Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
TRIBUNAMBON.COM - Muhammad Iksan Kiat kini definitif sebagai Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) pasca pelantikan, Rabu, 5 Agustus 2025.
Pelantikan berlangsung di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan dipimpin langsung Menteri Bahlil Lahadalia.
Bersamaan juga dilantik Lana Saria sebagai Kepala Badan Geologi, Mawardi Nur sebagai Kepala Badan Pengelola Migas Aceh dan Tirta Nugraha sebagai Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan.
Sebelumnya, Kiat ditunjuk Bahlil sebagai Plt. Kepala Lemigas dan langsung diberi tugas tambahan impor minyak mentah dari Rusia guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Rusia memang begitu familiar bagi pria kelahiran Ambon 16 Juni 1995 itu, tempat menempuh pendidikan S1 dan S2 di bidang perminyakan dan energi,
Kiat pernah menjalani program magang sebagai Production Engineer di Gazprom pada 2019 dan Laboratory Assistant di Innovation Technology Center for Arctic Oil and Gas Studies, Northern (Arctic) Federal University, Rusia, pada 2016–2017.
Baca juga: Ini Tiga Strategi ESDM Dorong Investasi, Kiat: Sudah Ada Satgas Ketahanan Energi dan Hilirisasi
Baca juga: Proses Konstruksi Dimulai, Bahlil Ingatkan Blok Masela Bukan Proyek APBD, Jangan Main KKN!
Kemudian meraih Graduate Research and Teaching Assistant di Gubkin Russian State University of Oil and Gas pada 2019–2020.
Selama menjadi tenaga ahli Menteri ESDM Bidang Percepatan Investasi, Peningkatan Produksi, dan Manajemen Risiko Industri Migas, Kiat paling rajin keliling kampus.
Tercatat sudah 28 kampus di datanginya untuk menjaring aspirasi hingga berbagai pengalaman.
Di tanah kelahirannya, anggota aktif Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) mengunjungi Politeknik Negeri Ambon, Sabtu (14/062025).
Dihadapan ratusan mahasiswa dan pengajar, Kiat banyak menjelaskan kerja kementerian hingga strategi optimalisasi pengelolaan sektor minyak dan gas (migas) nasional.
Diuraikan tiga startegi itu yakni;
"Salah satu yang sudah dibuat adalah Satgas Ketahanan Energi dan Hilirisasi, ketuanya Pak Menteri Bahlil dan wakil ketuanya ada sembilan menteri," ujarnya, Sabtu(14/062025)
Diyakininya, strategi itu akan menjawab tantangan investasi yang beberapa tahun sebelumnya sangat dikeluhkan oleh para pemilik modal.
“Hambatan utama yang sering dihadapi investor itu, mereka kayak dipalak dari awal, Jadi skema investasinya itu seakan-akan mereka harus menanggung risiko tinggi, bagi-baginya mereka tidak terlalu besar dan birokrasi yang berbelit-belit sehingga mereka juga malas. Itu hambatan utama yang kita perbaiki dan telah berhasil tahun ini,” ungkapnya.
“Birokrasinya juga masih terlalu rumit, Ini yang harus kita benahi agar Indonesia bisa jadi negara yang ramah investasi, khususnya di sektor strategis seperti migas,” tandasnya. (*)