Tribunlampung.co.id, Kota Metro - Musim kemarau kerap menjadi tantangan bagi peternak ruminansia karena ketersediaan pakan hijauan yang menurun. Namun, kondisi berbeda justru dirasakan peternak kambing gembel di kawasan Mulyojati 16B, Kota Metro.
Baca juga: Kapolres Way Kanan Tekankan Soliditas, Disiplin, hingga Cek Randis dan Senpi Dinas
Bagi mereka, musim kemarau setelah panen padi menjadi waktu yang menguntungkan. Lahan persawahan yang telah dipanen dimanfaatkan sebagai area penggembalaan bebas atau sistem umbar, sehingga kambing dapat mencari pakan secara langsung di lapangan.
Pak Wanto, peternak kambing gembel yang telah lebih dari 20 tahun menjalankan usaha ternak, menyebut ketersediaan pakan sangat bergantung pada siklus tanam di wilayahnya.
Menurutnya, musim kemarau bukan menjadi kendala selama lahan persawahan sekitar sudah memasuki masa pascapanen.
"Kalau pas musim tanam, lahan gembala memang terbatas dan peternak harus rajin ngarit. Tapi kalau sudah masuk musim panen seperti sekarang, pakan justru melimpah dan kambing lebih mudah diumbar di area persawahan," tutur Pak Wanto saat ditemui di persawahan Mulyojati 16B, Kamis (6/8/2026).
Pola pemeliharaan dengan sistem umbar diterapkan berbeda oleh setiap peternak, menyesuaikan jumlah kambing dan aktivitas harian masing-masing.
Pak Wanto, yang saat ini memelihara sekitar 12 ekor kambing gembel, memilih menggembalakan ternaknya pada sore hari.
"Kalau punya saya cuma sore, dari jam setengah dua sampai jam lima sore. Setelah kambing dibawa pulang ke kandang, tetap masih diberi pakan tambahan," katanya.
Selain membantu memenuhi kebutuhan pakan, beternak kambing gembel juga menjadi usaha yang fleksibel bagi peternak lokal. Penjualan ternak dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan melalui jaringan pedagang perantara atau blantik.
"Pemasarannya sama saja, lewat blantik juga cepat. Kalau kita butuh atau mau jual, ya tinggal jual saja. Untuk kambing gembel kacang usia dua tahun ke atas, harganya biasanya sekitar Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per ekor," ujar Pak Wanto.
Sementara itu, Pak Lasio, peternak lain di kawasan tersebut yang memelihara tiga ekor kambing gembel, menerapkan pola penggembalaan dua kali sehari.
"Pagi sekitar jam 8 sampai jam 11 siang, lalu sore diumbar lagi sampai jam 5 sore. Kalau sudah rutin diumbar, kambing tidak perlu banyak pakan tambahan di kandang," jelasnya.
Menurut Pak Lasio, perawatan kambing saat musim kemarau justru relatif lebih mudah. Salah satu perlakuan yang dilakukan adalah rutin memandikan kambing agar kondisi tubuh tetap nyaman saat cuaca panas.
Menariknya, para peternak menilai musim hujan justru menjadi periode yang lebih menantang dibandingkan kemarau. Saat curah hujan tinggi, kambing sulit digembalakan karena cenderung tidak menyukai rumput basah.
"Kalau musim hujan kambing tidak mau makan kalau rumputnya basah ada airnya. Jadi tidak bisa diumbar dan peternak harus kerja ekstra untuk ngarit sendiri di kandang," ungkap Pak Lasio.
Bagi peternak kambing gembel di Mulyojati 16B, perubahan musim bukan sekadar hambatan, melainkan bagian dari pola beternak yang harus disiasati. Ketika sawah pascapanen menyediakan pakan alami saat kemarau, peternak memanfaatkannya untuk menjaga produktivitas ternak sebelum kembali menyesuaikan strategi saat musim hujan tiba.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)