Warga Gaza Beberkan Penyiksaan di Penjara Israel: Dipukul, Kelaparan, tak Boleh Tidur
Ansari Hasyim August 06, 2026 01:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Seorang warga Gaza mengungkap pengalaman yang disebutnya sebagai "neraka hidup" setelah ditangkap pasukan Israel ketika berusaha menyelamatkan diri dari gempuran perang melalui jalur yang diklaim sebagai koridor aman.

Pria berinisial S.Th. (38) mengaku justru mengalami penahanan selama hampir dua bulan, disertai dugaan penyiksaan fisik dan psikologis, kelaparan, serta interogasi berkepanjangan tanpa pernah didakwa atau diadili.

Dalam kesaksiannya kepada Palestine Chronicle, Senin, S.Th. mengatakan peristiwa itu bermula ketika ia bersama ibu dan istrinya meninggalkan rumah mereka di Kota Gaza akibat pemboman yang terus berlangsung.

"Istri saya mengalami keguguran karena ketakutan yang luar biasa. Kami memutuskan pergi demi menyelamatkan diri," ujarnya.

Namun, saat tiba di pos pemeriksaan Netzarim, perjalanan mereka berubah menjadi mimpi buruk.

Ia mengaku dipanggil seorang tentara Israel, dipisahkan dari keluarganya, lalu diperintahkan melepas seluruh pakaian sebelum tangan diikat dan dipaksa duduk di atas batu tajam selama tiga hari.

Selama masa itu, ia mengaku dipukul menggunakan popor senapan dan menerima berbagai perlakuan kasar.

Baca juga: Netanyahu Tolak Kesepakatan Gaza, Israel Ogah Hentikan Serangan dan Tarik Pasukan

S.Th. juga menuduh dirinya bersama sejumlah pria lainnya dijadikan perisai manusia dengan ditempatkan di bawah laras tank Israel yang terus menembakkan peluru.

"Saya tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada ibu dan istri saya. Kami yakin akan mati saat itu," katanya.

Ia kemudian dibawa ke sebuah pusat interogasi yang diyakininya berada di wilayah Zikim.

Di lokasi tersebut, menurut pengakuannya, para tahanan dipukuli menggunakan tongkat logam dan tongkat listrik, dipaksa berlutut selama lima hari, serta hanya diberi sepotong kecil roti setiap hari.

Selain itu, para tahanan disebut hanya diizinkan menggunakan toilet sekali sehari dan tidak diperbolehkan tidur karena musik dengan suara keras diputar tanpa henti melalui pengeras suara.

Saat menjalani interogasi, S.Th. mengaku dituduh memiliki afiliasi politik tertentu. Ketika membantah tuduhan itu, ia mengatakan kembali dibawa ke ruang penyiksaan.

"Saya dipukul pada bagian tubuh yang paling sensitif. Bahkan saat hampir tertidur karena kelelahan, tentara terus membangunkan saya dengan suara palu yang menghantam lembaran logam," tuturnya.

Setelah sekitar dua pekan, interogasi kembali dilakukan dengan pertanyaan yang sama.

S.Th. mengaku kemudian dipindahkan bersama sekitar 50 tahanan lainnya ke Penjara Gurun Negev.

Di sana, menurutnya, para tahanan kembali mengalami pemukulan, ditempatkan di sel bersuhu sangat dingin tanpa selimut, sementara mereka hanya mengenakan pakaian tipis.

Ia mengatakan aparat juga sengaja memukul tangan para tahanan yang masih dibelenggu.

Setelah hampir dua bulan ditahan, S.Th. menyebut dirinya dibebaskan bersama sejumlah tahanan lainnya melalui perlintasan Kerem Abu Salem sebelum menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.

Ia menegaskan selama penahanan dirinya tidak pernah didakwa ataupun dihadapkan ke pengadilan.

Kesaksian tersebut merupakan klaim dari S.Th. yang dipublikasikan Palestine Chronicle. Hingga laporan itu diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi dari pihak Israel terkait tuduhan penyiksaan dan perlakuan yang disampaikan dalam kesaksian tersebut.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.