Jadwal Final Piala Presiden 2026 Dikritik, Panitia Singgung Aturan AFC dan Rotasi 12 Pemain
Wila Wildayanti August 06, 2026 06:33 AM

MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM
Wakil Ketua Organizing Committee Piala Presiden 2026, Risha Adi Wijaya, buka suara terkait kirtik keras soal jadwal final turnamen pramusim ini yang terlalu mepet.

BOLASPORT.COM - Wakil Ketua Organizing Committe (OC) Bidang Administrasi Turnamen Piala Presiden 2026, Risha Adi Wijaya, memberikan respons tegas terkait keluhan jadwal padat dari pelatih klub.

Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, memang mengeluhkan soal jadwal Piala Presiden 2026 yang terlalu mepet.

Persib baru saja mengalahkan Persija Jakarta 2-1 dalam laga semifinal Piala Presiden 2026 pada Selasa (4/8/2026).

Begitu juga dengan Persebaya Surabaya, yang sukses melaju ke final seusai mengalahkan Arema FC 1-0 pada hari yang sama.

Namun, setelah menjalani laga tersebut, para pemain dipastikan tak memiliki banyak waktu istirahat.

Pasalnya, laga final Piala Presiden 2026 yang mempertemukan Persib Vs Persebaya akan berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Kamis (6/8/2026).

Situasi ini membuat pelatih Persib Igor Tolic melontarkan kritik keras terkait jadwal yang dinilai terlalu mepet hingga pemain kurang memiliki waktu istirahat.

Menanggapi hal ini, Risha Adi Wijaya akhirnya buka suara guna memberikan penjelasan detail mengapa jadwal tidak bisa digeser begitu saja.

Menurut Risha, jadwal yang ada saat ini bukanlah produk mendadak, melainkan sudah melalui persetujuan Federasi Sepak Bola Asia (AFC).

"Seperti tadi disampaikan ya, jadwal itu kan sudah kami bikin dari awal dan sudah disetujui oleh AFC," ujar Risha kepada awak media termasuk BolaSport.com di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

“Kalau kami mengubah jadwal, prosesnya berubah dari awal lagi. Itu yang pertama.”

Lebih lanjut, Risha menjelaskan bahwa pihak panitia sebenarnya sudah memberikan solusi teknis untuk menyiasati kelelahan pemain akibat jadwal mepet.

“Kedua, kalau masalah istirahat, kami memberikan suatu kedinamisan kepada masing-masing klub untuk bisa merotasi pemainnya dalam satu pertandingan hingga 12 pemain,” kata Risha.

Solusi tersebut adalah regulasi pergantian pemain yang jauh lebih fleksibel dibanding pertandingan resmi pada umumnya.

“Jadi tinggal pelatih saja mengatur strategi untuk merotasi pemainnya. Itu yang kedua,” ucap Risha.

“Sebelum masuk ke babak knock-out, itu pun kami memberikan keleluasaan kepada klub untuk mendaftarkan kembali pemain yang belum didaftarkan.”

Tak hanya soal jumlah pergantian pemain di lapangan, fleksibilitas juga diberikan dalam hal pendaftaran skuad.

Mengingat ini adalah turnamen pramusim, klub diperbolehkan mendaftarkan pemain baru bahkan saat turnamen sudah berjalan menuju babak knock-out.

“Ini kan pre-season tournament, jadi kami sangat dinamis. Boleh mendaftarkan pemain-pemain yang masih dalam bentuk percobaan oleh masing-masing klub,” ungkap Risha.

Terkait landasan hukum jadwal, Risha juga menyinggung regulasi FIFA mengenai jarak antarpertandingan.

Igor Tolic sebelumnya mengungkapkan bahwa FIFA memiliki aturan minimal pemain punya waktu istirahat selama 72 jam.

Sementara itu, di Piala Presiden 2026 ini dari laga semifinal menuju final hanya ada jeda 48 jam, sehingga kondisinya menjadi sorotan dan dikritik keras.

Risha menegaskan bahwa untuk turnamen domestik di luar kalender FIFA, panitia memiliki kewenangan mengatur jadwal sesuai kondisi negara setempat, asalkan tetap mempertimbangkan berbagai aspek.

“Jadi begini ya, dalam membuat suatu jadwal pertandingan banyak hal yang harus diperhatikan dan ini pun tertulis di FIFA dulu,” jelas Risha.

“Jadi pertandingan-pertandingan yang di luar kalender FIFA itu, kalau menyangkut 72 jam, dibebaskan kepada panitia turnamen domestik untuk mengatur jadwal sedemikian rupa.”

“Tentunya kami memperhatikan juga jadwal-jadwal yang lain, situasi cuaca dan segala macam. Kalau di negara lain kan ada empat musim, hal itu termasuk dalam unsur untuk diperhitungkan. Termasuk yang kami lakukan.”

“Kami menjalankan 10 hari ini penuh dengan pertimbangan-pertimbangan. Jadwal yang padat dari masing-masing klub dalam mempersiapkan kompetisi musim depan, termasuk juga jadwal-jadwal Timnas dan segala macam, itu sudah kami pertimbangkan secara matang,” tegasnya.

Panitia mengeklaim sudah mempertimbangkan agenda lain yang tak kalah padat, termasuk jadwal pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia dan persiapan klub menuju kompetisi musim depan.

Sebab, banyak klub yang sudah memiliki agenda mandiri tepat setelah Piala Presiden berakhir.

“Kami pun secara verbal pernah ngobrol sama mereka (klub peserta) dan setelah pertandingan Piala Presiden ini, mereka langsung ada yang masuk TC, ada yang segala macamnya. Makanya, kami tetap putuskan tanggal 6 (Agustus, final Piala Presiden) sesuai jadwal,” tuturnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.