SURYA.CO.ID - Terungkap gelagat Maliya Finda (51) sebelum dikabarkan hilang dan meninggal dunia saat mendaki Gunung Piramid, Kelurahan/Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jatim.
Maliya Finda terlihat bersemangat saat pergi meninggalkan rumahnya di Jalan Cipunegara, RT 14, RW 06, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya, diduga menuju ke Bondowoso untuk mendaki Gunung Piramid.
Saat itu Maliya Finda atau yang akrab disapa Hajah Finda sempat menyapa tetangganya.
Anton Kurniawan, tetangga depan rumah menuturkan, pada Jumat (31/7/2026) pagi, korban sempat menyapa para tetangga yang nongkrong di warung sebelah kiri rumahnya saat bepergian menumpang pemotor ojek online (Ojol).
"Terakhir melihat warga-warga sini itu hari Jumat pagi itu beliau berangkat naik ojek bawa tas karir itu aja lalu menyapa kami; bu monggo monggo pak. Kalau ke mana-mananya kami nggak tahu," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di depan rumah duka korban, pada Kamis (6/8/2026).
Baca juga: BREAKING NEWS Suasana Haru Sambut Jenazah Maliya Finda di Rumah Duka Surabaya
Wawan, kerabat korban mengaku korban memang bersemangat saat mau mendaki Gunung Piramid.
Wawan mengaku mendapat kabar sang tante akan mendaki secara privat bersama seorang guide.
Wawan menerangkan, Finda memulai pendakian pada Minggu (2/8/2026) pagi.
Sepanjang waktu itu, Finda masih terus berkomunikasi dengan anaknya yang tinggal di Bali.
Seharusnya, pendakian tersebut cuma berlangsung satu hari; pagi berangkat, sore hari, pulang. Namun, hingga Minggu sore, Finda tak lagi merespon pesan masuk atau sambungan telepon dari anak atau kerabatnya.
"Sabtu perjalanan ke Bondowoso, minggu Pagi naik, masin kontak-kontakan. Tapi senin sudah enggak ada kabar. Seharusnya tektok, berangkat pagi naik, sore pulang, ternyata belum ada info kembali," ungkapnya.
Di usia paruh baya, Finda masih terbilang konsisten menekuni hobinya mendaki gunung.
Wawan tak menampik, hobi mendaki yang ditekuni tantenya itu, baru berjalan kurun waktu 2-3 tahun belakangan. Bahkan, hampir satu bulan sekali selalu ada agenda pendakian yang dilakoni.
Namun, hobi yang lebih lama ditekuni oleh Finda adalah bersepeda atau gowes.
Nah, kalau jenis kegiatan ini, biasa dilakukan hampir setiap hari. Terutama saat weekend, Wawan pun terkadang turut terlibat dalam satu komunitas gowes bersama sang tante.
"Beliau hobi mendaki. Dan suka gowes sepeda ontel, kebetulan ngontel juga sama saya. Hobi mendaki itu barusan. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung populer," terangnya.
Mengenai firasat akan adanya insiden tersebut, Wawan mengaku tidak memperoleh petanda apa pun. Pihak terakhir yang berkomunikasi dengan tantenya itu adalah sang istri; Ririn.
Istrinya memang sempat berkunjung ke rumah sang tantenya di Kota Surabaya, beberapa hari sebelum pendakian, antara hari rabu atau kamis, pekan lalu.
"Istri sedang berkunjung, beliau ngomong mau mendaki, guide private. Tapi kami gak tahu kalau Gunung Piramid, dilarang," katanya.
Baik Wawan maupun tetangga mengenang kebaikan korban semasa hidupnya.
"Sosok beliau, baik, beliau menyelesaikan ambisi mungkin, karena sudah pernah menaiki gunung mana mana, akhirnya penasaran lalu dicoba, melawan rasa penasaran. Usianya itu seharusnya usia istirahat, tapi beliau masih aktif. Usia 51," ungkap Wawan.
Sementara tetangga korban, Heri mengaku korban dikenal sebagai warga yang ramah, baik hati dan dermawan.
Ia mengingat momen korban pernah bertakziah mendatangi rumahnya karena kakak kandungnya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Lalu, Hajah Finda memberikan santunan kepada keluarga sang kakak.
"Beliau baik sama warga. Saat kakak saya meninggal dunia. Beliau datang ke rumah kasih amplop ke kami," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di lokasi.
Jenazah Finda sudah tiba di rumah duka pada Kamis (6/8/2026) dini hari.
Pantauan TribunJatim.com, mobil ambulan berpelat Dinas Polisi RS Bhayangkara Bondowoso tiba di teras depan rumah duka dikawal mobil sedan patroli Satlantas Polres Bondowoso.
Mobil ambulan berhenti sejenak sebelum akhirnya mundur ke belakang memasuki area teras depan rumah korban yang sudah dipenuhi oleh puluhan orang sanak famili korban.
Lalu, peti jenazah korban dikeluarkan oleh belasan orang kerabat untuk disemayamkan di area parkir tepat di sisi timur bangunan rumah utama.
Terpantau di sana, para sanak famili mulai berdatangan ke rumah duka dan menunggu kedatangan jenazah korban sejak pertama kali korban ditemukan keberadaannya oleh Tim SAR gabungan, pada Selasa (4/8/2026).
Di jalanan kedua sisi jalanan sekitar rumah korban, sudah penuh puluhan papan ucapan bela sungkawa dari para teman dan kolega.
Tampak di area jalanan menuju pintu gerbang teras rumah korban, terpasang tenda dengan lampu penerangannya.
Lalu, di area seberang tenda tersebut terdapat belasan orang tetangga sekitar rumah tampak ada yang berdiri dan duduk bersila menunggu jenazah korban.
Berdasarkan informasi yang diketahuinya dari perwakilan pihak keluarga korban.
Rencananya, jenazah akan disemayamkan sejenak di rumah duka Surabaya, lalu sekitar pukul 06.00 WIB, akan diberangkatkan ke rumah keluarga besar di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan untuk dimakamkan di permakaman umum setempat.
"Nanti pagi langsung dibawa ke Lamongan. Beliau anak kedua dari lima bersaudara. Keluarga besar ada di sana semua, rencananya dimakamkan di sana," pungkasnya.
Sebelumnya, jenazah Finda bersama guide-nya dievakuasi dari jurang menuju titik aman menggunakan sistem Lowering.
Evakuasi pertama berhasil dilakukan pada Rabu (5/8/2026) pukul 13.00 WIB untuk jenazah pendaki pria bernama Erfan (35), warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Selanjutnya, evakuasi jenazah pendaki perempuan asal Surabaya, Maliya Finda (51), berhasil dilakukan sekitar pukul 15.30 WIB.
Kedua korban kemudian ditandu secara estafet oleh personel gabungan dan warga lokal yang jumlahnya mencapai sekitar 100-an orang.
Proses estafet berlangsung dari Gunung Piramid dengan puncak ketinggan aman 900 meter hingga menuju Pos 1 di Dusun Tegal Tengah, Kelurahan/Kecamatan Curahdami. Kedua jenazah tiba di Pos 1 sekitar pukul 19.40 WIB, lalu dibawa ke Instalasi Forensik RS Bhayangkara.
"Kita bisa melakukan evakuasi ke titik aman di ketinggian kurang lebih 900 meter," ujar Jefriansyah, OSC Basarnas Jember, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, tim SAR gabungan menghadapi tantangan berat saat melakukan evakuasi, utamanya medan yang sangat terjal. Kontur dan karakteristik Gunung Piramid tergolong sangat miring, bahkan mendekati 90 derajat.
"Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat teman-teman potensi SAR untuk melakukan teknik Lowering," jelasnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pemindahan kedua jenazah dilakukan secara estafet dengan cara ditandu melintasi jalur yang ekstrem. Tim harus menyusuri sungai, menanjak bukit terjal, hingga melewati turunan curam.
Tim SAR gabungan sendiri telah bergerak melakukan proses evakuasi sejak pukul 06.00 WIB dan baru tiba di Pos 1 pada pukul 19.40 WIB.
Sementara itu, Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo, mengatakan bahwa setelah diidentifikasi oleh tim forensik RS Bhayangkara, jenazah akan langsung diserahkan kepada perwakilan keluarga korban.
"Termasuk barang-barang milik korban," pungkasnya.
Keduanya ditemukan sekitar pukul 12.13 WIB di bawah jalur Punggung Naga pada kedalaman sekitar 60 meter.