Dulu Penyakit Infeksi Mendominasi, Kini Diabetes dan Hipertensi Bisa Menyerang Tanpa Gejala
Wahyu Aji August 06, 2026 04:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penyakit yang mengancam nyawa masyarakat Indonesia kini telah berubah.

Jika puluhan tahun lalu masyarakat lebih banyak meninggal akibat penyakit infeksi, kini ancaman terbesar justru datang dari penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga obesitas yang sering berkembang tanpa disadari.

Perubahan pola penyakit tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah terus mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah deteksi dini.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., mengatakan Indonesia telah mengalami peningkatan usia harapan hidup yang sangat besar dibandingkan beberapa dekade lalu.

Namun, tantangan kesehatan masyarakat juga ikut berubah.

"Dulu penyakit infeksi mendominasi, antibiotik belum banyak dikenal, fasilitas kesehatan masih terbatas. Nah sekarang dengan dieliminasi sanitasi yang makin baik, kemudian fasilitas kesehatan yang makin bagus, pengobatan infeksi semakin bagus, bergeser yang tadinya penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif atau penyakit menua," ujarnya pada konferensi pers di kanal YouTube Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8/2026). 

Usia Harapan Hidup Meningkat, Tapi Ancaman Penyakit Juga Berubah

Prof Dante menjelaskan, pada 1965 rata-rata usia harapan hidup masyarakat Indonesia hanya sekitar 43 tahun.

Seiring membaiknya pelayanan kesehatan, sanitasi, serta penanganan penyakit infeksi, angka tersebut kini meningkat menjadi sekitar 74,5 tahun.

Menurutnya, peningkatan usia harapan hidup merupakan kemajuan besar bagi Indonesia.

Namun, semakin panjang usia masyarakat juga diikuti meningkatnya risiko penyakit degeneratif yang berkaitan dengan proses penuaan maupun gaya hidup.

Karena itu, tantangan kesehatan saat ini bukan lagi hanya mengobati penyakit infeksi, tetapi mencegah penyakit kronis yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun.

Hipertensi dan Diabetes Sering Tidak Disadari

Prof Dante mengingatkan bahwa penyakit seperti hipertensi dan diabetes termasuk silent killer karena sering kali tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal.

Akibatnya, banyak orang merasa sehat padahal penyakit sudah mulai merusak organ tubuh.

"Tapi yang paling penting adalah kalau kita ingin meningkatkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia, faktor-faktor kesehatan yang berperan di dalam timbulnya kematian itu semuanya silent killer. Nggak kelihatan, kadang-kadang nggak ada keluhan. Orang hipertensi nggak tahu kalau dia hipertensi. Orang diabetes nggak tahu kalau dia diabetes,"paparnya. 

Ia mencontohkan hasil studi yang pernah dilakukan di Jakarta.

Dalam penelitian tersebut ditemukan satu dari delapan orang mengalami diabetes.

Namun, hanya sebagian kecil yang sudah mengetahui kondisi tersebut sebelumnya.

Temuan itu menunjukkan masih banyak masyarakat yang hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya karena belum pernah menjalani pemeriksaan kesehatan.

Penyakit Diam-Diam Bisa Berujung Cuci Darah hingga Amputasi

Menurut Prof Dante, bahaya terbesar dari diabetes maupun hipertensi adalah kerusakan organ yang berlangsung perlahan tanpa gejala.

Saat seseorang mulai merasakan keluhan, kondisi penyakit sering kali sudah memasuki tahap lanjut.

Ia menjelaskan diabetes dapat merusak ginjal, jantung, hingga pembuluh darah secara bertahap.

Dalam kondisi berat, pasien bahkan dapat mengalami gagal ginjal yang memerlukan hemodialisis maupun amputasi akibat komplikasi.

Karena itu, ia menilai masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan munculnya gejala sebagai tanda untuk memeriksakan diri.

Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan berkala dinilai jauh lebih penting agar penyakit dapat ditemukan sebelum menyebabkan komplikasi serius.

Gaya Hidup Modern Ikut Mendorong Obesitas

Selain diabetes dan hipertensi, pemerintah juga menyoroti meningkatnya angka obesitas di Indonesia.

Prof Dante mengatakan perubahan gaya hidup membuat masyarakat kini semakin mudah memperoleh makanan siap saji tanpa harus banyak bergerak.

Menurutnya, kondisi tersebut ikut mendorong peningkatan obesitas di Indonesia.

Ia menyebut saat ini sekitar satu dari tiga orang mengalami obesitas.

Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi masalah stunting pada anak sehingga muncul beban ganda masalah gizi.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, pemerintah berharap berbagai faktor risiko tersebut dapat ditemukan lebih awal sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan maupun edukasi sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.

Baca juga: Jangan Cuma Terpaku Angka, Ini Penjelasan Gula Darah Normal Tetap Berisiko Diabetes

"Jadi nanti kita minta bantuan teman-teman untuk mensosialisasikan bahwa ini ada program cek kesehatan gratis yang bisa dilakukan secara berkala, tidak cukup sekali saja. Kalau bisa setiap tahun datang ke puskesmas gratis. Jadi kita akan perbaiki sistem terus supaya cepat diobati, sehingga akhirnya masyarakat itu tetap sehat," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.