Tribunlampung.co.id, Medan - Tabir kejanggalan melingkupi misteri kematian WLG (31), wanita yang sempat disebut-sebut tewas akibat menembak diri sendiri menggunakan senjata api milik mantan suaminya, Bripka IH.
Baca juga: Sumber Senpi yang Digunakan Eks Istri Polisi untuk Akhiri Hidup Dalam Kamar Mandi
Pernyataan resmi kepolisian mengenai dugaan bunuh diri tersebut mendapat bantahan keras dari pihak keluarga kandung korban.
Ayah korban, Sanalui Gowasa (56), secara terbuka mengungkapkan sederet indikasi janggal usai secara langsung melihat kondisi fisik jenazah putrinya di rumah sakit.
Sanalui secara tegas membantah narasi yang menyebut ada luka tembus bekas tembakan pistol pada tubuh sang anak.
Sebaliknya, pihak keluarga justru mendapati tanda-tanda dugaan penganiayaan berat seperti lebam di mata, bekas cengkeraman di leher, serta warna kebiruan yang merata di sekujur tubuh korban.
Sanalui menegaskan bahwa klaim korban nekat mengakhiri hidup memakai pistol milik mantan suaminya adalah informasi yang tidak benar.
Kecurigaan keluarga kian menguat tatkala Sanalui sempat tertahan dan dilarang petugas saat hendak melihat kondisi jenazah di RS Bhayangkara Medan.
Setelah berjuang meminta akses, keluarga akhirnya diizinkan melihat jasad korban pada Senin (3/8/2026) pagi, meski dilarang keras mengambil foto maupun menyentuh jenazah.
"Mukanya terlihat ada luka lebam, matanya biru, ada bekas pencekikan di leher, dan tubuhnya membiru. Kami menduga anak saya menjadi korban penganiayaan," tegasnya.
Tak hanya soal penyebab kematian, Sanalui juga meluruskan simpang siur informasi mengenai status hubungan rumah tangga anak pertama dari keluarga tersebut.
Ia menegaskan secara hukum negara maupun ikatan dinas Polri, WLG dan Bripka IH belum bercerai resmi melainkan hanya pisah ranjang.
Anaknya juga tidak datang sendiri untuk meminta rujuk, melainkan dijemput langsung oleh ibu mertuanya dari rumah untuk kembali ke Medan. Kini keluarga menuntut transparansi hasil autopsi dari RS Bhayangkara Medan.
Sementara itu, Ibu korban, Yestin Laia yang berada di sebelah peti anaknya itu tak kuasa menahan air matanya melihat anaknya terbaring kaku.
Kain putih menyelimuti tubuh anaknya Terlihat di bagian wajah dan mata korban terdapat lebam.
"Putri ku, anakku sayang, tolong pak Kapolda Sumut, Kapolri dan DPR dan Presiden dan Wakil Presiden, apa yang terjadi dengan anakku," tangis Yestin Laila.
Yestin terus menerus mengeluarkan air mata sembari sesekali menatap foto semasa hidup anaknya.
Yestin mengatakan baru dua bulan putrinya dijemput oleh ibu mertuanya. Namun kini putrinya sudah meninggal dunia.
"Dua bulan yang lalu, setelah dijemput oleh ibu mertuanya di Jakarta, ku antar sampai ke bandara. Ku bilang jaga anakku," ujarnya.
"Apa yang terjadi dengan anakku apakah bunuh diri atau dibunuh. Bantu lah kami Kapolri, Kapoldasu dan Presiden dan Wakil presiden. Anak kesayanganku yang tak banyak cakap," katanya.
Wanita berbaju hitam ini mengatakan bahwa anaknya bukan datang untuk minta rujuk melainkan ibu mertua dan mantan suami brigadir IH yang selalu menghubunginya.
Ibu korban sempat melarang untuk menemui mantan suaminya dikarenakan putrinya merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh IH.
Tetapi demi cucunya, ia merelakan anak kembali bertemu dengan IH.
"Mama saya jemput ya demi anak anak dulu ya, terus saya bilang dipikirkan dulu ya, dan terakhir mertuanya datang menjemputnya. Ku relakan demi cucu, aku berat sebenarnya karena ada takutku, karena anak ku ini jadi korban KDRT, dulu dia cerita, sebelum rujuk ini, sampai ku buang rasa takut ini," katanya
Yestin mengatakan informasi yang mengatakan anaknya sudah resmi bercerai dengan IH tidaklah benar.
Ia megatakan keluarganya tidak pernah mendapatkan informasi perceraian dari pengadilan dan tidak ada surat cerai.
"Kami tidak pernah didatangi dan ditanya, tidak pernah anakku dipanggil untuk cerai dan tidak pernah ditelepon. Kalau memang cerai kenapa anakku kau jemput IH, kenapa minta kembali rujuk lagi," lanjutnya.
Ibu korban mengatakan terdapat luka lebam di tubuh anaknya yang sudah meninggal.
"Anakku luka lebam di kedua matanya, di lehernya dan bekas suntikan dibawah dagunya. Sampai sekarang tidak ada hasil autopsi, kenapa bunuh diri tetapi tidak ada hasil sama kami," pungkasnya.
Saat kejadian tersebut, ada enam orang yang berada di dalam rumah.