Kuningan vs Muba: Duel Daerah Wisata dan Kaya Minyak, Mana Lebih Tangguh Mengisi Kas Daerah?
Yandi Triansyah August 06, 2026 08:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Dua daerah, dua wajah ekonomi yang bertolak belakang.

Di satu sisi, Kabupaten Kuningan berdiri anggun di bawah kaki Gunung Ciremai dengan keasriannya yang menjual ketenangan.

Di sisi lain, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) melaju kencang berkat kekayaan perut bumi dan komoditas perkebunan yang melimpah.

Kuningan yang dijuluki Kota Kuda mengandalkan sejuknya hawa pegunungan untuk memikat wisatawan.

Sektor agribisnis, agroindustri, dan pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian warga di bawah naungan gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut.

Berbanding terbalik dengan pesona pegunungan Kuningan, Musi Banyuasin di Sumatera Selatan beroperasi sebagai raksasa energi.

Muba identik dengan komoditas kelapa sawit serta deretan sumur minyak dan gas bumi yang menyumbang pendapatan besar bagi daerah.

Lantas, bagaimana potret kekuatan finansial kedua wilayah ini jika disandingkan melalui raihan Pendapatan Asli Daerah (PAD)?

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan per 5 Agustus 2026, perbedaan struktur ekonomi kedua daerah ini tecermin jelas pada postur PAD masing-masing.

Muba: Raksasa Migas dengan Target Jumbo

Musi Banyuasin mencatatkan target PAD tahun 2026 yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp802,92 miliar. Hingga awal Agustus 2026, realisasinya telah mencapai Rp264,93 miliar.

Penyokong utama realisasi PAD Muba berasal dari:

Pajak Daerah: Rp117,30 miliar

Lain-lain PAD yang Sah: Rp113,76 miliar

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan: Rp29,22 miliar

Retribusi Daerah: Rp4,65 miliar

Postur ini memperlihatkan dominasi penerimaan dari sektor pajak dan pengelolaan aset serta pendapatan sah lainnya yang melonjak tinggi, khas daerah berbasis industri modal padat dan komoditas.

Kuningan: Pesona Wisata dan Digdaya Retribusi

Sementara itu, Kabupaten Kuningan menetapkan target PAD 2026 yang lebih moderat, yaitu sebesar Rp460,57 miliar.

Dari target tersebut, Kuningan telah mengumpulkan realisasi sebesar Rp230,72 miliar atau sudah menembus angka 50 persen dari target tahunan.

Komposisi pendorong PAD Kuningan terdiri dari:

Pajak Daerah: Rp122,81 miliar

Retribusi Daerah: Rp81,59 miliar

Lain-lain PAD yang Sah: Rp17,96 miliar

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan: Rp8,36 miliar

Sektor pariwisata dan geliat ekonomi lokal Kuningan tercermin kuat pada tingginya angka retribusi daerah yang mencapai Rp81,59 miliar jauh melampaui capaian retribusi Muba.

Aktivitas pelancong, tempat rekreasi, hingga pelayanan publik di Kota Kuda terbukti menjadi mesin pencetak kas daerah yang sangat efektif.

Secara nominal target dan realisasi keseluruhan, Musi Banyuasin memang unggul berkat tumpuan sumber daya alamnya.

Namun, Kuningan menunjukkan laju persentase realisasi yang lebih cepat mendekati paruh target tahunan, disokong oleh tingginya penerimaan sektor retribusi dan pajak daerah dari perputaran ekonomi kreatif serta jasa pariwisata.

Peta angka ini mempertegas bahwa kemandirian fiskal daerah dapat ditempuh melalui jalan yang berbeda, Muba mengandalkan kekayaan alam di perut bumi, sementara Kuningan memaksimalkan pesona alam di atas permukaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.