YKI Ungkap Penjelasan Ilmiah Soal Atap Asbes Bisa Sebabkan Kanker Paru
Wahyu Aji August 06, 2026 04:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Isu mengenai atap asbes kembali ramai diperbincangkan masyarakat. 

Tidak sedikit warga yang khawatir rumah dengan atap asbes otomatis meningkatkan risiko kanker paru.

Namun, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menegaskan anggapan tersebut perlu dipahami secara utuh berdasarkan bukti ilmiah.

Menurut YKI, risiko kanker paru tidak semata-mata ditentukan oleh keberadaan atap asbes di rumah, melainkan oleh paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan terhirup.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikan potensi risikonya, terutama apabila material asbes sudah rusak, lapuk, dipotong, dibor, atau dibongkar.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan Hari Kanker Paru Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat agar memperoleh informasi yang benar.

"Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang didasarkan pada bukti ilmiah," ujar prof Aru pada keterangannya, Rabu (5/8/2026). 

Bukan Atap Asbesnya, tetapi Serat yang Terhirup

YKI menjelaskan ilmu pengetahuan membedakan antara material yang mengandung asbestos dengan paparan serat asbestos yang beterbangan di udara.

Material yang masih utuh memiliki potensi pelepasan serat lebih rendah dibandingkan material yang sudah mengalami kerusakan atau diproses, misalnya dipotong, dibor, dipecahkan, atau dibongkar.

Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan hingga kini tidak ada tingkat paparan asbestos yang benar-benar aman.

Apabila serat asbestos yang berukuran sangat kecil terlepas ke udara dan terhirup, paparan tersebut telah terbukti meningkatkan risiko kanker paru maupun penyakit lain yang berkaitan dengan asbestos.

Menurut National Cancer Institute (NCI), serat asbestos yang masuk ke paru dapat bertahan selama bertahun-tahun sehingga memicu peradangan kronis dan meningkatkan risiko kanker paru maupun mesothelioma.

Jangan Bongkar Atap Asbes Sembarangan

YKI mengingatkan masyarakat yang masih menggunakan material asbes agar tidak melakukan pembongkaran sendiri tanpa prosedur yang benar.

Pasalnya, proses pembongkaran justru menjadi kondisi yang paling berisiko melepaskan serat asbestos ke udara.

"Yang penting dipahami masyarakat adalah bahwa risiko kesehatan berkaitan dengan paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan terhirup, terutama ketika material yang mengandung asbestos mengalami kerusakan, dipotong, dibor, atau dibongkar," kata prof Aru. 

Karena itu ia mengatakan jika komunikasi kesehatan harus selalu disampaikan secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Apabila material asbes telah rusak atau memang perlu diganti, proses pelepasan dan pembuangannya sebaiknya dilakukan sesuai prosedur keselamatan kerja untuk meminimalkan paparan terhadap penghuni rumah maupun pekerja.

YKI juga menganjurkan penggunaan alat pelindung diri yang sesuai bagi pekerja yang menangani material yang diduga mengandung asbestos.

Tidak Semua Rumah Beratap Asbes Berujung Kanker Paru

YKI menegaskan tidak semua orang yang tinggal di rumah beratap asbes akan mengalami kanker paru.

Risiko dipengaruhi oleh tingkat, lama, dan cara seseorang terpapar serat asbestos.

Karena itu, keberadaan atap asbes tidak dapat langsung disimpulkan menyebabkan kanker paru tanpa mempertimbangkan kondisi material dan tingkat paparannya.

Di sisi lain, YKI mengingatkan faktor risiko terbesar kanker paru hingga kini tetap merokok.

Selain itu, paparan asap rokok, gas radon, polusi udara, asbestos, serta berbagai zat karsinogen di lingkungan kerja juga telah terbukti meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker setiap tahun, atau sekitar 1.120 kasus baru dan 665 kematian setiap hari.

Fokus pada Pencegahan yang Sudah Terbukti

YKI mengajak masyarakat memusatkan perhatian pada langkah-langkah pencegahan yang telah terbukti efektif menurunkan risiko kanker paru.

Upaya tersebut meliputi berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, mengurangi paparan asbestos dan zat karsinogen di tempat kerja.

Selain itu juga menjaga kualitas udara, serta melakukan deteksi dini pada kelompok berisiko sesuai rekomendasi medis.

Baca juga: Jangan Asal Bongkar Atap Asbes! YKI Peringatkan Bahaya Tersembunyi Bagi Paru-Paru

"Kanker paru merupakan penyakit yang dalam banyak kasus dapat dicegah. Upaya terpenting berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, mengurangi paparan asbestos dan zat-zat karsinogen di lingkungan kerja, menjaga kualitas udara, serta melakukan deteksi dini pada kelompok berisiko sesuai rekomendasi medis," kata prof Aru. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.