TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners, saat mendengar pengobatan tradisional Jawa, apa yang pertama terlintas di pikiran?
Banyak orang mungkin akan menjawab jamu.
Jawaban tersebut tidak salah karena jamu memang sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat selama ratusan tahun.
Namun, pengobatan dalam Primbon Jawa sebenarnya tidak berhenti pada segelas ramuan herbal.
Namun, tahukah Tribunners?
Dalam Primbon Jawa, cara mengobati penyakit ternyata tidak berhenti pada segelas jamu.
Masyarakat Jawa tempo dulu mengenal berbagai metode penyembuhan.
Ada yang diminum, dioleskan, ditempelkan, bahkan disertai doa dan ritual tertentu.
Cara-cara tersebut lahir dari pandangan masyarakat Jawa tentang kesehatan.
Bagi mereka, sakit bukan sekadar tubuh yang sedang bermasalah.
Penyembuhan juga dipandang sebagai upaya mengembalikan keseimbangan hidup.
Dilansir dari jurnal ilmiah Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa karya Bani Sudardi, pengobatan tradisional dalam Primbon Jawa dibagi menjadi dua kelompok besar.
Pertama, pengobatan menggunakan ramuan alami.
Kedua, pengobatan yang melibatkan unsur ritual sesuai kepercayaan masyarakat saat itu.
Lalu, seperti apa bentuk pengobatannya? Berikut penjelasannya.
1. Jamu dan Cekok
Jamu menjadi bentuk pengobatan alami yang paling populer hingga saat ini.
Ramuan ini memanfaatkan racikan tanaman obat dan rempah yang diminum untuk menjaga serta memulihkan kesehatan.
Selain jamu, Primbon Jawa juga mengenal metode cekok.
Berbeda dengan jamu yang diminum secara mandiri, cekok merupakan teknik meminumkan ramuan secara langsung biasanya diberikan kepada anak-anak atau pasien yang kesulitan meminum obat sendiri.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sudah mengenal pengobatan berbahan alami sejak lama.
Bahkan, kebiasaan itu masih bertahan hingga sekarang melalui berbagai produk jamu modern.
2. Boreh
Tidak semua obat harus diminum.
Masyarakat Jawa juga mengenal boreh sebagai pengobatan luar.
Boreh berupa ramuan yang dioleskan atau digosokkan pada bagian tubuh tertentu.
Menariknya, jurnal tersebut menjelaskan bahwa beberapa naskah Primbon Jawa menyesuaikan bahan boreh dengan bagian tubuh yang sedang sakit.
Hal itu memperlihatkan bahwa pengobatan tradisional tidak dilakukan secara sembarangan.
Ada aturan dan pertimbangan tertentu yang dipercaya dapat membantu proses penyembuhan.
3. Parem, Pilis, dan Tapel
Selain boreh, terdapat beberapa racikan obat luar lainnya:
Cara pemakaiannya pun disesuaikan dengan kondisi orang yang sedang menjalani pengobatan.
4. Suwuk
Tidak semua proses penyembuhan dilakukan menggunakan tanaman obat.
Primbon Jawa juga mengenal suwuk.
Suwuk merupakan pengobatan yang disertai doa atau bacaan tertentu.
Bagi masyarakat Jawa, kesehatan fisik sangat terikat dengan ketenangan batin.
Doa dipandang sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk menenangkan jiwa pasien sekaligus melengkapi usaha fisik.
5. Tebusan dan Kenduri
Pada kondisi tertentu, dikenal pula tebusan atau kenduri.
Keduanya merupakan ritual yang dilakukan sesuai tradisi masyarakat Jawa.
Ritual tersebut menjadi simbol permohonan keselamatan dan keseimbangan hidup.
Bagi masyarakat saat itu, proses penyembuhan tidak hanya menyasar gejala penyakit.
Hubungan manusia dengan alam dan kehidupan spiritual juga dipercaya perlu dipulihkan.
Mengapa Metodenya Beragam?
Jika diibaratkan, pengobatan modern bekerja seperti memperbaiki mesin yang rusak.
Bagian yang bermasalah akan diperiksa dan diobati.
Sementara itu, masyarakat Jawa tempo dulu memiliki cara pandang yang berbeda.
Mereka melihat manusia seperti sebatang pohon.
Saat daun mulai menguning, perhatian tidak hanya tertuju pada daunnya.
Akar, tanah, air, dan lingkungan sekitar juga ikut diperhatikan.
Pandangan itulah yang membuat metode pengobatan dalam Primbon Jawa menjadi sangat beragam.
Ramuan herbal menjadi salah satu ikhtiar.
Doa dan ritual melengkapi cara masyarakat mencari kesembuhan sesuai keyakinan pada masanya.
Tribunners, terlepas dari berkembangnya ilmu kedokteran modern, pengobatan tradisional dalam Primbon Jawa tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya.
Melalui berbagai metode tersebut, terlihat bagaimana leluhur Jawa berusaha memahami kesehatan dengan pengetahuan yang mereka miliki.
Sebagian metodenya masih bertahan hingga sekarang.
Sebagian lainnya menjadi jejak sejarah yang memperkaya khazanah budaya Nusantara. (MG Natasya Aulia)