ISPA Belum Melonjak di MUSIM Kemarau, RSUD Ratu Zalecha Martapura Justru Catat Peningkatan Diare
Hari Widodo August 05, 2026 10:06 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - RSUD Ratu Zalecha Kabupaten Banjar belum menemukan lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Meski masuk musim kemarau yang diiringi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), RSUD Ratu Zalecha Kabupaten Banjar belum menemukan lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

Di sisi lain, rumah sakit justru mencatat adanya peningkatan pasien yang datang dengan keluhan diare.

Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ratu Zalecha, drg. Rahimayanti, Rabu (5/8/2026) mengatakan sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik. 

Baca juga: Kasus ISPA di Kalsel Naik 20 Persen, Banjarmasin-Banjarbaru-Banjar Jadi Fokus Pemantauan

Pasien yang dirujuk ke rumah sakit umumnya sudah mengalami kondisi yang lebih berat, seperti pneumonia atau memiliki penyakit penyerta.

"Kasus ISPA sebagian besar selesai ditangani di puskesmas atau klinik. Pasien yang dirujuk ke rumah sakit tipe B seperti RSUD Ratu Zalecha umumnya sudah mengarah ke pneumonia atau memiliki penyakit penyerta lainnya, sehingga ISPA bukan lagi diagnosis utamanya," kata Rahimayanti.

Menurutnya, jumlah kasus pneumonia memang mengalami peningkatan selama musim kemarau, namun belum menunjukkan lonjakan seperti yang pernah terjadi saat bencana kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya.

"Memang ada peningkatan, tetapi tidak terlalu signifikan. Penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah cukup cepat sehingga dampaknya tidak sebesar kejadian kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya," ujar Rahimayanti

Rahimayanti mengungkapkan, justru kasus diare menjadi salah satu penyakit yang mengalami peningkatan selama musim kemarau. 

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas sanitasi, kebersihan makanan, maupun konsumsi air yang kurang higienis di tengah cuaca kering.

Sementara itu, pasien gangguan pernapasan yang datang ke rumah sakit umumnya mengalami batuk, pilek, hingga sesak napas. Gejala tersebut perlu diwaspadai, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.

Data RSUD Ratu Zalecha menunjukkan sejak pertengahan Juli 2026 terdapat 59 kasus pneumonia. Secara kumulatif sejak Januari hingga awal Agustus 2026, jumlah kasus pneumonia mencapai 383 kasus.

Kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan selama musim kemarau adalah bayi, balita, dan lanjut usia (lansia) karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah.

Rahimayanti mengimbau masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Selain rutin mencuci tangan dengan benar, masyarakat juga disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara menurun akibat asap karhutla.

"Pencegahan tetap menjadi langkah utama. Biasakan mencuci tangan dengan benar dan gunakan masker saat berada di daerah yang banyak asap agar saluran pernapasan lebih terlindungi," katanya.

Baca juga: Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Banjarmasin Disiagakan, Penyakit ISPA Mulai Mengintai

Salah satu warga di Sungaitabuk, Royat Riyadi, mengatakan memang asap perlu juga diwasapadai meski diare juga meingkat.

"Pagi aja benafas sudah bau karhutla. Mudahan saja sehatan kita. Meski karhutla di mana mna mana," katanya.(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.