Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mendukung investasi pada pendidikan dalam rangka memperluas kesempatan kerja pada remaja untuk meraih bonus demografi.
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyampaikan pendidikan yang berkualitas, lapangan pekerjaan yang layak, dan ruang untuk menyampaikan aspirasi menjadi harapan dan aspirasi utama generasi muda Indonesia saat ini.
"Pemerintah mendorong investasi pada pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kesempatan kerja agar bonus demografi benar-benar menjadi modal pembangunan Indonesia," katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Bonivasius menegaskan, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menyiapkan masa depan bangsa, oleh karena itu, masukan dari generasi muda sangat dibutuhkan dan seharusnya hal tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi juga berkontribusi dan berkolaborasi dalam proses pembangunan.
"Memang tidak mudah saat kita bersuara. Namun selama hal itu baik, tetap lakukan dan bersuara karena yang akan menikmati hasilnya adalah adik-adik sendiri. Tidak hanya bersuara ataupun menyampaikan aspirasi, tetapi juga ikut berkontribusi dan berpartisipasi dalam proses tersebut dengan berkolaborasi," ucap Bonivasius.
Dalam dialog antara pelajar SMP dan SMA dari Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), perwakilan Generasi Berencana (Genre), Gerakan Bangun Remaja dan Anak Jakarta (Gerbang Raja), serta Karang Taruna pada Puncak Peringatan Hari Kependudukan Dunia (HKD), Bonivasius mengakui bahwa pelajar tentu memiliki masa depan yang mereka cita-citakan.
Hal itu, menurutnya, hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh akses pendidikan yang lebih baik dan kesempatan kerja yang memadai.
Fransiskus, siswa SMP Negeri 251 Jakarta, yang bercita-cita menjadi insinyur berharap pemerintah membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi generasi muda. Senada, Keshira Rizki Henri dari SMA Negeri 9 Jakarta menilai peningkatan kualitas pendidikan menjadi bekal penting agar anak muda mampu memperoleh pekerjaan yang layak.
Pandangan itu diperkuat Agus Muhammad Ramadhan yang menekankan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga cerdas mengenali potensi diri dan mampu memanfaatkannya di dunia kerja.
Selain pendidikan dan pekerjaan, generasi muda juga berharap diberi ruang untuk terlibat dalam pembangunan. Perwakilan Forum Genre DKI Jakarta Andira Exel Zes menegaskan, remaja perlu dilibatkan secara bermakna (meaningful youth participation), bukan sekadar menjadi peserta kegiatan.
Sementara itu, Taufik Ilham Pamungkas dari SMK Negeri 24 Jakarta mengajak anak muda berani menyampaikan gagasan meski harus menghadapi kritik, karena perubahan hanya dapat terwujud ketika generasi muda ikut bersuara dan mengambil peran.





