Kenapa Ukraina Waspadai Proyek Jembatan Rusia-Korut?
Tribunnews August 06, 2026 03:33 AM

Selama bertahun-tahun, Khasan dianggap sebagai salah satu tempat paling terpencil yang terletak di ujung tenggara Rusia. Jumlah penduduknya bahkan tidak mencapai 500 jiwa. Wilayah yang berjarak lebih dari 9.000 kilometer jalan darat dari Moskow ini berbagi jalur perbatasan sepanjang 17 kilometer dengan Korea Utara. Khasan adalah satu-satunya pemukiman Rusia di sepanjang jalur perbatasan tersebut.

Sejak 1959, Jembatan Kereta Api Persahabatan Korea-Rusia melintasi Sungai Tumen yang menjadi perbatasan. Hingga kini, jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur darat yang menghubungkan Rusia dan Korea Utara.

Namun, beberapa tahun terakhir kedua negara membangun jembatan jalan raya paralel yang berjarak beberapa ratus meter dari jembatan kereta api tersebut. Jembatan tersebut kini hampir selesai, lebih cepat dari rencana. Fakta ini menimbulkan kekhawatiran di Kyiv, Ukraina. Pasalnya, Rusia tidak hanya dapat menggunakan jembatan tersebut untuk pertukaran barang dagangan, tetapi juga dapat secara diam-diam mengangkut tentara dari Korea Utara menuju garis terdepan perang di Ukraina.

Sejak dimulainya perang Ukraina pada tahun 2022, hubungan Rusia dan Korea Utara semakin erat. Keduanya memiliki kesamaan: sama-sama terkena sanksi komprehensif dari Barat dan sangat memiliki hubungan diplomasi yang sangat terbatas.

Pada Juni 2024, kedua pemimpin negara, Vladimir Putin dan Kim Jong Un, menandatangani perjanjian kemitraan strategis. Hasil terpenting dari perjanjian tersebut adalah kerja sama militer yang semakin erat. Kerja sama ini mencakup pengiriman senjata dalam jumlah besar dan juga pengiriman tentara dari Korea Utara untuk perang Rusia di Ukraina. Bersamaan dengan itu, keduanya sepakat membangun jembatan jalan raya baru.

"Peresmian jembatan baru ini akan meningkatkan perdagangan bilateral, mengoptimalkan logistik, memperkuat hubungan budaya, dan mengubah wilayah perbatasan menjadi pusat-pusat ekonomi yang tumbuh secara dinamis,” kata Menteri Perhubungan Rusia, Andrei Nikitin, dalam sebuah pernyataan.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Amerika Serikat, juga menulis hal serupa, "Kecepatan pembangunan jembatan tersebut, serta lalu lintas kereta api yang tinggi di stasiun-stasiun yang sebelumnya tidak beroperasi, mengindikasikan secara jelas pentingnya perluasan perdagangan antara kedua negara di tengah perang Rusia melawan Ukraina.”

Sebuah proyek menggenjot perdagangan dan pariwisata?

Namun laporan surat kabar Inggris, The Guardian, meragukan tujuan tujuan sipil dan ekonomi yang jadi alasan utama proyek pembangunan jembatan ini.

Pada tahun 2024, menurut data resmi, total volume perdagangan antara Rusia dan Korea Utara hanya mencapai 34 juta dolar AS (Rp612 miliar). Biaya pembangunan jembatan dan infrastruktur di sekitarnya diperkirakan mencapai sekitar 100 juta dolar AS (Rp1,8 triliun), tiga kali lipat dari angka perdagangan.

Pada citra satelit lokasi pembangunan, terlihat gudang penyimpanan dan gedung bea cukai yang besar, tempat parkir truk, serta landasan helikopter, sedang dibangun.

Organisasi hak asasi manusia Ukraina, Truth Hounds, yang juga memantau pembangunan jembatan tersebut, tidak yakin bahwa jembatan ini akan memicu lonjakan pariwisata, mengingat lokasinya yang berjarak 125 jam perjalanan mobil dari Moskow dan bahkan masih empat jam perjalanan dengan mobil dari Vladivostok. "Pariwisata di Korea Utara sangat dibatasi dan tidak mungkin tumbuh dengan cepat karena negara itu terisolasi,” demikian tertulis dalam analisis mereka.

Jika memang ada yang berencana berlibur ke sana, maka tentu bukan ke wilayah timur laut negara itu yang terpencil dan sama sekali belum berkembang secara pariwisata, melainkan ke ibu kota Pyongyang. Namun, Pyongyang terletak ratusan kilometer dari perbatasan, "Hanya sedikit orang yang mau menempuh jarak tersebut dengan mobil,” kata para aktivis Ukraina tersebut.

Selain itu, Rusia telah lama berusaha keras memikat wisatawan dengan penerbangan langsung dari Moskow ke Pyongyang lewat subsidi besar-besaran. Namun, pesawat-pesawat tersebut kosong. Sepanjang tahun 2025, diperkirakan totalnya tidak sampai 10.000 warga negara Rusia yang pergi ke Korea Utara.

 

Untuk transportasi militer?

Para analis dari Truth Hounds menyimpulkan bahwa alasan sebenarnya di balik pembangunan jembatan ini adalah untuk mempererat kerja sama militer. Terutama untuk pengiriman tentaradan senjata dari Korea Utara untuk perang melawan Ukraina.

Pada pertengahan tahun lalu, berdasarkan informasi tidak resmi dari Korea Selatan, Ukraina, dan AS, Korea Utara dilaporkan telah mengirim 14.000 hingga 15.000 warganya ke medan perang di Rusia. Tentara-tentara ini ditempatkan di wilayah Kursk, Rusia, yang saat ini diduduki oleh Ukraina. Selain itu, Korea Utara juga mendukung Rusia dengan pasokan senjata.

Menurut para analis dari Truth Hounds, pengangkutan pasukan melalui jalan darat jauh lebih sulit dilacak via satelit dibandingkan melalui jalur kereta api. Kereta api hanya dapat melintasi sejumlah jalur rel yang terbatas, dan bongkar muat gerbong hanya dapat dilakukan di lokasi tertentu. Sebaliknya, truk dapat dimuat dan dibongkar hampir di mana saja. Jaringan jalan raya yang sangat luas membuat pemantauan melalui satelit hampir mustahil tanpa celah.

Baru beberapa hari yang lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan di X bahwa Rusia berpotensi mengerahkan hingga 30.000 tentara tambahan dari Korut dalam perang melawan Ukraina.

Pengetahuan teknis untuk Korea Utara

Zelenskyy berpendapat bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un turut memperoleh manfaat dari kerja sama militernya dengan Rusia. Melalui jembatan jalan raya baru tersebut, sumber daya dapat diangkut dari Rusia ke Korea Utara tanpa dapat dikontrol dan "Rusia turut membantu Korea Utara mempelajari cara berperang, mengembangkan persenjataan, dan mengumpulkan pengalaman tempur secara nyata.”

Selain itu, "Diduga, Korea Utara turut menerima imbalan atas keterlibatannya dalam teknologi nuklir Rusia,” menurut pakar ilmu politik Ulrich Schmid dari Universitas St. Gallen dalam sebuah laporan di stasiun televisi Swiss SRF, baru-baru ini. Semua ini, demikian ungkap Presiden Ukraina tersebut dalam postingannya di X, merupakan "ancaman bagi setiap orang di Asia yang berada dalam jangkauan rudal Korea Utara.”

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.