya ketika ditanya alasannya menjadi WNI.

Menerima pensiun veteran

Setelah bergabung dengan TNI selama empat tahun, pada 1950, dalam usia relatif muda (28 tahun), Saman memutuskan pensiun dari ketentaraan. Dia sadar akan segala konsekuensinya.

“Ketika masih jadi tentara, saya 'kan masih bisa makan di asrama. Tetapi setelah pensiun mau tak mau saya harus mencari makan sendiri,” katanya.

Untung, Saman bukan orang yang cepat putus asa. Dia berusaha melakukan pekerjaan apa saja untuk menyambung hidupnya. “Ketika masih dinas di Cianjur, saya sempat mengambil SIM, sehingga begitu pensiun, saya menjadi sopir truk,” katanya.

Meskipun dia sudah mengajukan pensiun sejak 1950, surat keputusannya tidak keluar juga meski sudah belasan tahun, padahal segala surat yang diperlukan lengkap. Tahun 1970 dia mencoba lagi untuk mengurusnya dan baru keluar tahun 1972 dengan pangkat letnan satu.

Tahun 1952 Saman pindah dari Cianjur ke Semarang. Menjadi sopir masih dilakukannya sampai tahun 1963.

Kemudian dia membeli mesin jahit, yang digunakannya untuk menjahit terpal truk. Dengan bersepeda ke sana kemari keliling Semarang sekitar 2-3 bulan, Saman berusaha mencari order pada para pemilik truk. Setelah kenal barulah dia memperoleh pekerjaan untuk mereparasi terpal yang rusak.

Di kota ini pula akhirnya Saman melabuhkan hatinya pada seorang gadis Semarang keturunan Cina bernama Emijati yang sudah lama dikenalnya.

Kebetulan Saman waktu itu tinggal dekat dengan rumah nenek Emijati. Namun, untuk makan Saman berlangganan pada pemilik rumah tepat di depan rumah nenek Emijati.

Diam-diam rupanya ada kontak batin antara si pemuda Jepang dengan gadis itu. Setelah sekian lama berhubungan akhirnya mereka sepakat untuk mengikatkan diri dalam perkawinan pada Juli 1965.

Waktu itu Saman berusia 39 tahun, sedangkan istrinya 25 tahun.

Dari perkawinan itu lahirlah seorang putra dan dua orang putri. Meski Saman boleh dikatakan kurang beruntung dalam hal pendidikan, dia tidak melalaikan pendidikan ketiga anaknya.

Ketiganya adalah Fujita Karno yang pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Semarang, Fujita Yulianti, dan Fujita Testiyanti (seharusnya Trestiyanti).

Kehidupan keluarga Saman sangat sederhana. Uang pensiun yang diterimanya tiap bulannya plus tunjangan pengobatan dari Yayasan Warga Persahabatan di Jakarta, sebuah yayasan yang didirikan oleh masyarakat keturunan para mantan tentara Jepang di Indonesia, tidak tidak seberapa besarnya.

“Tak ingin saya pulang ke Jepang. Kalau untuk jalan-jalan sih mau,” kata anak pertama dua bersaudara ini terus terang, ketika ditanyakan hal itu.

Saat diwawancarai oleh Majalah Intisari pada awal 1990-an itu dia tidak tahu apakah adiknya masih hidup atau tidaki karena sudah sekian lama mereka tidak pernah melakukan kontak.

Satu yang pasti, Saman sama sekali tidak menyesal menjadi orang Indonesia. Di dinding rumahnya tergantung beberapa piagam penghargaan yang diterimanya sebagai mantan pejuang TNI.

Sugiyo K. alias Sugimoto

Pemaksaan menjadi tentara Jepang pada PD II juga dialami oleh Sugimoto. Pria yang ketika diwawancarai Intisari berusia 71 tahun itu begitu senang hati menceritakan jalan hidupnya.

“Pada tahun 1941 itu saya sudah bekerja sebagai tukang bubut di sebuah bengkel di Kodiyama, Propinsi Nara,” tuturnya memulai ceritanya yang panjang.

Waktu itu pemuda Sugimoto baru berusia 21 tahun. Berlainan dengan Saman yang diminta menjadi tentara angkatan darat, Sugimoto diharuskan masuk ke angkatan udara.

Tapi hal itu hanya berlangsung selama tiga bulan. Lalu dia pindah ke Shimonoseki. Di sini mereka diminta membentuk kompi pasukan istimewa selama kira-kira setahun sampai Desember 1941.

Kemudian Sugimoto dan teman-temannya dipindahkan ke Palembang. Di sini mereka diberi kesempatan beristirahat sekitar sebulan.

Setahun kemudian Sugimoto dipindahkan lagi ke Lapangan Terbang Branti, Lampung. Di sini dia bertahan sekitar 1,5 tahun.

Setelah Jepang kalah, Sugimoto merasa tidak enak untuk kembali ke Jepang. Bulan November 1945 dia keluar dari ketentaraan Jepang dan masuk TKR.

Berlainan dengan Saman yang waktu itu masuk WNI bersama beberapa orang Jepang, Sugimoto melakukan hal itu sendirian, karena teman-temannya yang lain tidak mau.

Dia sempat dikepung oleh pasukan bambu runcing dari Indonesia dan dibawa menghadap kepala pasukan, karena masih dikira berpihak pada Dai Nippon. Sesudah bergabung dengan TKR, bersama rekan-rekannya dengan bersenjatakan bambu runcing, Sugimoto yang kemudian berganti nama menjadi Sugiyo ini melawan musuh.

Sugiyo pun masih berpindah tempat lagi. Kali ini ke Tanjung Karang dan menetap di sana sekitar tiga tahun sampai 1948.

Tahun 1951 Sugiyo menyunting gadis pribumi asal Kebumen. Namun perkawinan ini tidak berumur panjang, pada 1963 mereka bercerai.

Tahun itu juga dia kawin untuk kedua kalinya. Kali ini dengan seorang wanita keturunan Cina, yang telah meninggal tahun 1982.

Jika Saman setelah keluar dari dinas ketentaraan lalu berusaha berwiraswasta, Sugiyo pernah bekerja di Semarang sekitar tiga tahun (1961-1964) di pabrik timbangan. Mulai 1965 dia membuka bengkel motor.

Pekerjaan ini ditekuninya sampai tahun 1972. Setelah itu yang meneruskannya seorang ipar perempuannya. Dia malu pulang ke negeri asalnya, karena, “Saya tidak punya apa-apa,” katanya perlahan.

Saman bisa mengurus surat pensiunnya, karena dia memiliki semua surat yang dibutuhkan walaupun memakan waktu lama, sedangkan Sugiyo sama sekali tidak memperoleh pensiun, karena semua suratnya harus diurus di Palembang.

“Waktu itu saya tidak punya ongkos sama sekali, sehingga tidak bisa mengurusnya,” katanya.

Karena itu pria yang menghabiskan masa tuanya sebagai warga Kampung Jomblang Timur RT 8/5 no. 28 Semarang ini hanya memperoleh tunjangan pengobatan sebesar Rp60.000 yang dikirim secara rutin tiap bulan oleh Yayasan Warga Persahabatan, ditambah pemberian iparnya yang mengurus bengkel motornya.

Menurut ayah empat orang anak: Lilis Sri Rezeki, Kusnadi, Sri Murtiningsih, dan Sugianto, meskipun dia tidak mengalami kesulitan dengan masyarakat di sekitarnya, dia merasa tingkat hidupnya di sini kurang baik. Ditambah lagi dengan penyakit stroke yang menyerang tubuh bagian kanannya pada tahun 1989.

Karena keadaan itu pula, dia tidak sempat menuntun anak-anaknya memasuki jenjang pendidikan perguruan tinggi.

Mitsuyuki Tanaka kini Sutoro

Perang selain menimbulkan ketakutan pasti menimbulkan kebencian bagi orang-orang yang cinta damai. Begitu pula bagi Mitsuyuki Tanaka yang kemudian berganti nama menjadi Sutoro setelah masuk TNI.

Pria yang ketika diwawancarai Intisari berusia 71 tahun ini sepertinya lahir ke dunia hanya untuk memanggul senjata. Sejak usia 18 tahun dia sudah bertugas di Manchuria, Tiongkok.

Setahun kemudian (1940) dia dipindahkan ke Taiwan, Filipina, kemudian Singapura dan Thailand. Tahun 1942 dia kena wajib militer dan ditugaskan di Indonesia. Maka jadilah dia seorang yang ikut merasakan pahit getirnya PD II.

Cerita yang digelarnya juga pasti tidak jauh berbeda dengan pengalaman para rekannya yang lain, yang sisa hidupnya dia habiskan dengan menjadi WNI.

Karena itu dia juga merupakan salah seorang yang memutuskan tidak akan kembali ke Jepang, setelah tahu Jepang kalah. Dia malah bergabung dengan BKR di Magelang di bawah pimpinan Letkol M. Sarbini.

“Waktu itu pangkat saya buco (sersan), tapi begitu masuk tentara Indonesia naik menjadi sersan mayor,” ujarnya.

Hal itu ternyata tidak sia-sia. Sebagai tentara tentu Sutoro dapat diandalkan.

Kalau tidak, mana mungkin ketika pensiun dari TNI-AD dia berpangkat letnan kolonel. Menurut catatan, inilah pangkat tertinggi yang pernah dicapai oleh seorang mantan tentara Jepang dalam jajaran TNI.

Dalam pengalaman, Sutoro tidak perlu diragukan lagi. Dia pernah aktif terjun di berbagai medan perang, antara lain Palagan Magelang (September 1945), Pertempuran Ambarawa (Oktober 1945).

Bahkan pada yang terakhir ini, dia memperoleh “kenang-kenangan” dari tentara sekutu berupa bekas peluru di dada kirinya.

Kecintaannya pada Indonesia juga dibuktikannya dengan menikahi Suparti pada 28 Juli 1948. Menurut anaknya, Koyi, Sutoro ini keturunan samurai pengawal kerajaan yang identik dengan Ninja di zaman sekarang.

Perang memang membuat orang menjadi kejam. Sutoro enggan mengungkapkan berapa banyak tentara Sekutu yang mati di tangannya. “Sudah tak bisa dihitung,” katanya singkat.

“Kami berani karena ingin hidup. Makanya di medan perang musuh harus dimatikan dulu supaya kami bisa hidup. Kalau tidak demikian kita sendiri yang akan menjadi korban,” sambungnya.

Meskipun PD II sudah lama lewat, hal itu tak membuat Sutoro melupakan kebenciannya kepada sekutu. Dia pernah nekat membongkar gudang persenjataan Inggris di Magelang, lalu membagi-bagikannya kepada pejuang RI, termasuk belasan truk berisi peluru.

Laki-laki yang sejak 18 Desember 1963 resmi menjadi WNI ini mengaku pernah berganti-ganti nama dengan Sastro, Basri, karena sering dikejar-kejar tentara sekutu.

Disiplin militer masih terbawa dalam kehidupan sehari-hari Sutoro. Hal itu tercermin dari ucapan Lily yang menjadi menantunya.

“Saya tidak pernah humor dengan Pak Toro, begitu juga sikap beliau terhadap anaknya. Pokoknya, kami harus tabah. Selain itu Pak Toro tidak mau tahu bagaimana keadaan kami. Dia akan membiarkan kami supaya bisa berdiri sendiri,” kata istri Sugiyono Sutoro ini.

Namun, Sutoro yang pernah bertugas di Irian Barat dalam rangka Trikora ini tidak pernah membanggakan diri dan memamerkan tanda-tanda penghargaan yang diperolehnya, padahal di ruang tamunya terpajang sepuluh buah satya lencana.

Bangga jadi orang Indonesia

Apa yang dialami Saman, Sugiyo, ataupun Sutoro sangat membekas di hati mereka. Bukan kebanggaan yang mereka peroleh dari pemerintah yang pernah mengirim mereka terjun ke medan pertempuran yang akhirnya membuat Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 8 Agustus 1945.

Menyesalkah mereka mengambil keputusan untuk menjadi WNI dengan kehidupan mereka, yang umumnya jauh dari standar kemakmuran orang Jepang modern sekarang ini?

“Tidak, kami tidak menyesal menjadi WNI, bahkan bangga,” kata Saman. “Walaupun kecil, pemerintah Indonesia masih mempunyai perhatian kepada kami dengan memberi uang pensiun,” katanya dengan suara haru.

Jika ditanyakan hal yang sama, jawaban para mantan tentara Jepang ini akan bermuara kepada penyesalan terhadap sikap Jepang yang seakan-akan sudan membuang mereka begitu saja. Tanpa mempertimbangkan jerih payah dan nyawa yang sudah mereka pertaruhkan untuk pertempuran yang sama sekali tidak pernah mereka cita-citakan.

Ketika direkrut Jepang para pemuda itu masih kuat-kuatnya. Mereka kini kelihatan sangat tidak berdaya karena dimakan usia dan penyakit.

Rasa tidak puas itu bukan hanya ada di hati para isei itu. Ganjalan yang sama juga menggayuti perasaan anak-anak mereka, seperti yang diungkapkan oleh Fujita Karno dengan suara agak sengit.

“Inikah balasan yang diterima oleh ayah kami? Ketika dibutuhkan, secara paksa mereka harus mau meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga mereka. Kok pemerintah Jepang sama sekali tidak punya perhatian kepada orang tua kami. Setelah perang berakhir mereka malah terlunta-lunta,” katanya.

Ucapan putra sulung Saman ini juga senada dengan kedongkolan yang tersimpan di hati Sutoro. “Saya benar-benar sakit hati pada Jepang. Mereka sama sekali tidak memperhatikan nasib kami. Padahal dulu yang mengirim kami untuk berperang adalah pemerintah Jepang. Sekarang kalau ada perang melawan Jepang, saya mau jadi orang pertama yang berjibaku melawan Jepang,” kata kakek yang di kemudian hari menjadi pengusaha bus itu.

Tentu saja kedongkolan Sutoro ada dasarnya, selain tidak ada perhatian, putra sulung dari tujuh bersaudara ini harus meninggalkan Tomiko Yano, istri yang baru dinikahinya hanya dua bulan sebelum menjalani tugas militer di Indonesia.

Baru pada 1970, ketika berkesempatan pergi ke Jepang, dia sempat bertemu dengan keluarga dan istrinya yang ketika itu sudah menjadi istri orang lain. Rasa haru menyelimuti pertemuan mereka. Suami baru Tomiko Yano dengan rela mau menyerahkan kembali istrinya kepada Sutoro, namun itu ditolaknya dengan halus dan penuh pengertian.

“Saya sama sekali tidak lagi tertarik dengan Jepang, karena Jepang yang sekarang walaupun sudah makmur, sama sekali sangat berbeda dengan pada waktu saya tinggalkan puluhan tahun yang lalu,” komentarnya mengenai Jepang yang sudah kaya raya. “Pokoknya, kini semua yang saya lakukan hanya untuk Indonesia.”

Berapa banyak mantan tentara Jepang yang memiliki keberuntungan seperti Sutoro, yang bisa menikmati masa tuanya dengan tenang? Sementara daftar yang kurang beruntung masih lebih panjang lagi. Di tengah ketidakberdayaan mereka, hidup memang seakan lewat tanpa arti, sementara usia mereka semakin di ujung senja.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.