20 Tahun Mengabdi di SD Pedalaman Rohul, Guru Soekarno Tiap Hari Lewati Jalan Terjal Rawan Longsor
Ariestia August 06, 2026 04:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, ROKAN HULU - Pengabdian seorang guru tidak selalu berlangsung di ruang kelas yang nyaman.

Bagi Soekarno Nasution, guru kelas 6 SDN 06 Rambah, Dusun Sungai Bungo, Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, mengajar merupakan perjalanan panjang yang penuh perjuangan.

Sejak tahun 2007, Soekarno telah mengabdikan dirinya di sekolah tersebut.

Kini, pengabdiannya memasuki tahun ke-20. 

Hampir setiap hari dalam dua dekade ini ia jalani dengan berbagai suka dan duka, termasuk harus menempuh jalan terjal, curam dan rawan longsor untuk sampai ke sekolah.

Jarak sekolah sebenarnya hanya sekitar 10 kilometer dari kawasan perkotaan.

Namun, kondisi jalan membuat perjalanan menuju sekolah membutuhkan waktu jauh lebih lama. 

Bagi yang sudah terbiasa, perjalanan dapat ditempuh sekitar 30 menit hingga satu jam.

Sedangkan bagi yang belum terbiasa melewati medan tersebut, waktu tempuh bisa lebih dari satu jam.

Jalan menuju sekolah lebih menyerupai akses menuju kawasan perkebunan.

Di kiri dan kanan terdapat jurang, sementara posisinya berada di kawasan perbukitan Bukit Barisan. 

Pengendara harus terlebih dahulu mendaki hingga ke atas bukit, kemudian kembali menuruni jalan.

Kondisi jalan juga kerap mengalami longsor saat hujan turun, sehingga semakin menyulitkan guru dan masyarakat yang melintas.

Bagi Soekarno, kondisi jalan tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Ia mengaku beberapa kali pernah terjatuh ketika melintasi jalan menuju sekolah. 

Namun, menurutnya, kondisi tersebut justru lebih sering dialami oleh rekan-rekan guru perempuan yang harus melewati medan yang sama.

"Kalau untuk saya pribadi Alhamdulillah tidak terlalu banyak kendala. Memang ada sekali dua kali, tiga kali jatuh. Tapi untuk guru rekan-rekan kerja yang lain, seperti ibu-ibunya itu hampir dan sering sekali jatuh dan mengalami hal yang kurang baik di jalan," ujar Soekarno.

Guru SD 006 Rambah Dusun Sungai Bungo Soekarno Nasution

Meski berbagai keterbatasan harus dihadapi, Soekarno mengaku tidak pernah berniat meninggalkan sekolah tersebut.

Setelah hampir 20 tahun mengajar, ia merasa sudah cocok dengan lingkungan sekolah dan masyarakat di sana. 

Statusnya saat ini sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tidak membuatnya mengurangi semangat untuk terus mengabdi.

"Alhamdulillah sampai tahun ke-20 ini saya mengajar di sini, saya tidak ada niatan untuk pindah ke sekolah lain. Karena saya merasa saya sudah cocok di sini," ujarnya.

Keputusan untuk bertahan juga didasari kekhawatirannya terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.

Menurut Soekarno, tidak mudah mencari guru yang bersedia ditempatkan di sekolah itu karena lokasinya yang jauh dari pusat kota dan akses jalannya yang sulit.

"Kalau seandainya pun saya akan pindah, bagaimana nasib sekolah ini. Karena rata-rata orang di Kecamatan Rambah ataupun di luar Rambah hampir tidak ada yang mau ditempatkan mengajar di sini," ujarnya.

Keterbatasan bukan hanya soal akses jalan dan tenaga pendidik.

Sekolah tersebut juga hanya memiliki tiga ruang belajar. 

Ruangan yang tersedia harus digunakan secara bergantian untuk enam tingkat kelas, sehingga setiap ruang kelas ditempati oleh dua kelompok belajar.

Kondisi jumlah siswa juga sangat minim. Dari kelas 1 hingga kelas 6, total siswa yang belajar di SDN 06 Rambah tersebut hanya 18 orang.

Bahkan, pada penerimaan siswa baru tahun ini, hanya satu anak yang tercatat sebagai siswa baru.

Di sekolah tersebut, tenaga pendidik yang menjalankan kegiatan belajar mengajar terdiri dari empat guru kelas, satu guru agama, kepala sekolah dan operator.

Di tengah keterbatasan tersebut, bahkan masih terdapat guru honorer yang tetap mengajar meski belum mendapatkan gaji.

Meski jumlah siswa sedikit, ruang belajar terbatas dan perjalanan menuju sekolah penuh risiko, Soekarno bersama rekan-rekan gurunya tetap bertahan.

Setiap hari mereka menaklukkan jalan terjal dan rawan longsor demi memastikan anak-anak di pedalaman Rambah tetap mendapatkan hak untuk belajar.

Bagi Soekarno, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar perjalanan sejauh 10 kilometer.

Ada pengorbanan, risiko dan tanggung jawab yang harus dijalani. 

Hampir 20 tahun berlalu, jalan terjal dan curam itu masih menjadi bagian dari rutinitasnya.

Namun, bagi seorang guru, keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses bukan alasan untuk meninggalkan anak-anak didiknya.

(Tribunpekanbaru.com/Nasuha Nasution)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.