TRIBUN-TIMUR.COM- Lima kepala daerah bergabung kemudian memimpin dewan pimpinan cabang (DPC) Partai Gerindra di kabupaten masing-masing.
Lima kepala daerah yang menerima mandat sebagai Ketua DPC Gerindra yakni Bupati Enrekang Muh Yusuf Ritangnga.
Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali, Bupati Sinjai Ratnawati Arif, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, dan Bupati Wajo Andi Rosman.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, mengukuhkan mereka dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD Gerindra Sulsel di Upperhills, Jalan Metro Tanjung Bunga, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Selasa (4/8/2026) siang.
Menurut Pengamat Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar, Prof Firdaus Muhammad, masuknya lima bupati sebagai Ketua DPC Partai Gerindra di Sulawesi Selatan menunjukkan perubahan strategi rekrutmen politik yang kini lebih bertumpu pada figur kepala daerah dibanding sekadar penguatan kader internal.
"Gerindra sedang membangun strategi politik berbasis kekuasaan lokal. Kepala daerah memiliki modal elektoral, jaringan birokrasi, serta tingkat pengenalan publik yang tinggi sehingga dapat mempercepat konsolidasi organisasi di daerah," ujar mantan dekan Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar ini ke tribun-timur.com, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Duo Sahabat Crazy Rich Tanah Luwu Trisal Tahir- Unru Baso Jadi Ketua DPC Gerindra
Profesor kelahiran Paselloreng, Wajo, 20 Februari 1976 ini menilai fenomena perpindahan elite dari partai lain ke Gerindra tidak dapat dipisahkan dari posisi partai tersebut sebagai partai presiden.
"Dalam ilmu politik dikenal efek bandwagon, yakni kecenderungan elite politik mendekati partai yang memiliki akses terhadap pusat kekuasaan. Setelah Prabowo menjadi presiden, Gerindra memiliki daya tarik yang semakin besar bagi elite daerah," kata alumnus Madrasah Ibtidaiyah Pesantren Asadiyah Wajo (1989).
Meski demikian, Prof Firdaus mengingatkan bahwa bergabungnya sejumlah kepala daerah tidak otomatis menjamin kekuatan partai di tingkat akar rumput.
"Popularitas kepala daerah memang menjadi modal awal. Namun kemenangan politik tetap ditentukan oleh kemampuan membangun struktur partai yang solid hingga tingkat kecamatan dan desa. Figur tanpa mesin partai yang kuat akan sulit mempertahankan pengaruh dalam jangka panjang," jelas alumnus Madrasah Tsanawiyah Pesantren Asadiyah Wajo (1992) ini.
Menurutnya, penunjukan kepala daerah sebagai Ketua DPC juga merupakan upaya Gerindra menghadapi kontestasi politik berikutnya.
"Langkah ini bisa dibaca sebagai investasi politik jangka panjang. Gerindra tidak hanya mempersiapkan Pemilu legislatif, tetapi juga mulai menata peta kekuatan untuk Pilkada berikutnya agar kader maupun tokoh yang didukung memiliki basis organisasi yang lebih kuat," kata doktor S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2008) ini.
Ia menambahkan, perpindahan sejumlah elite dari NasDem dan Golkar menunjukkan kompetisi antarpartai kini semakin ditentukan oleh kemampuan mempertahankan tokoh-tokoh berpengaruh di daerah.
"Ke depan, persaingan partai politik bukan hanya soal ideologi atau program, tetapi juga kemampuan menjaga loyalitas elite lokal. Karena itu, dinamika perpindahan tokoh seperti ini kemungkinan masih akan terus terjadi menjelang tahapan politik berikutnya," kata Direktur Eksekutif The Political Society, Makassar ini.
Menurut Prof Firdaus Muhammad, bergabungnya lima bupati sebagai Ketua DPC Gerindra di Sulawesi Selatan memiliki makna politik yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepengurusan partai di daerah.
"Ini merupakan sinyal bahwa Gerindra sedang melakukan konsolidasi kekuatan politik berbasis kepala daerah. Ketika para bupati bersedia menjadi pimpinan partai, itu menunjukkan Gerindra berhasil meningkatkan daya tarik politiknya sebagai partai yang memiliki akses langsung terhadap pemerintahan nasional," ujar Ketua Komisi Media dan Informatika MUI Makassar ini.
Ia menilai fenomena tersebut juga memperlihatkan terjadinya pergeseran orientasi elite politik daerah.
"Banyak elite kini lebih mempertimbangkan efektivitas membangun komunikasi dengan pemerintah pusat dibanding mempertahankan afiliasi politik lama. Ini adalah bentuk realignment atau penataan ulang peta kekuatan politik di daerah," kata mantan Sekretaris LDNU Sulsel ini.
Menurut Prof Firdaus, dampak pertama yang akan terlihat adalah semakin menguatnya posisi Gerindra di Sulawesi Selatan.
"Gerindra tidak hanya memperoleh tambahan kader, tetapi juga mendapatkan jaringan politik yang sudah terbentuk melalui kepala daerah. Ini mempercepat konsolidasi hingga ke tingkat desa tanpa harus membangun dari nol," jelas Moderator Debat Kandidat Pilkada Majene dan Debat Kandidat Pilkada Barru tahun 2015 ini.
Kini Gerindra mempunyai 10 kader sekaligus ketua partai.
Berikut daftarnya:
Dampak berikutnya, kata dia, adalah meningkatnya tekanan bagi partai-partai lain untuk mempertahankan kader strategisnya.
"Ketika satu partai mampu menarik banyak kepala daerah, partai lain akan menghadapi tantangan menjaga soliditas internal. Potensi perpindahan elite bisa semakin besar apabila tidak ada penguatan organisasi maupun regenerasi kepemimpinan," ujar Timsel KPU Kabupaten Gowa, Bulukumba, Bone, Soppeng, Barru, Pangkep dan Maros tahun 2018 ini.
Ia juga menilai konfigurasi politik menjelang Pemilu dan Pilkada berikutnya berpotensi berubah.
"Kepala daerah memiliki pengaruh sosial, jaringan relawan, dan kemampuan membangun komunikasi politik di wilayahnya. Jika seluruh potensi itu terintegrasi dengan mesin partai, Gerindra berpeluang meningkatkan perolehan kursi legislatif sekaligus memperkuat posisi dalam kontestasi kepala daerah mendatang," kata Kolomnis Tribun Timur ini.
Meski demikian, Prof Firdaus mengingatkan bahwa keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada kemampuan Gerindra menjaga keseimbangan antara kader lama dan tokoh-tokoh baru.
"Masuknya banyak elite memang menjadi keuntungan politik. Namun tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola kepentingan internal agar tidak memunculkan friksi. Konsolidasi yang berhasil bukan hanya soal merekrut tokoh, tetapi juga menyatukan mereka dalam satu visi organisasi," kata Panelis Debat Publik Pilkada Takalar (2016) ini.(*)