Satgas Percepatan Program MBG Jateng Dorong BGN Beri Sanksi SPPG Penyebab Keracunan di Semarang
rival al manaf August 05, 2026 07:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ketua Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah, Taj Yasin mendorong adanya pemberian sanksi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyebab keracunan 707 pelajar di SMKN 6 Semarang.

Sanksi tersebut tentunya dengan mempertimbangkan hasil temuan pelanggaran. 

"Iya, kami mendukung pemberian sanksi kalau memang ada kesalahan atau ketidaksesuaian dalam SOP-nya," ujar Taj Yasin selepas sidang Paripurna di Gedung DPRD Jateng, Kota Semarang, Rabu (5/8/2026).

Yasin mengaku, telah memberikan evaluasi terkait SPPG karangturi Semarang yang menyebabkan keracunan ratusan pelajar. Namun, ia tidak menyebutkan secara detail hasil evaluasi tersebut.

Baca juga: Pasca OTT KPK di Pemalang, Plt Bupati Pekalongan Ingatkan Jajarannya Menjaga Uang Rakyat

Baca juga: Tiga Pekan Kesulitan Air, Warga Pekalongan Harap Dropping Air Bersih Ditambah

"Urusan apakah itu sanksinya bagaimana, kami serahkan ke BGN," jelasnya.

Terpisah, senator DPD RI Perwakilan Jawa Tengah, Abdul Kholik menyayangkan peristiwa keracunan yang menimpa ratusan pelajar di Kota Semarang.

Menurutnya, kejadian ini telah berulang kali terjadi sehingga perlu evaluasi yang serius.

Ia menyarankan ada dua hal yang harus dilakukan evaluasi oleh BGN untuk memitigasi kejadian keracunan ini.

"Pertama, anggaran MBG harus ditambah, sekarang Rp15 ribu, bisa ditambah menjadi Rp20 ribu," ungkapnya.

Penambahan itu, kata dia, juga harus dibarengi dengan pengurangan jumlah penerima MBG. BGN harus melakukan kajian secara cermat sekolah-sekolah mana saja yang harus menerima MBG.

Begitupun dengan sekolah bisa menolak menerima MBG saat merasa sekolahnya tidak memerlukan program tersebut.

"Jadi harus benar-benar diseleksi ulang, ditanya ulang, mau atau tidak, misal tidak mau tidak masalah," jelasnya.

Dua hal itu, lanjut Kholik, perlu dilakukan agar standar menu MBG meningkat dengan penambahan anggaran setiap menunya. Secara bersamaan, sasaran penerima harus ditinjau ulang yakni program hanya diberikan kepada mereka yang sangat membutuhkan.

Dari hasil pendataan, sebanyak 707 orang mengalami gejala keracunan  meliputi 693 siswa dan 14 guru.

Mereka alami muntah dan diare selepas menyantap menu MBG.

Ratusan korban itu telah mendapatkan penanganan medis di lokasi.

Sisanya, sembilan orang sempat dirujuk ke rumah sakit untuk observasi.

Hingga Senin (3/8/2026), masih ada enam pelajar perempuan yang masih dirawat.

Lalu, pada Selasa (4/8/2026), semua siswa sudah pulang dari rumah sakit. (Iwn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.