TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Karir dokter yang mencibir pasien BPJS asal Bogor bernama Yurizal Tri Chaerawan kini berada di ujung tanduk.
Pasalnya, dokter bernama Elda Putri Rahardini itu disorot oleh pihak rumah sakit tempatnya mengemban ilmu, RSUP Dr Sardjito.
Untuk diketahui, Elda adalah dokter PPDS di rumah sakit tersebut.
Gara-gara komentar nyinyirnya di postingan Yurizal hingga viral, dokter Elda akhirnya dapat sanksi tegas dari RSUP Dr Sardjito.
Sosok dokter Elda memang tengah jadi sorotan lantaran komentar nirempatinya kepada Yurizal.
Awalnya Yurizal curhat di akun Threads-nya soal dirinya yang belum dapat kamar setelah menunggu delapan jam.
Tak disangka, curhatan singkat Yurizal itu justru ditanggapi sinis oleh beberapa tenaga kesehatan (nakes) termasuk dokter Elda.
"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs," curhat Yurizal di akun threads pada 22 Juli 2026 lalu.
"PPnya kayak orang have tapi aslinya haven't kah? haven't some brain cells," balas Elda lewat akun @erudarahaadini.
Komentar dokter Elda lantas membuat publik marah.
Sebab kabarnya komentar dari para nakes termasuk dokter Elda yang bernada nirempati itu membuat kondisi Yurizal kian drop hingga akhirnya meninggal dunia.
Ya, Yurizal menghembuskan napas terakhir pada 31 Juli 2026 atau sembilan hari setelah mengunggah curhatan di Threads.
Sadar ketikannya berlebihan dan jahat, dokter Elda pun akhirnya meminta maaf.
Lewat akun media sosialnya, Elda menuliskan klarifikasi seraya permintaan maaf kepada keluarga Yurizal.
"Saya Elda Putri Rahardini dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas.
Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati. Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi almarhum saat mencari penanganan medis,"
Sebagai seorang dokter dan tenaga kesehatan, saya seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan empati yang tinggi kepada siapapun. Saya sangat menyesali bahwa tindakan saya sama sekali tidak mencerminkan sumpan profesi kedokteran maupun etika dan moral yang seharusnya saya junjung tinggi, baik sebagai seorang individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP," ungkap dokter Elda melalui akun media sosialnya.
Baca juga: Nasib Pegawai RSUD yang Hina Pasien BPJS Bogor Yurizal Miris, Kini Terancam Kehilangan Pekerjaan
Permintaan maaf yang diurai dokter Elda nyatanya tak menghidupkan kembali almarhum Yurizal.
Selain itu, permintaan maaf tersebut juga tak menghilangkan sanksi dari pihak RSUP Dr Sardjito.
Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan menyebut bahwa pihak rumah sakit tetap memberikan sanksi tegas kepada dokter Elda karena perbuatannya tersebut.
Sanksinya adalah dokter Elda dinonaktifkan dari statusnya sebagai dokter PPDS.
"Mulai hari ini yang bersangkutan sudah dinonaktifkan," ungkap Banu Hermawan dilansir dari Kompas TV, Kamis (6/8/2026).
Adapun terkait permintaan maaf dari Elda, pihak rumah sakit menghargainya.
Namun hal itu tidak menghilangkan fakta bahwa dokter Elda telah memberikan komentar nirempati kepada pasien.
"Permohonan maaf dari yang bersangkutan itu memang kewenangan atau itu haknya yang bersangkutan. Namun ketika perbuatan sudah dilakukan seperti ini maka penegakan pendidikan bermartabat tetap akan kita lakukan proses itu," kata Banu.
Kini resmi dinonaktifkan dari status mahasiswa PPDS, jejak pendidikan Elda nyatanya mentereng.
Elda merupakan Sarjana kedokteran dan profesi dokter dari Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Viral Curhatan Pasien BPJS Bogor Dinyinyiri Nakes hingga Meninggal Dunia, Kemenkes Beri Tanggapan
Selama mengenyam pendidikan di kampus ternama itu, Elda beberapa kali mendapatkan beasiswa.
Elda tercatat sebagai penerima beasiswa LPDP dan Monbukagakusho.
Lalu sejak tahun 2024, Elda melanjutkan pendidikannya sebagai dokter spesialis penyakit dalam di UGM.
Dokter Elda diketahui bertugas di RSUP Dr Sardjito.
Namun karena kasus yang membelitnya, dokter Elda kini dinonaktifkan guna mendapatkan pembinaan dari pihak rumah sakit.