TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Di balik kesibukannya memimpin Yayasan Mardi Wiyata yang menaungi puluhan satuan pendidikan Katolik di Indonesia, Frater Dr. M. Polikarpus, BHK,M.Pd menyimpan kisah perjuangan panjang dalam dunia akademik. Di tengah jadwal pelayanan, tanggung jawab organisasi dan tugas sosial yang padat, ia berhasil menuntaskan studi doktoral di Universitas Negeri Malang (UM).
Perjuangan itu akhirnya mencapai puncaknya ketika Frater Polikarpus resmi meraih gelar Doktor Manajemen Pendidikan dalam prosesi wisuda Universitas Negeri Malang yang berlangsung di Malang, Sabtu (30/5/2026).
Bagi pria yang memiliki nama asli Aljuprianus Susar ini, pencapaian tersebut bukan sekadar gelar akademik, melainkan buah dari ketekunan, disiplin dan perjuangan panjang yang penuh tantangan.
"Rasanya plong. Perjuangan panjang dan melelahkan ini akhirnya terlewati," ungkapnya penuh syukur beberapa waktu silam.
Baca juga: Sejarah Singkat SMAK Frateran Podor, Sekolah Favorit di Flores Timur
Sebagai seorang biarawan sekaligus pimpinan lembaga pendidikan, Frater Polikarpus harus menjalani peran ganda. Ia dituntut membagi waktu antara pelayanan sebagai anggota Kongregasi Bruder Budi Mulia (BHK), memimpin Yayasan Mardi Wiyata, mendampingi dunia pendidikan serta menyelesaikan tuntutan akademiknya.
Ia mengakui perjalanan meraih gelar doktor tidak selalu mudah. Banyak malam harus dilewati dengan bekerja hingga larut untuk menyelesaikan penelitian dan disertasi.
Dalam proses tersebut, kejenuhan dan rasa lelah kerap datang. Bahkan, ia sempat menghadapi masa-masa sulit ketika kehilangan ide dalam menyusun penelitian.
"Terkadang benar-benar blank. Membuka laptop, melihat layar, tetapi tidak tahu harus menulis apa. Rasanya seperti kehilangan arah," ujarnya.
Namun, tantangan itu tidak membuatnya menyerah. Spiritualitas dan keyakinannya menjadi kekuatan untuk terus melangkah.
"Bagi saya, Tuhan selalu baik. Ketika merasa lemah dan hampir menyerah, selalu ada suara dalam hati yang berkata: 'Jangan takut, kamu pasti bisa.' Kalimat sederhana itu yang membuat saya bangkit kembali," tuturnya.
Selain menyelesaikan disertasi, Frater Polikarpus juga harus memenuhi tuntutan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus. Baginya, proses tersebut menjadi salah satu bagian paling menantang selama studi doktoral.
"Kadang-kadang rasanya lebih sulit daripada menulis disertasi itu sendiri. Naskah yang sudah dianggap baik masih harus direvisi berulang kali agar memenuhi standar jurnal internasional," katanya.
Bagi Frater Polikarpus, momen wisuda tersebut memiliki makna yang semakin istimewa karena bertepatan dengan Hari Raya Bunda Hati Kudus.
"Saya percaya semuanya menjadi indah pada waktunya. Wisuda pada Hari Raya Bunda Hati Kudus adalah hadiah terindah dari Tuhan setelah perjalanan panjang yang penuh perjuangan," pungkasnya.
Kini, gelar doktor yang diraihnya menjadi bekal baru bagi Frater Polikarpus untuk terus mengembangkan dunia pendidikan, khususnya melalui pelayanan Yayasan Mardi Wiyata yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Katolik di Indonesia.