TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mengingatkan sejumlah faktor yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi pada Agustus 2026.
Meski pada Juli 2026 Kota Kediri mengalami deflasi secara bulanan, tekanan harga diperkirakan masih berpotensi meningkat seiring berbagai momentum dan kondisi eksternal.
Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono, mengatakan pengendalian inflasi perlu terus dilakukan, terutama pada komoditas pangan yang rentan mengalami gejolak harga.
"Beberapa komoditas pangan perlu dijaga ketersediaannya, terutama telur ayam ras, daging ayam ras, dan komoditas lain yang rentan terdampak perubahan cuaca," kata Emil, Rabu (5/8/2026).
Menurut Emil, selain dipengaruhi faktor cuaca, meningkatnya permintaan masyarakat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia juga diperkirakan memicu kenaikan harga sejumlah bahan pangan.
BPS menilai momentum tersebut perlu diantisipasi agar pasokan tetap terjaga dan lonjakan harga dapat ditekan.
Penyesuaian BBM dan Harga Energi Dunia Jadi Perhatian
BPS juga menyoroti penyesuaian tarif BBM non-subsidi yang masih berlangsung.
Apabila harga minyak dunia kembali meningkat akibat dinamika geopolitik global, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang yang pada akhirnya berdampak terhadap harga di tingkat konsumen.
"Perkembangan harga energi dunia perlu terus dicermati karena dapat berdampak pada biaya distribusi dan akhirnya memengaruhi harga berbagai komoditas di tingkat konsumen," terang Emil.
Selain itu, sektor pendidikan juga diperkirakan memberikan tekanan terhadap inflasi pada Agustus karena adanya penyesuaian tarif yang lazim terjadi pada awal tahun ajaran baru.
Juli 2026 Deflasi, tetapi Inflasi Tahunan Masih 2,64 Persen
Berdasarkan data BPS, inflasi tahunan (year on year) Kota Kediri pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,64 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,77 persen, sedangkan komoditas bensin menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,30 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month to month) Kota Kediri justru mengalami deflasi sebesar 0,14 persen.
Penurunan harga cabai rawit, bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, dan tomat menjadi faktor utama yang menekan Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang Juli 2026.
Emil berharap seluruh pemangku kepentingan terus bersinergi menjaga stabilitas harga melalui pengawasan pasokan dan distribusi barang.
"Pengendalian inflasi membutuhkan kolaborasi semua pihak agar pasokan tetap terjaga dan gejolak harga dapat diminimalkan, terutama menghadapi berbagai momentum yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian sekaligus Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Bambang Tri Lasmono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga selama Agustus 2026.
Langkah tersebut dilakukan mengingat pada bulan ini terdapat momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat.
"Kami akan rutin menggelar pemantauan harga komoditas pangan di pasar secara kontinyu sebagai peringatan awal guna mendeteksi fluktuasi harga," ujarnya.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)