Sosok Rivan, Alumnus LPDP Bantu Petani Aceh Dapat Harga Panen Lebih Adil
GH News August 05, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Rivan Rinaldi merasa terusik dengan jerih payah petani yang belum dihargai secara layak. Harga seikat bayam yang dijual sekitar Rp 2.000 di sebuah pasar di Aceh, hanya mendapat untung Rp 300.

Bagi Rivan, selisih itu bukan sekadar persoalan harga. Ada ketidakpastian bagi petani yang terus berulang setiap musim panen.

Berbekal ilmu yang diperoleh melalui beasiswa LPDP, Rivan membangun Rumoh Pangan Aceh untuk memperkuat posisi petani, mengembangkan pangan lokal, dan menghadirkan sistem pangan yang lebih adil.

"Petani yang jagain, yang rawat, panas, hujan, nanam, segalanya. Tapi yang kaya siapa? Yang sejahtera siapa?" kata Rivan dalam laman Media Kementerian Keuangan dikutip Rabu (5/8/2026).

Rivan dan tim Rumoh Pangan Aceh membeli hasil panen dengan skema contract farming. Harga minimum disepakati sejak awal sehingga petani dapat memperkirakan hasil yang akan diterima.

Rumoh Pangan Aceh ingin menghubungkan petani dengan pasar dan rantai industri yang mampu menyerap hasil produksi secara berkelanjutan. Sekitar 200 petani dan pelaku pangan telah terlibat dalam program ini.

Selain itu, Rumoh Pangan Aceh juga menjalankan penyelamatan pangan, sedekah pangan, dan edukasi gizi. Gerakan tersebut berupaya memastikan hasil panen tidak terbuang, petani memperoleh nilai lebih layak, dan pangan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Sebagus-bagusnya program adalah program yang dijalankan. Walaupun kecil, ia bisa menjadi gelombang yang berkelanjutan," kata Rivan.

Perjuangan Anak Aceh Demi Masa Depan Petani

Masa kecil Rivan sendiri dekat dengan dunia pertanian. Putra Desa Ladang, Aceh Selatan, itu kerap ikut ke sawah dan kebun pala. Dari sana, ia melihat ironi orang-orang yang mengusahakan ketahanan pangan belum hidup sejahtera.

Mimpi itu ia bawa ke Wageningen University & Research di Belanda. Dengan beasiswa LPDP, Rivan mendalami pemuliaan tanaman untuk menjawab persoalan hama dan penyakit pala di Aceh. Namun, setelah mengikuti perkuliahan awal, ia memilih bidang yang dinilai lebih cepat diterapkan.

"Apa sih masalah mendasar yang bisa segera saya selesaikan dan memberikan manfaat bagi orang banyak?" kenangnya.

Ia mempelajari sistem produksi tanaman, pertanian regeneratif, pertanian berkelanjutan, serta hubungan antara teknologi, lingkungan, produktivitas, dan pasar.

Rivan juga memahami bahwa pertanian tidak cukup dibangun dengan mengajarkan cara menanam. Petani perlu ditempatkan dalam ekosistem yang menghubungkan produksi, pengolahan, industri, dan konsumen.

Belajar Lebih Lanjut Setelah Lulus

Satu bulan sebelum lulus kuliah di Wageningen, Rivan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan pengolahan kelapa di Aceh. Ia mendampingi petani, menjaga kualitas bahan baku, dan menangani sertifikasi organik. Peran tersebut memberinya pemahaman mengenai rantai bisnis pertanian, sejak hasil dipanen hingga diproses untuk pasar ekspor.

Setelah hampir tiga tahun bekerja, Rivan mengikuti program fellowship di Amerika Serikat. Ia belajar dari organisasi lokal dan petani di sana mengenai pasar yang lebih adil dan pengelolaan organisasi. Rivan juga sempat mendalami peran bank pangan dalam membantu masyarakat sekaligus menyerap hasil panen.

Sepulang dari program fellowship tersebut, Rivan memilih meninggalkan pekerjaannya dan mendirikan Rumoh Pangan Aceh pada 2024.

Nikita Rosa
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.