TRIBUNJABAR.ID, GIANYAR - Jadwal super padat final Piala Presiden 2026 yang hanya memberi jeda satu hari dinilai berpotensi 'membunuh' fisik dan mental para pemain Persib Bandung serta Persebaya Surabaya.
Persib dan Persebaya akan bertemu di final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis 6 Agustus 2026.
Pertandingan ini akan kick off pukul 20:00 WIB.
Analisis FPOK UPI, Prof. Dr. H. Dikdik Zafar Sidik mengatakan kalau jeda waktu cuma sehari dari laga semifinal berpotensi merusak kualitas permainan.
Berikut analisis guru besar FPOK Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tersebut dalam bentuk kalimat bertutur.
Pengamat memprediksi kualitas laga puncak di Bali bakal merosot drastis akibat ancaman kelelahan ekstrem dan risiko cedera yang menghantui kedua tim.
Baca juga: Umuh Muchtar Sebut Para Pemain Persib Kelelahan, Namun Optimistis Bisa Libas Persebaya
Jeda pertandingan semifinal ke final Piala Presiden 2026 hanya satu hari, waktu recovery kurang dari 72 jam sesuai aturan dari FIFA.
Laga final Piala Presiden 2026 akan mempertemukan dua tim besar Indoensia, Persib Bandung menghadapi Persebaya Surabaya, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Rabu (5/8/2026).
Jadwal pertandingan yang mepet, merupakan kecerobohan yang dilakukan panitia penyelenggara tanpa memperhitungkan aturan, harusnya dari awal kepanitian ini, harus tahu bagaimana aturan atau regulasi kompetisi ketika penyelenggaraan itu berlangsung.
Karena ada aturannya, terutama aturan keselamatan pemain, sehingga aturan kebugaran dan kesehatan pemain juga harus diutamakan dalam kompetisi, walaupun ini adalah kompetisi pramusim.
Kecuali kalau grade nya kompetisi Piala Presiden ini mau masuk ke grade rendah, tapi kan ini pesertanya ada dari luar negeri, Singapura Thailand, Brunei, dan untungnya mereka tidak masuk final, coba kalau masuk final tambah ramai.
Walaupun, kini juga sudah ramai, artinya saya menilai sangat tidak memahami, panitia Piala Presiden semua harus sesuai aturan.
Penyelenggara itu kan bagian dari organisasi, walaupun di pihak ketiga, tapi didalamnya ada orang PSSI, ada Esco yang ada dikepanitiaan. Ini kecerobohan yang luar biasa. Apakah mereka peduli terhadap pemain, apalagi pemain yang dibayar mahal kontraknya, khawatir gara-gara pramusim cedera, sehingga tidak bisa maksimal di Liga kompetisi sesungguhnya.
Akhirnya pelatih tak mau ambil resiko, sehingga bisa dipastikan pelatih memasang pemain yang bukan pemain inti.
Kita lihat di babak semifinal kualitas permainannya sudah mulai menurun, setelah lokasi di pindah karena memang faktor keamanan, tanpa penonton, ini kan akhirnya seperti pramusim tarkam, jadi sangat disayangkan.
Judulnya kan Piala Presiden, apalagi dibuka dengan meriang, akan sangat disayangkan kalau gradenya jadi turun.
Apalagi kondisi kita sebetulnya di musim di kemarau kurang bersahabat, ada main malam, main sore, kondisi di Bali beda dengan di Bandung. Aklimatisasinya tidak cukup, maka ini banyak resiko yang harus dipersiapkan oleh pemain. Di mana pramusim itu, sebetulnya untuk menguji kualitas fisik dan taktik, terutama strategi pelatih.
Belum lagi untuk Persib sendiri punya resiko yang besar, ketika nanti akan menghadapi bukan hanya mengikuti kompetisi domestik, tapi juga ikut di kompetisi Asia. Ini resiko luar biasa.
Kalau saya lihat, tanpa disadari panitia seakan mencoba, membunuh karakter potensi para pemain. Bayangkan kalau ada pemain lokal yang jam terbangnya kurang. Dipaksakan bermain di kompetisi seperti ini, ini resiko secara mental mengalami kelelahan luar biasa secara fisik begitu juga. Ini saling berhubungan saling berkaitan antara fsikologis dengan fisik.
Ini jeda setelah libur, persiapan pemain beda profesionalnya di Eropa dan di kita, mereka bukan sekedar pramusim tapi ada proses yang dikerjakan juga secara profesional latihan secara individu, tanggung jawab. Sementara di kita profesional tapi persiapan secara individunya belum terjadi secara optimal.
Dengan kondisi seperti ini, saya berharap pelatih Persib tidak memaksakan pemain yang terkuras energi dan terkuras mentalnya.
Kalau untuk Persib sendiri mungkin ada beberapa pemain yang harus dirotasi, dan diistirahatkan, mungkin sekelasnya Peralta. Tidak diturunkan secara penuh, mungkin seperti di semifinal, hanya di menit-menit terakhir. Sebab kalau cedera, resikonya sangat besar.
Kalah di Piala Presiden tak apa-apa karena memang penyelenggaraannya kurang bagus.
Jadi dengan kondisi saat ini akan mengurangi kualitas pertandingan karena kedua tim mengalami kelelahan, apalagi Persebaya, bermainnya malam.
Persib juga sama resikonya besar, kalau memaksakan berarti ambisi sekali, dan itu menjadi kecerobohan kalau terjadi.
Pasti ada ambisi karena gengsi, walaupun tidak total, seperti Persib dan Persija, masing-masing pelatihnya mengatur strategi, tidak semua full dimainkan.
Ya, saya rasa kalau pelatih profesional akan mengatur itu, dampak dari kompetisi ini. Yang pasti kualitas pertandingan piala presiden sekarang menurun.
Harapannya untuk kedua tim tidak bermain yang menyebabkan cedera. Terutama, benturan- benturan, harus dihindari.
Persib Persebaya bersaudara, jangan sampai karena ambisius akhirnya melakukan kecerobohan, dan menyebabkan cedera, sehingga nanti pada saat liga tidak bisa bermain, harus istirahat. Apalagi kalau cederanya butuh waktu yang panjang, lama, itu resikonya besar.(*)