TRIBUNBANYUMAS.COM, SOLO – Pusat Grosir Solo (PGS) tutup permanen setelah perusahaan pengelola pusat perbelanjaan tekstil di Kota Solo, Jawa Tengah, itu dinyatakan pailit.
PT Putera Griya Sentosa selaku pengelola PGS diputus pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 26 Februari 2026.
Informasi terkait pengelola pailit itu juga tertuang dalam banner pengumuman yang dipasang di beberapa sudut PGS.
Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa PGS berada dalam proses sita umum akibat kepailitan dan kini berada di bawah penguasaan Tim Kurator PT Putera Griya Sentosa.
"Berdasarkan Putusan Nomor: 6/Pdt.Sus-PKPU/2025/PN Niaga Smg di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang tertanggal 9 Februari 2026, seluruh harta milik PT Putera Griya Sentosa (dalam pailit) berada dalam penguasaan dan pengawasan Tim Kurator sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU," bunyi pengumuman itu.
Kondisi pailit pengelola PGS ini membuat pedagang di PGS mulai angkat kaki.
Sepekan terakhir, mereka mulai mengosongkan kios yang mereka tempati.
Satu di antaranya Budi (54), pedagang asal Solo.
"Sudah sejak awal bulan ini pedagang mulai bersih-bersih, beresin kios," terang Budi saat ditemui, Rabu (5/8/2026).
Baca juga: Viral Pagar Hijau Pakuwon Mall Solo Baru, Mal Lain Pilih Tetap Terbuka
Menurut Agus, para pedagang sudah mengetahui bahwa mereka harus segera pindah dari PGS karena pailit sejak tahun lalu.
Namun, mereka memilih menunggu kontrak sewa kios habis.
"Otomatis, kita, pedagang, tinggal menghabiskan masa sewa dan tidak bisa memperpanjang lagi," lanjutnya.
Budi dan sejumlah pedagang memilih pindah ke Beteng Trade Center (BTC) untuk kembali mencoba peruntungan sebagai pedagang pakaian.
Letak BTC yang bersebelahan dengan PGS dinilai memudahkan pelanggan menemukan mereka.
Budi mengaku sudah 20 tahun berdagang di PGS.
"Sekarang pindahnya ke BTC ya karena dekat, jadi biar pelanggan tidak kesusahan nyarinya," ujar Budi.
Kondisi pailit itu tak hanya memengaruhi pedagang tetapi juga pegawai PGS.
Bachtiar Ibnu Fadzil, satu di antara eks karyawan PGS mengatakan, ada puluhan pegawai yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Namun, saat ini, Fadzil masih bekerja di PGS karena direkrut Tim Kurator untuk membantu proses pengosongan gedung pusat perbelanjaan di Jalan Mayor Sunaryo, Solo, itu.
"Saya sendiri masih punya kontrak dengan Tim Kurator sampai 31 Agustus."
"Kalau kontrak saya dengan manajemen PT Putera Griya Sentosa itu sudah diakhiri tanggal 26 Februari 2026," ujar Fadzil saat ditemui, Rabu.
Baca juga: Bawaslu Solo Buka Suara Soal Tudingan FX Rudy Terkait Politik Uang Pemilu 2024
Ia menjelaskan, hanya segelintir mantan karyawan yang kembali direkrut sementara oleh Tim Kurator untuk menangani proses kepailitan.
"Semua kontraknya sudah di-cut, kita sudah di- PHK."
"Ada beberapa orang dari manajemen yang masih dipekerjakan oleh Tim Kurator untuk meng-handle PGS dalam pailit ini," katanya.
Fadzil mengatakan, perusahaan belum sepenuhnya membayar hak-hak karyawan.
Bahkan, tunjangan hari raya (THR) tahun 2025 masih belum dibayar.
Begitu juga gaji bulan terakhir bekerja, tak dibayar penuh.
"Belum (terpenuhi haknya)," ujarnya.
"Saya dibayar sih (gajinya). Cuma di bulan terakhir kontrak itu masih ada yang menggantung beberapa hari. Termasuk THR tahun kemarin nggak turun," imbuhnya.
Meski demikian, Fadzil mengakui selama bertahun-tahun bekerja di PGS, pembayaran gaji sebelumnya selalu dilakukan tepat waktu.
Persoalan baru muncul setelah perusahaan dinyatakan pailit.
Kini, para eks karyawan masih saling berkomunikasi untuk berbagi informasi dan saling menguatkan.
Baca juga: Toyota Innova Ringsek Tabrak Truk Tronton di Tol Semarang-Solo Wilayah Salatiga, Sopir Luka Berat
Sebagian dari mereka sudah mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain, sementara sebagian lainnya memilih membuka usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Fadzil, mayoritas eks karyawan PGS yang terdampak PHK masih berada pada usia produktif, yakni di bawah 40 tahun sehingga berharap bisa segera mendapatkan pekerjaan baru.
Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta menawarkan puluhan kios di Pasar Klewer dan Pasar Jongke kepada pedagang terdampak penutupan permanen PGS.
Ada 97 kios di kedua pasar tersebut yang siap menampung mereka.
"Kami siap memfasilitasi eks pedagang PGS."
"Kami juga sudah cek, ada tempat yang bisa dipakai di Pasar Jongke dan di Pasar Klewer," ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Arif Handoko saat dihubungi, Rabu.
Arif menjelaskan, di Pasar Jongke, tersedia 74 kios yang berada di lantai 2 dan lantai 3.
Kios-kios tersebut berada di area pedagang aksesori dan pakaian yang berdampingan dengan pedagang plastik serta peralatan rumah tangga.
Sementara itu, di Pasar Klewer, terdapat 23 kios kosong di lantai 4 yang juga dapat dimanfaatkan oleh eks pedagang PGS.
Menurut Arif, Dinas Perdagangan masih akan terus mendata kios kosong di pasar-pasar milik pemerintah yang berpotensi digunakan untuk menampung para pedagang PGS.
Namun, keputusan pindah ke pasar milik Pemkot Solo itu diserahkan kepada pedagang eks PGS.
Senada dengan itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengatakan, pemkot tetap berupaya membantu para pedagang meski PGS merupakan pusat perbelanjaan yang dikelola pihak swasta.
Respati mengaku prihatin atas tutupnya PGS yang selama ini menjadi salah satu pusat perdagangan di Kota Solo.
Karena itu, Pemkot membuka akses bagi pedagang yang ingin melanjutkan usahanya di pasar tradisional.
"Kami ikut prihatin tentunya PGS tutup, padahal dulu pusat grosir yang luar biasa."
"Tetapi jika pedagang yang terbiasa offline, kami menawarkan beberapa pasar, Pasar Klewer
dan pasar-pasar yang lain."
"Silakan ke Dinas Perdagangan, nanti kami akan bantu memberikan informasi tempat untuk eks pedagang PGS."
"Apabila ada yang kosong akan segera kami informasikan," kata Respati. (Tribunsolo.com/dre/amd)