TRIBUNPEKANBARU.COM, KAMPAR - Pencarian Boiko Gulo, pria berusia 25 tahun, yang hilang di Sungai Kampar memasuki hari ketiga, Kamis (6/8/2026).
Pendeta alumnus Sekolah Tinggi Teologi Gereja Methodist Indonesia (STT GMI) Bandar Baru, Sumatera Utara itu belum ditemukan sejak hilang di Sungai Kampar setelah diduga lompat dari Jembatan Rantau Berangin Desa Merangin Kecamatan Kuok, Selasa (4/8/2026) pagi.
Pencarian melibatkan berbagai unsur. Antara lain Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Pekanbaru, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar, tentara, polisi, dan masyarakat.
Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) pada BPBD Kampar, Adi Candra Lukita mengatakan, radius jelajah pencarian diperluas.
"Penyisiran hari ketiga ditambah 1 kilometer, jadi 4 kilometer dari titik tenggelam," katanya kepada Tribunpekanbaru.com.
Ia mengatakan, pencarian juga menggunakan drone yang memantau dari udara. Drone digunakan untuk memantau kemungkinan tubuh korban muncul di permukaan.
"Selain itu, drone juga untuk memantau kemungkinan korban tersangkut di tepi sungai yang tidak terjangkau," ujarnya.
Baca juga: Pria yang Lompat dari Jembatan di Kampar Sarjana Teologi dan Pendeta, Diduga Akhiri Hidup
Baca juga: Jembatan Rantau Berangin Kembali Heboh, Seorang Pria Tak Dikenal Terjun ke Sungai Kampar Lalu Hilang
Menurut dia, korban tenggelam biasanya mengapung setelah 24 jam. Ia berharap pencarian hari ketiga membuahkan hasil.
Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Bangkinang Barat, Iptu Rully Chairullah sebelumnya mengatakan, korban sedang dalam pelatihan menjadi pendeta.
Gereja tempat korban berada di wilayah Kecamatan Kabun Kabupaten Rokan Hulu.
"Training pendeta baru jalan satu minggu di Kabun," katanya.
Menurut dia, informasi awal yang diterima pemuda itu bunuh diri.
Kendati begitu, pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab pasti korban terjun dari jembatan.
( Tribunpekanbaru.com / Fernando Sihombing)