Mastitis Bisa Datang Lagi Meski Sudah Sembuh, Dokter Beberkan Penyebabnya
willy Widianto August 06, 2026 06:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nyeri pada payudara, disertai bengkak, kemerahan, hingga demam kerap membuat ibu menyusui khawatir mengalami mastitis.

Baca juga: Angka Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia Meningkat, WHO: Menyusui Bentuk Kasih Sayang Terbesar

Tak sedikit pula yang mengira peradangan pada payudara tersebut hanya terjadi sekali selama masa menyusui. Padahal, mastitis dapat muncul berulang meski sebelumnya sudah sembuh. 

Kondisi ini umumnya bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu kebiasaan sehari-hari yang sering luput disadari, seperti pengosongan payudara yang tidak sempurna, jadwal menyusui yang tidak teratur, hingga tingginya tingkat stres.

Karena itu, mengenali penyebab sejak dini dinilai jauh lebih penting agar mastitis tidak terus berulang dan mengganggu proses menyusui.

Dokter Konselor Laktasi RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC, mengatakan mastitis berulang umumnya terjadi karena penyebab utamanya belum benar-benar diatasi. Oleh sebab itu, pengobatan saja tidak cukup apabila kebiasaan yang menjadi pemicunya tidak diperbaiki.

"Jadi mastitis itu biasanya berulang karena satu, pengosongan payudaranya itu tidak sempurna," ujar dr. Anastasia dalam diskusi virtual, Kamis (6/8/2026).

Menurut dr. Anastasia, penyebab paling sering mastitis kambuh adalah ASI yang tidak keluar secara maksimal dari payudara.

Kondisi tersebut umumnya terjadi karena posisi menyusui atau pelekatan mulut bayi belum tepat sehingga proses menyusu tidak berlangsung optimal. Akibatnya, masih ada ASI yang tertinggal di dalam payudara.

Selain menyebabkan penumpukan ASI, pelekatan yang kurang tepat juga dapat membuat puting lecet. Luka pada puting menjadi pintu masuk bakteri ke jaringan payudara sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi dan mastitis.

Karena itu, ibu menyusui disarankan memastikan posisi bayi dan teknik pelekatan sudah benar sejak awal masa menyusui agar pengosongan payudara berlangsung optimal.

Penyebab lain yang juga sering memicu mastitis adalah terlambat mengosongkan payudara.

Idealnya, payudara dikosongkan setiap dua hingga tiga jam, baik melalui proses menyusui langsung maupun memompa ASI.

Namun, tidak sedikit ibu yang melewatkan jadwal tersebut karena kesibukan bekerja, kelelahan, atau aktivitas lainnya.

Ketika ASI tertahan terlalu lama, payudara menjadi penuh dan membengkak. Kondisi ini dapat memicu penyumbatan saluran ASI (clogging) yang bila tidak segera diatasi dapat berkembang menjadi mastitis.

Dr. Anastasia menegaskan bahwa menjaga jadwal menyusui atau memompa ASI secara konsisten merupakan salah satu langkah paling efektif untuk mencegah kekambuhan.

Tak hanya dipengaruhi kondisi fisik, kesehatan mental ibu juga berperan terhadap munculnya mastitis.

Baca juga: Payudara Bengkak dan Mengeras? Konselor Laktasi Ungkap Kapan Harus Waspadai Mastitis

Menurut dr. Anastasia, stres berkepanjangan dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga ibu menjadi lebih rentan mengalami infeksi.

Selain itu, kurang tidur akibat harus bangun setiap beberapa jam untuk menyusui bayi juga dapat memperburuk kondisi tubuh.

Karena itu, menjaga kondisi emosional selama masa menyusui sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.

Dr. Anastasia menekankan bahwa keberhasilan menyusui bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya.

Bantuan sederhana seperti menemani ibu saat menyusui, membantu pekerjaan rumah, atau bergantian menggendong bayi setelah menyusu dapat mengurangi kelelahan dan stres yang dialami ibu.

"Yang ketiga adalah dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar karena sering kali Mami cukup kelelahan mengikuti jadwal baru, harus bangun tiap dua sampai tiga jam. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat membantu mengurangi stres dan kelelahan yang dapat menurunkan risiko mastitis," jelasnya.

Selain menjaga jadwal menyusui, dr. Anastasia mengimbau para ibu tidak menunda berkonsultasi apabila mulai merasakan keluhan pada payudara.

Konsultasi laktasi bahkan dapat dilakukan sejak masa kehamilan agar ibu dan pasangan memahami teknik menyusui yang benar sebelum bayi lahir.

Pendampingan juga dapat dilakukan selama masa menyusui apabila muncul berbagai kendala, mulai dari pelekatan bayi yang kurang tepat, puting lecet, hingga produksi ASI yang tidak optimal.

"Kalau misalkan ada keluhan, sesegeralah secara dini konsul laktasi untuk mendapat bantuan," katanya.

Baca juga: WHO: Menyusui Bisa Cegah 400 Ribu Kematian Bayi Tiap Tahun, Dukungan untuk Ibu Masih Kurang

Ia menegaskan bahwa semakin cepat penyebab mastitis dikenali, semakin besar peluang mencegah peradangan berkembang menjadi lebih berat.

Dengan teknik menyusui yang benar, pengosongan payudara secara teratur, serta dukungan keluarga yang memadai, risiko mastitis berulang dapat ditekan sehingga ibu dapat menjalani proses menyusui dengan lebih nyaman, aman, dan optimal bagi tumbuh kembang bayi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.