TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Penyaluran kredit perbankan nasional terus menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sampai Juni 2026, pertumbuhan kredit mencapai 12,67 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencerminkan kepercayaan dunia usaha dan masyarakat terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 29 Juli 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan mampu menopang pembiayaan ekonomi nasional.
Kondisi tersebut didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai memadai meski dunia masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan tekanan inflasi.
Data OJK menunjukkan total kredit perbankan pada Juni 2026 mencapai Rp9.081 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi sebesar 24,9 persen, disusul kredit modal kerja 8,94 persen, serta kredit konsumsi 5,75 persen.
Dilihat dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 20,45 persen secara tahunan.
Sementara itu, kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga kembali mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,05 persen setelah sebelumnya tumbuh 0,60 persen pada Mei 2026.
Pertumbuhan kredit tersebut turut diikuti peningkatan dana pihak ketiga (DPK).
Sampai Juni 2026, DPK tercatat mencapai Rp10.282 triliun atau tumbuh 10,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen simpanan, mulai dari giro, deposito, hingga tabungan.
Di sisi lain, penggunaan layanan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan juga terus meningkat.
Nilai baki debet kredit BNPL mencapai Rp30,7 triliun atau tumbuh 33,54 persen secara tahunan, dengan jumlah rekening tercatat sebanyak 32,77 juta.
Tak hanya sektor perbankan, pasar modal juga menunjukkan pemulihan. Pada akhir Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 10,51 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih sebesar Rp1,62 triliun setelah pada bulan sebelumnya mengalami aksi jual.
OJK juga mencatat jumlah investor pasar modal terus bertambah.
Sampai Juli 2026, terdapat tambahan sekitar 1,10 juta investor baru sehingga total investor pasar modal Indonesia mencapai 30,06 juta atau meningkat 47,63 persen sejak awal tahun.
Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi di pasar keuangan.
Meski ketidakpastian global masih dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah, kebijakan tarif Amerika Serikat, dan perlambatan ekonomi Tiongkok, OJK memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga.
Dengan kondisi perbankan yang sehat dan intermediasi yang terus menguat, sektor jasa keuangan diharapkan tetap menjadi penopang utama pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
( Tribunpekanbaru.com / Alexander )