TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Setelah vakum selama tujuh tahun, Festival Teater Remaja Nusantara (FTRN) kembali hadir di Yogyakarta.
Ajang dua tahunan yang mempertemukan pelajar SMA dari berbagai daerah di Indonesia itu tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga wadah pembinaan bagi generasi muda yang menekuni seni teater.
Sebanyak 10 kelompok teater pelajar dari Sumatra, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Banten mengikuti FTRN 2026 yang berlangsung pada 3 sampai 8 Agustus 2026.
Festival dibuka pada 3 Agustus 2026, dilanjutkan parade pertunjukan pada 4 sampai 7 Agustus 2026, kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang pada 8 Agustus 2026.
Para peserta memperebutkan Piala Juara Gubernur DIY serta Piala Aktor dan Aktris Terbaik dari GKR Mangkubumi.
Ketua Pelaksana FTRN 2026, Dinda Afrillia, mengatakan festival ini merupakan agenda rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta yang sebelumnya telah digelar pada 2013, 2015, 2017, dan 2019.
"Setelah 2019 sempat vakum karena pandemi COVID dan beberapa kendala lainnya. Tahun ini kami membangun kembali agenda ini melalui FTRN kelima," ujarnya.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Sebanyak 31 kelompok teater sekolah dari berbagai daerah mendaftar, namun hanya 10 kelompok yang lolos kurasi berdasarkan aspek keaktoran, penyutradaraan, dan artistik.
Seluruh peserta diwajibkan memilih satu dari empat naskah realis yang telah ditentukan panitia.
Menurut Dinda, pemilihan naskah realis dilakukan karena menjadi dasar penting dalam pembelajaran akting bagi pelajar.
"Basic acting itu sebenarnya dimainkan melalui teater realis. Karena itu kami ingin peserta memperkuat fondasi akting mereka melalui naskah-naskah tersebut," katanya.
Baca juga: Buntut Panjang Komentar Nirempati, Oknum PPDS UGM Tidak Boleh Praktik di RSUP Dr. Sardjito
Mengusung tema 'Temu Taut', festival tahun ini juga ingin menjadi ruang pertemuan antarpelajar, seniman, akademisi, dan komunitas teater dari berbagai daerah.
Melalui interaksi selama festival, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman tampil di panggung, tetapi juga memperluas jejaring, bertukar pengetahuan, dan memperkaya wawasan mengenai dunia teater.
Selain itu, FTRN 2026 juga dikemas sebagai festival yang ramah lingkungan.
Panitia mendorong peserta memanfaatkan kembali barang bekas maupun properti yang sudah ada sebagai elemen artistik pertunjukan sehingga mampu mengurangi limbah produksi setelah pementasan.
Tidak hanya menyajikan kompetisi, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung seperti talkshow, penampilan band lokal, workshop, hingga sesi evaluasi tertutup bersama dewan juri setelah setiap kelompok menyelesaikan pementasan.
Pada hari terakhir, peserta juga memperoleh workshop khusus mengenai keaktoran, penyutradaraan, dan artistik agar ilmu yang didapat dapat dikembangkan kembali di sekolah maupun daerah asal masing masing.
Dosen Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta sekaligus juri festival, Nanang Arisona, menilai sejak awal FTRN memang dirancang untuk membangun ekosistem teater pelajar, bukan sekadar mencari pemenang.
"Usia SMA merupakan masa membangun fondasi. Tidak hanya kemampuan bermain teater, tetapi juga mengelola emosi, membangun kebersamaan, dan belajar berkompetisi secara sportif," katanya.
Menurut Nanang, workshop dan evaluasi yang menyertai festival menjadi bekal penting bagi peserta ketika kembali ke daerah masing masing. Dari lima kontingen yang telah tampil, ia melihat potensi para pemain sangat menjanjikan.
Meski demikian, ia menilai masih diperlukan penguatan pada aspek teknis, mulai dari penyutradaraan, pembangunan karakter, hingga pemanfaatan artistik dan musik agar benar benar menjadi bagian dari pertunjukan, bukan sekadar pelengkap.
"Potensinya bagus. Yang perlu dikejar adalah hal hal teknis. Artistik jangan hanya menjadi dekorasi, tetapi harus menjadi bagian dari permainan. Musik juga masih membutuhkan pendampingan lebih," ujarnya.
Ia juga menilai kualitas peserta dari berbagai daerah tidak kalah dengan kelompok teater pelajar di Yogyakarta.
Perbedaannya lebih banyak dipengaruhi tradisi latihan, kualitas pendamping, dan manajemen ekstrakurikuler di masing masing sekolah.
"Secara keseluruhan banyak pertunjukan yang layak dinikmati. Potensi pemainnya besar. Tinggal bagaimana lingkungan latihan dan pendampingannya bisa terus diperkuat agar mereka berkembang lebih maksimal," tutup Nanang. (*)