Adu Cepat Tekan Angka Kemiskinan: Sumsel vs Sulsel, Mana Lebih Tangguh Per Maret 2026?
Yandi Triansyah August 06, 2026 12:47 PM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Kemiskinan terus menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam merawat daya beli dan memulihkan kesejahteraan warga.

Keberhasilan menekan angka kemiskinan bergantung penuh pada ketepatan program kerja yang digulirkan.

Jika tepat sasaran, roda ekonomi warga lapisan bawah akan terangkat; namun jika salah arah, bukan tidak mungkin jumlah warga miskin justru kian bertambah.

Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per 5 Agustus 2026 membawa angin segar bagi potret kesejahteraan nasional.

Baca juga: Mengukur Kemiskinan 2 Provinsi Tetangga: Sumsel Laju Pesat di Kota, Jambi Jaga Ketahanan Regional

Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin nasional berada di angka 8,07 persen menurun 0,18 persen poin dibanding September 2025 dan menyusut 0,40 persen poin dari Maret 2025.

Secara kuantitas, jumlah warga miskin di Indonesia kini berkurang menjadi 22,93 juta orang, atau berkurang sekitar 430 ribu jiwa dibanding semester sebelumnya. Penurunan ini terjadi merata di dua wilayah utama:

Perkotaan: Tingkat kemiskinan melandai ke level 6,34 persen (10,83 juta jiwa).

Perdesaan: Persentase kemiskinan berada di angka 10,67 persen (12,10 juta jiwa).

Lantas, bagaimana dengan dinamika di tingkat regional jika kita membandingkan dua provinsi besar di barat dan tengah Indonesia, yakni Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sulawesi Selatan (Sulsel)?

Sulawesi Selatan: Persentase Rendah, Namun Kemiskinan Desa Merambat Naik

Provinsi Sulawesi Selatan mencatatkan tingkat kemiskinan agregat yang relatif lebih rendah dan berada di bawah rata-rata nasional.

Per Maret 2026, persentase penduduk miskin di Sulsel berada di level 7,24 persen, turun 0,19 persen poin dibanding September 2025.

Total warga miskin di Sulsel kini tercatat sebanyak 669,63 ribu orang (berkurang 15,51 ribu jiwa).

Namun, struktur kemiskinan di Sulsel menunjukkan kontras yang tajam antara kota dan desa:

Perkotaan: Sektor kota di Sulsel tampil sangat perkasa. Angka kemiskinan perkotaan berhasil dipangkas dari 5,17 persen pada September 2025 menjadi 4,65 persen pada Maret 2026, dengan jumlah warga miskin kota berkurang menjadi 210,43 ribu orang.

Perdesaan: Berbanding terbalik, kemiskinan perdesaan di Sulsel justru mengalami kenaikan dari 9,56 persen menjadi 9,72 persen pada Maret 2026.

Jumlah warga miskin di desa bertambah 6,10 ribu orang, yakni naik dari 453,13 ribu orang menjadi 459,20 ribu orang.

Sumatera Selatan: Akselerasi Penurunan Merata di Kota dan Desa

Sementara itu, Sumatera Selatan menunjukkan laju pemulihan yang sangat signifikan. Meskipun persentase totalnya masih berada di angka 9,50 persen per Maret 2026, Sumsel mencatatkan penurunan persentase yang jauh lebih agresif, yakni menyusut 0,35 persen poin dibanding September 2025.

Total warga miskin di Bumi Sriwijaya berkurang sebanyak 28,3 ribu jiwa dalam kurun waktu enam bulan, sehingga kini berada di angka 869,97 ribu orang.

Keunggulan Sumsel terletak pada tren penurunannya yang terjadi secara serentak di dua sektor:

Perkotaan: Menjadi motor utama penurunan dengan pangkas tajam sebesar 0,43 persen poin menjadi 8,48 persen.

Perdesaan: Sektor desa di Sumsel juga ikut melandai sebesar 0,30 persen poin menjadi 10,13 persen.

Perbandingan Karakteristik Dua Wilayah

Menyandingkan capaian Sumsel dan Sulsel memperlihatkan dua pola pendekatan dan tantangan sosial-ekonomi yang berbeda:

Proporsi Agregat vs Laju Penurunan: Sulsel unggul dari segi proporsi total penduduk miskin yang lebih kecil (7,24 persen berbanding 9,50 persen milik Sumsel).

Namun, Sumsel unggul dari segi kecepatan akselerasi penurunan (-0,35 persen poin berbanding -0,19 persen poin).

Dinamika Perdesaan: Sumsel berhasil menjaga stabilitas ekonomi desa sehingga kemiskinan perdesaan terus menurun (-0,30 persen poin).

Sebaliknya, Sulsel menghadapi tantangan di sektor perdesaan yang mengalami kenaikan persentase dan penambahan jumlah warga miskin (+6,10 ribu jiwa).

Kekuatan Perkotaan: Pusat-pusat ekonomi perkotaan di kedua provinsi sama-sama menjadi pendorong utama penurunan angka kemiskinan, di mana kota-kota di Sulsel menyentuh angka sangat rendah (4,65 persen).

Peta data BPS per Maret 2026 ini mempertegas pentingnya perlindungan sosial yang presisi: Sumsel perlu menjaga momentum percepatan untuk mendekati rata-rata nasional, sementara Sulsel perlu memberikan perhatian ekstra pada ketahanan ekonomi warga di wilayah perdesaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.