Puluhan Siswa SD di Prambanan Sleman Alami Keracunan, Tiga Orang Dilarikan ke Rumah Sakit
Hari Susmayanti August 06, 2026 05:14 PM

Kasus keracunan pangan dilaporkan terjadi di wilayah Prambanan, Kabupaten Sleman pada Senin (3/8/2026) lalu. Belum diketahui penyebabnya pastinya namun dugaan awal berasal dari menu MBG.

Siswa yang mengalami gejala keracunan berjumlah 25 orang. Bahkan tiga orang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Kasus keracunan ini masih diselidiki oleh pihak terkait.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman langsung melakukan pelacakan epidemiologi (PE) untuk mencari sumber penularan, mengetahui pola penyebaran.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Cahya Purnama mengatakan, sejumlah sampel makanan yang sempat dikonsumsi sudah didapat dan telah dikirim untuk diuji di Balai Laboratorium,  Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun demikian, sejauh ini, dinas belum bisa menyimpulkan sumber kasus dugaan keracunan massal yang terjadi di Prambanan ini karena apa. Apakah karena MBG atau bukan. Sebab, saat ini masih melakukan pelacakan epidemiologi. 

"Itu kita belum bisa memastikan terduganya karena apa. Karena masih harus butuh pemeriksaan di laboratorium.Ada beberapa sekolah. Tapi jumlahnya berapa, ya itu masih dalam penyelidikan epidemiologi," kata Cahya, Kamis (6/8/2026). 

Cahya mengungkapkan, mereka yang terdampak keracunan pangan biasanya mengalami gejala sakit perut, diare, muntah, dan sebagainya.

Namun, menurut dia, kasus keracunan yang muncul di Prambanan ini saat ini relatif sudah terkendali. Evaluasi dengan melibatkan Satgas MBG Kabupaten Sleman terus dilakukan agar kasus serupa tidak terulang. 

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati mengatakan, sejumlah sampel makanan telah diambil dan diperiksa ke laboratorium.

Adapun sampel yang diambil adalah menu yang diberikan kepada siswa di hari Senin (3/8/2026) dan Selasa (4/8/2026).

Menu hari pertama (Senin) berupa nasi, ayam goreng mentega, kacang panjang rebus, orek tempe dan buah anggur. 

Sedangkan hari kedua (Selasa) berupa ikan fillet krispi saus tiram, tahu bumbu kuning, buncis, tumis jagung dan irisan buah semangka.

Semua sampel makanan tersebut telah dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Adapun terkait jumlah siswa yang bergejala disebut ada puluhan anak.

"Yang mengeluhkan itu tidak sebanyak yang ada di dalam sekolah di situ ya. Yang bergejala itu 25 orang," kata Yuli. 

Mantan Kepala Puskesmas Ngaglik ini mengungkapkan, dari jumlah tersebut, 3 orang yang bergejala sempat dibawa ke rumah sakit.

Dalam kasus ini, pihaknya telah melakukan penanganan sesuai dengan atandar operasional prosedur (SOP) kejadian luar biasa. Pasien terdampak diterapi di fasilitas kesehatan. 

Berdasarkan data yang dihimpun, kasus ini terjadi di beberapa sekolah tingkat dasar di Prambanan.

Sedikitnya, ada 4 SD yang disuplai menu makanan dari SPPG yang sama.

Namun demikian, hanya 3 sekolah yang siswanya bergejala sakit.

Sementara 1 sekolah tidak ada satupun yang sakit.

Sejauh ini belum dipastikan apakah keracunan pangan ini akibat mengonsumsi menu MBG atau bukan. 

Bupati Sleman, Harda Kiswaya berharap, pengawasan terhadap tata kelola program ini harus terus diadakan secara terprogram dan terinci.

Apa saja yang harus diteliti tentang makanan itu sehingga kemungkinan keracunan dapat dicegah.

Menurutnya, kasus keracunan di Prambanan sejauh ini sudah ditangani dengan baik. Evaluasi juga telah dilakukan. 

"Ya pasti (ada evaluasi). Nek ngono ya pasti ada. Yang jelas dari Dinas Kesehatan sudah sana, sudah terkondisikan," kata dia.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.